Opini

Menakar Kebahagiaan Warga Bumi Anoa Ditengah Pandemi Covid-19, Oleh : Hermawan, S.ST


Oleh: Hermawan, S.ST (Statistisi Ahli Muda pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Konawe Selatan)

KENDARINEWS.COM — “Bahagia Itu Sederhana”, Sesederhana mendengarkan kabar baik yang senantiasa dinantikan di pagi hari ditemani secangkir kopi panas bahwa kasus positif covid-19 di Bumi Anoa “0” (Zero Kasus). Tentunya dengan tetap menerapkan Protokol Kesehatan 5 M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan, Menghindari Kerumunan, Mengurangi Mobilitas). Pada Hakikatnya keinginan manusia adalah bahagia, di dunia dan akhirat. Itulah puncak perjalanan hidup.

Dalam skala hitung apapun, bahagia akan mencari bentuknya lewat fikir dan tindakan manusia.Sebagian lagi hanya terjebak dalam fantasi bahagia, semu dan segera hilang tanpa tindakan. Sepertinya bukan hanya penerapan Protokol Kesehatan yang dibutuhkan dimasa pandemi ini tetapi juga Protokol Bahagia4 B (Berusaha, Berdo’a. Bersabar dan Bertawakal).

Bumi Anoa memang sedang tidak baik-baik saja. Sejak pertama kali virus ini singgah di Bumi Anoa, kasus pertama terkonfirmasi positif covid-19 yang diumumkan 19 Maret 2020.Pandemi Covid-19 ini belum juga reda malah semakin ganas dengan berbagai varian baru yang lebih mudah menyebar dan menular. Virus ini berhasil mencuri perhatian semua kalangan. Tidak hanya menguji sektor kesehatan, dampak Covid-19 telah menggerogoti ekonomi dan ketahanan nasional. Bahkan, saat ini sisi humanisme dan solidaritas kita juga terus diuji ditengah penerapan PPKM Mikro di beberapa wilayah.

Jika melihat data yang dilaporkan Satgas Covid-19 Sultra, pandemi ini memang mengkhawatirkan. Angka positif Covid-19 terus bertambah per harinya dikisaran 200 kasus, sementara yang dinyatakan sembuh baru mencapai angka 80 Persendengan rasio kematiannya 2,1 Persen.Covid-19 memang ujian, apapun pemahaman dan argumentasi kita tentang Covid-19, dengan tetap waspada dalam mengikuti arahan pemerintah melalui penerapan Protokol Kesehatandan yang paling penting untuk “Jangan Lupa Bahagia” demi meningkatkan imunitas ditengah pandemi ini.
Setiap individu mempunyai persepsi kebahagiaan tersendiri.

Hermawan

Tidak heran jika persepsi kebahagiaansatu individu sering kali berbeda dengan individu lainnya. Sebagian orang,ada yang melihat kebahagiaan itu pada harta, tempat tinggal, kedudukanatau kesehatan. Sebagian lainnya pada istri, anak, pekerjaan atau mungkinpada perasaan senang akan suatu kondisi tertentu seperti satu tempat kerja dekat denganorang yang dicintainya, istirahat dari berbagai tumpukan pekerjaan dengan segala monitoring dan evaluasi ataupun kondisi lainnya.

Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK)

Perbedaan persepsi dalam menilai kebahagiaan inilah, yang mendorongBadan Pusat Statistik (BPS) untuk mengukur kebahagiaan seseorang,dengan melaksanakan kegiatan Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan(SPTK) Tahun 2021. SPTK pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014, yang kedua pada tahun 2017 dan tahun 2021 merupakan pelaksanaan yang ketiga kalinya. Data yang dikumpulkan dalam survei ini mencakuppengamatan dan penilaian obyektif yang dilengkapi dengan data yangmerupakan hasil penilaian responden yang sifatnya subyektif. Pelaksanaan SPTK 2021 di Bumi Anoa mencakup 1.540 rumah tangga sampel yang tersebar di 17 Kabupaten/Kota di provinsi sulawesi tenggara dengan rincian 390 sampel rumah tangga perkotaan dan 1.150 sampel rumah tangga perdesaan berlangsung dari awal juli hingga pertengahan agustus 2021.

Mengacu pada konstitusi negara Indonesia yaitu pada PembukaanUndang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada alineakeempat, secara jelas menyatakan bahwa salah satu tujuan pembentukanpemerintahan negara Indonesia adalah untuk memajukan kesejahteraanumum. Konsekuensinya, pemerintah Indonesia memilikitugas dan kewajiban untuk menjamin dan mendorong upaya peningkatandan pencapaian kesejahteraan bagi setiap warga negaranya.

