Opini

Refleksi 2020 : Persatuan Menghidupkan Kita, Oleh : Dr. Winner Agustinus Siregar, SH., MH


KENDARIPOS.CO.ID — Bagaimana kita merefleksi, memberi catatan atas peristiwa atau momentum yang terjadi sepanjang tahun ini, bergantung dari perspektif kita melihat dan membaca situasi serta mengalaminya, atau sepanjang mana ingatan kita sejak awal tahun, dan kemudian memberi makna, menarik nilai pembelajaran, dan membubuhinya refleksi singkat, penilaian kita akan situasi ini.

Dr. Winner Agustinus Siregar, SH., MH, (Akademisi Hukum Tata Negara Universitas Sulawesi Tenggara, Direktur Celebes Politica Group)

Jika melihatnya dari kerangka optimisme, maka mungkin saja kita akan menganggap bahwa ini tahun penuh tantangan berat, sebagai uji kemampuan survival (bertahan) kita dalam kerangka manapun, dari keluarga hingga perusahaan serta pemerintah, semacam test case (uji coba) adaptasi kita dengan perubahan yang berlangsung mendadak dan serta merta.

Tetapi jika melihatnya dengan pesimisme, maka tuduhan paling bertanggung-jawab mestilah dilekatkan kepada pemerintah pusat hingga daerah yang lambat menjalankan tanggung jawabnya. Negara bertanggung jawab, paling tidak secara teoritis demikian adanya. State actor (aktor negara) bertanggung jawab.

Awal Tahun Yang Berat
Pada awalnya tampak biasa, kegembiraan memasuki tahun baru 2020 dengan kekhawatiran terbatas di kalangan tertentu pemerintahan belum terlihat, dengan adanya potensi penyebaran virus dari Wuhan China, maka aktifitas Januari-awal Maret berlangsung biasa saja.

Tiada upaya pencegahan yang memadai, bahkan dapat dikatakan tiada upaya yang cukup untuk menduga bahwa virus itu akan menyebar sebagaimana virus lainnya, bahkan menyepelekan hal tersebut terlalu nampak melalui jokes (lelucon).

Dan pandemi pun datang, sampai ke Indonesia, dan semua gelagapan menghadapinya, mengadaptasinya dalam berbagai kebijakan kepemimpinan, parsial dan sektoral sifatnya, sampai akhirnya kasus korupsi dalam frame bantuan sosial masa pandemi pun mendapati pelakunya.

Kepemimpinan berjalan sektoral dan lambat, koordinasi menjadi barang mewah, kerjasama lintas sektor tidak maksimal, karena tidak ada figur yang mampu (men-drive) memastikan kebijakan berjalan dengan dasar pengambilan keputusan yang tepat, kerangka dasar yang tepat, sasaran tercapai dan memungkinkan dievaluasi (lihat https://kendaripos.co.id/2020/04/coviid-19-dan-ujian-kepemimpinan-publik-oleh-winner-a-siregar/.

Menggerakkan Roda Pilkada
Melanjutkan kembali tahapan pilkada yang sempat terhenti adalah isu yang awalnya debatable (perdebatan) dari banyak aspek (lihat https://kendaripos.co.id/2020/06/menyoal-pilkada-ditengah-pandemi-oleh-dr-winner-a-siregar-s-h-m-h/.
Hingga pelaksanaan pilkada selesai dan kini di tahap perselisihan hasil di Mahkamah Konstitusi, penilaian umum soal pilkada berlangsung dengan baik meski masih ditengah pandemi, dan banyak catatan lain menyertainya.

Satu catatan penting adalah mesti terus dilakukan peningkatan penguatan kapasitas penyelenggara tingkat paling bawah (kelompok penyelenggara pemungutan suara), supaya profesionalisme penyelenggara semakin teruji, dan jika mungkin adalah penambahan masa kerja masing-masing penyelenggara ad-hoc selama satu bulan, sebagai kesempatan penuh untuk belajar bukan sekadar aspek teknis penyelenggaraan tetap juga aspek pengetahuan kepemiluan

Banyaknya PSU (pemungutan suara ulang) secara umum menunjukkan, penyumbang terbesarnya karena ketidakcakapan penyelenggara secara umum. Pertanyaan berikut adalah apakah memungkinkan karena ketidakcakapan maka unsur kesengajaan dapat dikembangkan, dan kerangka lain semisal desain sengketa sedang disiapkan sedari awal melaui drama PSU? Perangkap yang diciptakan.

