Nasional

Pakar Epidemiologi : Covid Masih Mengintai


KENDARINEWS.COM — Pakar Epidemiologi Sultra Dr. Erwin Jayadipraja mengatakan, kapan berakhirnya pandemik corona masih sulit diprediksi. Sebab, fakta dilapangan intensitas penyebaran virus tak kasat mata itu kian meningkat yang terukur dari pertambahan kasus. Secara eksplisit, dalam ilmu epidemiologi, ada tiga unsur untuk menganalisisnya. Yakni dari frekuensi jumlah kasus, distribusi penyebaran, dan determinan penyebab.

Dr. Erwin Jayadipraja

Dari aspek frekuensi jumlah kasus sajian data yang terpapar dan yang meninggal akibat covid-19 konsisten menunjukkan peningkatan setiap hari. Apalagi dibeberapa negara seperti Inggris dan Brazil ditemukan varian baru virus covid-19. Ini menunjukkan mutasi dari virus itu sendiri yang prosesnya terus berkembang. Secara umum, Covid masih bercokol dan menjadi ancaman di Sultra

“Kebijakan pemerintah yang berencana menghentikan lalu lintas datangnya orang dari luar negeri per tanggal 1 Januari nanti, merupakan langkah tepat. Kita berharap ini berlaku secara holistik bukan saja pada arus penerbangan, tapi darat dan laut pun mesti diterapkan. Sebagai upaya serius mencegah potensi masuknya virus varian baru itu yang kabarnya lebih ganas dari jenis virus yang kini merebak di Indonesia,” kata Dr. Erwin Jayadipraja kepada Kendari Pos, Selasa (29/12).

Dari aspek distribusi penyebaran, kata dia, pemerintah telah bekerja keras dan maksimal menggelar sosialisasi penerapan protokol kesehatan agar masyarakat terhindar dari paparan pandemik Covid-19. Namun realita sosial yang terjadi, kuantitas yang terjangkit Covid-19 terus meningkat. Ada dua faktor yang menyebabkan. Pertama, prokes memakai masker terkadang diabaikan karena karakter masyarakat menjunjung tinggi sikap santun. Sebagian masyarakat menganggap tidak sopan jika memakai masker saat bertemu kerabat atau keluarga.

“Kedua, terdapat kelompok masyarakat yang masih belum percaya adanya Covid-19. Di pasar, dan tempat umum tak sedikit yang tidak menerapkan protokol kesehatan (prokes). Kelompok ini berasumsi bahwa pandemi Covid hanya konspirasi belaka dan tidak nyata. Nanti sudah terinfeksi baru menyadari. Ini pemikiran keliru. Dari kelompok tersebut menjadikan kurva penyebaran Covid bergerak naik,” terang Dr. Erwin Jayadipraja.

Dosen Pascasarjana Universitas Mandala Waluya itu menjelaskan, untuk tingkat determinan penyebab terpapar Covid, sangat erat kaitannya dengan interaksi sosial masyarakat sehari-hari. Fakta sosial, kecenderungan menganggap kerabat dalam keadaan sehat saat berinteraksi langsung tanpa menerapkan prokes, menjadi bagian pemicu tertular pandemik. Karena bisa saja seseorang telah terinfeksi namun tanpa gejala atau biasa disebut OTG (Orang Tanpa Gejala). Karena itu, menumbuhkan kesadaran aktualisasi penerapan prokes harus senantiasa digaungkan.

Pandemik Covid akan terus mengintai kehidupan masyarakat. Adanya vaksin yang di programkan pemerintah sebagai solusi meningkatkan kekebalan tubuh manusia. Bukan untuk mengobati. Banyak persepsi keliru yang berkembang bahwa vaksin untuk mengobati virus. Padahal tidak seperti itu. Vaksin berfungsi untuk memperkuat imun manusia sehingga ketika terjadi invasi virus pada tubuhnya, maka kerja vaksin menangkalnya, mereduksi, atau menghancurkannya. Analoginya sama dengan vaksin polio bagi anak-anak. Yakni memperkuat kekebalan tubuh. Ketika ada virus polio menyerang maka tubuh mendeteksi dan sudah mengenalinya. Sehingga tidak akan memengaruhi kesehatan tubuh karena sudah ada vaksin yang menangkalnya.

“Terakhir, solusi jitu agar tetap terjaga dari paparan Covid, hanya dengan konsisten menerapkan prokes secara maksimal. Dan sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat dalam memerangi covid-19 wajib terjalin baik,” tandas Dr. Erwin Jayadipraja. (ali/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru


To Top