Konsep memajukan kesejahteraan umum, merupakan konsep yang menggambarkan sebuah proses pencapaian tingkat kesejahteraanmasyarakat yang sekaligus menggambarkan perkembangan sosialmasyarakat. Konsep kesejahteraan, sebagaimanadinyatakan oleh para pendiri negara Indonesia, tampaknya tidak hanyauntuk menggambarkan kondisi kemakmuran material, tetapi juga mengarah kepada konsep kebahagiaan. Kebahagiaan memiliki makna dan cakupan yang tidak hanyaterbatas pada kondisi kehidupan yang menyenangkan dan kondisi kehidupan yang baik, tetapi juga padakondisi kehidupan yang bermakna.

Dalam konteks ini,konsep kebahagiaan menjadi topik pembangunan nasional yang mendapatperhatian lebih besar dibandingkan dengan konsep kesejahteraan materialmaupun kemakmuran ekonomi. Kesejahteraan mencakup tiga dimensi yaitu kepuasan hidup, perasaan dan makna hidup.SPTK 2021 telah mencakup variabel-variabel yang mencakup ketiga dimensitersebut. Sejak SPTK 2017, domain kesehatan sudah dilengkapi denganukuran kesehatan mental yang mencakup variabel terkait tingkat kesepiandan tekanan psikis.

Indeks Kebahagiaan Sulawesi Tenggara

Keterbatasan indikator ekonomi dalam merepresentasikan tingkatkesejahteraan masyarakat telah meningkatkan perhatian dunia terhadap aspek sosial dalam pembangunan. Kemajuan pembangunan yang selama ini lebih banyak dilihat dari indikator ekonomi, seperti: pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan dinilai belum cukup untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan yang sesungguhnya. Indikator ekonomi tersebut pada umumnya diukur secara obyektif dengan pendekatan berbasis uang.

Tingkat kesejahteraan masyarakat sebenarnya dapat diukur dengan menggunakan standar yang tidak sama (indikator subyektif). Salah satu indikator kesejahteraan yang mengukur capaian berdasarkan standar yang tidak sama untuk masing-masing individu adalah indeks kebahagiaan. Indeks Kebahagiaan merupakan indeks komposit yang dihitung secara tertimbang menggunakan dimensi dan indikator dengan skala 0-100. Semakin tinggi nilai indeks menunjukkan tingkat kehidupan penduduk yang semakin bahagia. Sebaliknya, semakin rendah nilai indeks maka semakin merasa tidak bahagia.

Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara merilis Indeks Kebahagiaan Sulawesi Tenggara mengalami peningkatan dari 68,66 pada Tahun 2014 menjadi 71,22 pada tahun 2017.Metode pengukuran Indeks pada tahun 2017 mengalami perubahan karena penambahan cakupan dibandingkan 2014. Indeks Kebahagiaan Sulawesi Tenggara tahun 2017 merupakan indeks komposit yang disusun oleh tiga dimensi, yaitu kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup. Kontribusi masing-masing dimensi terhadap Indeks Kebahagiaan Sulawesi Tenggara adalah Kepuasan Hidup 34,80 persen, Perasaan 31,18 persen, dan Makna Hidup 34,02 persen. Indeks kebahagiaan Bumi Anoa pada tahun 2017 (71,22) berada diatas angka nasional (70,69).

Dengan tetap mencermati geliat sektor ekonomi di Bumi Anoa yang belum pulih, sekalipun program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) telah bergaung dimasa pandemi, BPS mencatat bahwa Ekonomi Sulawesi Tenggara triwulan I-2021 terhadap triwulan I-2020 tumbuh sebesar 0,06 persen, melambat dibanding capaian triwulan I-2020 yang tumbuh sebesar 4,53 persen. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2021 sebesar 4,22 persen, naik 1,12 persen poin dibanding Februari 2020 di masa awal pandemi, Jumlah penduduk miskin pada Maret 2021 sebesar 318,70 ribu orang atau setara 11,66 persen, naik 16,88 ribu orangatau naik setara 0.66 persen dibandingkan pada awal masa pandemi Maret 2020.

Hal yang menarik dan patut kita nantikan pada tahun 2021 ditengah pandemi Covid-19 dan kondisi sosial ekonomi yang mencemaskan dan menggemaskan iniKebahagiaan Bumi Anoa berada di level mana ?, tetap jaga Protokol Kesehatan dan Protokol Bahagia kita masing-masing, Jangan lupa bahagia. Ayo mi Vaksin! (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top