Pemilu pada pokoknya mengenai 2 hal pokok; hak untuk memilih dan hak untuk dipilih, sepanjang semua desain peraturan dan pelaksanaan memberi ruang terbuka yang luas dan sama maka keadilan pemilu diberi ruang yang cukup. Tentu pengawas pemilu harus memastikan bahwa keadilan pemilu terjaga (lihat https://beritamorut.com/2020/11/21/mencari-keadilan-pemilu-di-pilkada-morowali-utara/

Harapan besar kita bahwa melalui pilkada ini, mereka yang terpilih cakap secara kepemipinan, kapasitas, performa, jaringan, dan sadar bahwa mereka adalah kepemimpinan dengan basis konstitusional, melayani rakyat di daerahnya, berada diantara semua kelompok, to provide (menyediakan) dan services (melayani) adalah dua tugas pokok pemerintah pusat maupun daerah, bukan sekadar kandidasi (lihat https://kendaripos.co.id/2020/11/bukan-sekadar-kandidasi-pilkada-oleh-dr-winner-agustinus-siregar-sh-mh/

Bahwa mereka mesti bertindak adil dalam kepemimpinan, menjaga diri dari godaan korupsi, serta sedini mungkin menyiapakan upaya pencegahan di lingkungan pemerintahan daerah masing-masing (kerja sama dengan KPK misalnya), dengan muara akhir tata kelola pemerintahan yang transparan, partisipatif, dan akuntabel untuk kesejahteraan rakyat).

Soal-soal kesehatan, pendidikan, kesejahteraan adalah isu pokok yang mesti terus tersedia untuk dipenuhi dan dibaharui dalam segala aspek, baik sistem, struktur, maupun kultur (meski kita kerap melupakan jaminan hari tua bagi para pekerja). Negara kesejahteraan modern memastikan jaring pengaman sosial (social security net) tersedia dan memadai (jaminan kesehatan, jaminan hari tua, tunjangan bagi penggangguran).

Situasi Politik Hukum
Salah satu soal yang menyita perhatian dalam bidang hukum adalah Undang-undang Omnibus Law, rasanya semua energi kita tersita dalam perdebatan terkait dan demonstrasi serta penegakan hukum terkait (lihat https://kendaripos.co.id/2020/10/ribut-ribut-omnibus-law-oleh-dr-winner-agustinus-siregar-sh-mh/.

Kejutan (?) di penghujung tahun 2020 adalah reshuffle kabinet dan bergabungnya salah satu rival politik utama Presiden Joko Widodo dan KH Maruf Amin dalam kontestasi pilpres 2019. Secara umum lebih banyak kegembiraan terkait ini,dan Presiden Jokowi saya kira mendapat insentif popularitas terkait ini, bahkan ada meme yang menjelaskan pilih Jokowi dan Maruf bonus Prabowo dan Sandi. Happy ending?

Dari sisi persatuan mungkin publik membacanya demikian, keterbelahan politik makin tidak ntampak, jadi kalo ada yang berbeda, gampang mengidentifikasinya, membedakannya dan menyelesaikannya.

Kita mesti melihat lebih jauh, jangan sampai memang tidak ada beda dalam gagasan politik mereka, apalagi aksi politik. Tidak ada pembeda, diferensiasi. Jadi sama saja alias sami mawon. Semuanya politisi taktis (tacticion politicion) yang akan menggunakan berbagai cara isu, kepentingan untuk mendapat dukungan suara dalam pemilu, petimbangan voters (pemilih) lebih mengemuka.

Kalaulah begini adanya, maka politik kita hanya pada level yang paling bawah, mendapat dan membagi kekuasaan semata, membagi sumber daya politik yang dibagi setelah didapat. Lebih jauh dapat saja bermakna bahwa tidak ada gagasan politik besar yang lahir dari pemikiran politik dekade akhir ini, yang kiranya menjadi sumbangsih keilmuan politik untuk aktor politik.

Kehadiran Sandi dalam kabinet dan sederet nama lain mengkonfirmasi, bahwa karir politik penting di pemerintahan bermakna ganda, karir politik dan momentum menanti perubahan politik, atau legasi yang dapat diwariskan -nama baik atau jangan sampai juga ada rencana bangun dinasti politik (lihat https://kendaripos.co.id/2020/08/dinasti-politik-dan-politik-ranjang-oleh-dr-winner-agustinus-siregar-sh-mh/).

