Nasional

Perguruan Tinggi Bantu Penurunan Stunting di Indonesia

KENDARINEWS.COM — Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) mendukung program penanganan kasus stunting yang terus digalakkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dukungan tersebut terwujud dalam program Kampus Siaga dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Adapun, program ini bekerja sama dengan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dan Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Bidang Gizi (Aipgi). Tujuannya adalah menggerakkan perguruan tinggi sehingga mendorong mahasiswa dalam aktivitas yang dilakukan di luar kampus demi membantu penanganan stunting.

“Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, memberikan peluang bagi mahasiswa kesehatan untuk dapat membantu menyelesaikan permasalahan mengenai stunting. Mahasiswa selama satu semester dapat mendampingi kasus stunting namun harus dilakukan diseminasi dan pengarahan oleh dosen sebelum langsung terjun ke lapangan,” jelas Ditjen Dikti Aris Junaidi.

Awalnya, program Kampus Merdeka terkait hak belajar tiga semester di luar program studi memang tidak berlaku bagi program studi kesehatan. Namun, Aris menambahkan, seiring berkembangnya waktu sudah banyak best practice yang sudah diimplementasikan oleh bidang kesehatan.

Misalnya, dalam kegiatan Kampus Merdeka berupa proyek kemanusiaan dan program relawan menggerakkan puluhan ribu mahasiswa kesehatan dalam penanganan Covid-19. Menurut Aris, kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka saat ini lebih fleksibel bagi mahasiswa kesehatan, mengingat kondisi sekarang yang sedang terjadi.

Di samping itu, menurut Aris, pendidikan tinggi juga berperan memberikan rekomendasi dari hasil kajian atau penelitian dalam penanganan stunting. Tidak kalah penting, implementasi praktik penanganan percepatan penurunan stunting di tingkat wilayah dengan melakukan edukasi dan promosi kepada masyarakat melalui pendekatan keluarga oleh kerja sama perguruan tinggi dengan lembaga terkait juga harus diperhatikan.

Senada dengan itu, Plt. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Kartini Rustandi mengungkapkan, adanya peran perguruan tinggi sangat membantu dalam meyakinkan para pemimpin daerah bahwa stunting bukan hanya urusan kesehatan.

“Selain itu juga membantu memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai permasalahan gizi dan isu gizi, serta pengabdian masyarakat perguruan tinggi dapat membantu mendata mengenai kasus yang ada sehingga dapat menjadi data yang utuh, lengkap dan terpadu,” pungkasnya. (jpg)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top