Opini

Jadilah Mahasiswa “Penting!”, Oleh: Dr. H. Mustakim, M.Si


Oleh: Dr.H.Mustakim, M.Si
(Penata Kependudukan dan KB Ahli Madya BKKBN Prov. Sultra)

KENDARIPOS.CO.ID — Saya sengaja memberi judul tulisan ini seperti itu, dengan harapan yang merasa masih mahasiswa (S1 s.d S3) akan tertarik membacanya, dan yang saya maksud mahasiswa di sini adalah “para mahasiswa dan mahasiswi”, sebab ada yang berpendapat bahwa mahasiswa itu khusus laki-laki dan mahasiswi adalah perempuan. Sehingga dikiranya jika ngomong mahasiswa hanya ngomong tentang “mahasiswa laki-laki”, dan jika ngomong mahasiswi hanya ngomong “mahasiswa perempuan”. Tapi, demi efisiensi, dalam tulisan ini saya cukup menyebutnya satu kata saja yakni “mahasiswa”, meskipun yang saya maksud keduanya (mahasiwa laki-laki dan mahasiswa perempuan).


Sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut, saya yakin bisa jadi akan ada 2 persepsi yang melekat di benak teman-teman mahasiswa yang membaca tulisan ini. Mungkin ada yang secara spontan langsung tersinggung dan ngedumel “memangnya selama ini mahasiswa tidak penting?” Atau ada yang penasaran apa yang dimaksud “penting” pake tanda kutip dalam tulisan ini?

Mustakim

Ada yang telah mengerti bahwa jika ada kata umum, lalu diberi tanda petik, biasanya mengandung makna lain atau merupakan suatu istilah. “Penting” dalam tulisan ini, terus terang mengandung dua pengertian. Pertama, mengandung pengertian yang sebenarnya, bahwa mahasiswa itu memang orang penting, dan para mahasiwa adalah kumpulan orang-orang penting atau kelompok kelas penting dalam tatanan sosial. Kenapa dianggap penting? Karena memiliki karakteristik tersendiri yang dianggap sebagai “kelebihan” dari kelompok lainnya, yakni karena mereka adalah para pencari ilmu. Dalam ajaran Islam mereka disebut “Ath-Thulabul ilmi”. Jika menuntut ilmunya jauh dari rumah tempat tinggalnya (merantau) mereka pun masuk kategori “ibnu sabil”. Bahkan jika “niat” mencari ilmunya hanya semata-mata karena Allah, mereka pun berhak menyandang gelar “Fi Sabilillah” (orang-orang yang berjuang di jalan Allah dalam bidang ilmu).

Dari tiga julukan yang disandangnya saja sudah sangat menggambarkan bahwa para mahasiswa itu benar-benar penting dalam arti yang sebenarnya. Sebagai “pencari ilmu”, mereka pada hakekaktnya tengah menjalankan perintah agama yang mewajibkannya menuntut ilmu. Sebagai ganjarannya hadits Nabi SAW pun memuliakan mereka, kata Nabi: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). Bahkan Tuhanpun dalam alqur’an menyatakan “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu diantara kalian dengan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadalah: 11).

Sebagai “ibnu sabil”, para mahasiswa seharusnya berhak mendapatkan perlakukan baik. Kata Allah “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki” (QS. An-Nisa: 36). Selain itu, dalam pandangan Allah, orang yang menuntut ilmu dianggap sama dengan orang yang berjihad/ berjuang/ berperang di jalan-Nya. Hal ini jelas tersurat dan tersirat dalam ayat al-Qur’an sbb: “Tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya?”. (QS. At-Taubah: 122).
Melihat posisi mahasiswa seperti di atas, jelaslah mereka bukan kelompok orang sembarangan. Saya teringat saat masih kuliah di Bandung tahun 90-an yang saat itu lagi marak-maraknya demonstrasi mahasiswa, hingga puncaknya bisa menurunkan rejim orde baru tahun 1997-1998. Ada kalimat “nyleneh” tapi (jika dipikir-pikir) benar juga. Kata para mahasiswa saat itu: “Mahasiswa itu takut sama dosen (takut nilainya jeblok), dosen takut sama dekan, dekan takut sama rektor, rektor takut sama presiden, tapi…presiden takut sama mahasiswa”. Jadi, kesimpulan dari arti mahasiswa penting yang pertama ini, “jangan remehkan mahasiswa”!