Kabar yang kurang enak dari pilkada ini adalah makin menjamurnya dinasi politik (anak-anak mantu), besan, ipar atau oleh karena politik ranjang (lihat https://kendarinews.com/index.php/2020/08/13/dinasti-politik-dan-politik-ranjang-oleh-dr-winner-agustinus-siregar-sh-mh/.

Dinamika Sosial
Relasi antar warga sangat berkait dengan pandemi yang masih berlangsung. Aktifitas sosial keagamaan dapat dikatakan menurun intensitasnya, salah satu faktornya karena kesadaran akan protokol kesehatan yang masih berlangsung.

Aktifitas sosial keekonomian berlangsung sebaliknya, kegiatan ekonomi dan interaksi sosialnya cenderung abai protokol kesehatan, lihatlah pasar-pasar kita ramai dengan situasi susah menjaga jarak, termasuk di kedai makan-minum yang tersedia, termasuk tempat berkumpul -nomgkrong (lihat https://kendaripos.co.id/2020/05/dilema-pemerintah-dalam-penanganan-covid-19-oleh-dr-winner-a-siregar-mh/.

Aktifitas sosial umum lainnya mulai terasa dengan padatnya kembali undangan nikahan kerabat, tetapi juga kurang seru kata beberapa kawan; ada undangan yang cukup mewah, di hotel yang baik, ada penyanyi, tapi makanan dalam kotak dan mesti dibawa pulang.

Penutup
Kita bergembira dan bersyukur bersama bahwa tahun 2020 akan segera berlalu, tahun yang berat bagi siapapun, dari persoalan dukungan bantuan sosial agar kebutuhan dasar terpenuhi, hingga permintaan keringanan pembayaran pinjaman atau skema pembiayaan baru karena kesulitan pembayaran.

Kita juga mesti membangun refleksi kita secara pribadi, kelompok, komunitas atau masyarakat secara umum. Dalam setiap momentum yang berlangsung, termasuk momentum untuk menggerakkan perubahan, kita berada dimana -menjadi penonton, aktornya, atau sekadar komentator.

Atau dalam banyak peristiwa untuk kebaikan bersama, sebenarnya kita bersama dengan pihak siapakah, yang menyumbang atau berkontribusi untuk kebaikan, membawa damai ataukah kita bersama pihak yang secara umum menyumbang untuk kerusakan lebih besar-merusakan perdamaian dan kedamaian -apakah dalam konteks ekologis, advokasi hak-hak rakyat, pemilu yang demokatis tanpa politik uang, dukungan kepada anti korupsi, pro perempuan dan anak, termasuk soal kebebasan beragama.

Anak-anak remaja dan pemuda tetaplah harapan terbaik kita semua, mendidik mereka dengan contoh yang baik adalah sarapan pagi terbaik yang dapat kita siapkan secara bersama. Mendidiknya dengan keterbukaan dan demokratisme adalah upaya yang bisa dikerjakan yang secara jangka panjang akan mengakrabkan dan membiasakan mereka dengan toleransi dan akseptansi serta aneka perubahan, dan ide-ide untuk perubahan dan perdamaian.

Anak-anak muda harus terus menggunakan waktunya untuk memaknai segala ruang dan tempat adalah kesempatan belajar untuk tumbuh dan kembang bersama. Organisasi bukan lagi ruang mengumpulkan massa semata, tapi ruang semai untuk ide kebaikan bersama.

Tidak ragu dan sungkan serta minder untuk melanjutkan pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi (jangan percaya istilah pendidikan tinggi cuma formalitas semata), tingkatkan kualitas dan kapasitas, profesionalitas adalah saran terbaik saaat ini. Kolaborasi hanya bisa terwujud diantara mereka yang terbiasa bersinergi dan mempunyai kapasitas sama dengan keunggulan berbeda (bukan lagi ruang untuk saling mengajari).

Maka dengan itu kita tetap optimis, penuh semangat, keyakinan memasuki tahun 2021 dengan segala misterinya, sambil terus meningkatkan iman (dan imun), pengharapan dan cinta kasih kepada Tuhan dan sesama. Kita semua seumpama energi baru untuk keluarga, kelompok, komunitas, masyarakat dimana kita berada -energi baru 2021, energi kita terbarukan terus menerus.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top