Arti “penting” kedua, yakni penting yang menggunakan tanda petik, memang merupakan istilah. Tetapi istilah ini sangat baik karena hendak mengajak mahasiswa disamping kesibukannya berkutat dengan buku, tugas-tugas kuliah, hingga nyusun karya ilmiah, juga sebaiknya para mahasiswa memiliki rasa empati atau peduli (care) terhadap nasib generasi di belakangnya yang jika tidak kita pedulikan mereka kemungkinan besar tidak bisa menjadi mahasiswa seperti teman-teman yang saat ini duduk di bangku kuliah. Lantas, pertanyaannya, siapa yang harus kita pedulikan?
Ingat, saat ini, di negara Indonesia ini, ada sangat banyak kasus yang akan membahayakan masa depan bangsa, yakni kasus stunting. Maka arti “penting” yang kedua ini atau arti “mahasiswa penting” yang penulis maksud adalah “Mahasiswa Peduli Stunting”. Stunting adalah “kekurangan gizi kronis pada bayi di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak”.

Sebagian orang, salahsatunya Ibu Puan Maharani, menyebut stunting sebagai “kerdil”, ada juga yang menyebut “gagal tumbuh” atau pendek. Sebenarnya yang perlu digaris bawahi dari bahaya stunting ada 2 hal, yakni gagal tumbuh dan terhambatnya perkembangan otak. Meskipun keduanya sama-sama mengkhawatirkan dan membahayakan, namun dimata penulis bahaya “terhambatnya perkembangan otak” nampaknya lebih ngeri dan lebih suram masa depannya. Jika seseorang tubuhnya kerdil/pendek tapi otaknya cerdas, masih bisa manjadi intelektual dan pemikir handal, bahkan bisa menjadi pemimpin dengan kecerdasannya itu. Sebaliknya, jika seseorang tubuhnya tinggi besar, gagah, tapi otaknya “lemod”, atau “bodo-bodo” kata orang Sulawesi, kan ngeri jadinya? Tentu saja, apalagi jika tubuhnya kerdil otaknya juga lemod.

Yang pasti, anak stunting, jangankan sampai kuliah menjadi seorang mahasiswa, mungkin masih SD atau SMP mereka akan nyerah, karena memang otaknya tidak akan mampu. Data dari kemenkes tahun 2018, angka stunting di Indonesia mencapai 27, 67 %. Ini masih sangat tinggi dari rekomendasi World Health Organization (WHO) yang memaklumi jika di bawah 20 persen. Presiden Jokowi menargetkan di akhir masa jabatannya nanti (2024) stunting harus bisa terjun ke angka 14 % ke bawah. Untuk mengejar target tsb membutuhkan kepedulian kita semua sebagai komponen bangsa, siapa dan apapun kita. Tentu tidak terkecuali para mahasiswa. Diantara peranan yang dibutuhkan dari mahasiswa setidaknya turut berperan dalam hal “pencegahannya”, maka saatnya mereka belajar dan paham tentang stunting.

Cukup banyak literatur tentang stunting ini di internet, bisa dicari dan pelajari. Setelah paham, sampaikan di lingkungan sekitar agar jangan buru-buru menikah (karena sebagian kasus stunting disebabkan bayi terlahir dari ibu yang masih sangat muda/remaja), ingatkan asupan gizi kepada para ibu hamil, ingatkan ibu yang baru melahirkan untuk memberikan colostrum (air susu awal yang berwarna kekuningan) pada bayi saat pertama kali menyusui karena ini mengandung imun yang sangat bagus, ingatkan asi ekslusif (asi saja tanpa makanan/minuman lain) selama 6 bulan pertama setelah bayi dilahirkan, ingatkan pemberian gizi dan perhatian yang penuh kepada batita (anak di bawah 3 tahun), dan materi-materi lainnya yang berkaitan dengan pencegahan stunting ini, terutama pada 1000 HPK “sejak janin masih dalam kandungan (selama 40 pekan atau 9 bulanan atau sekitar 280 hari) ditambah menyusui bayi secara sempurna selama 2 tahun penuh” yang hal ini juga merupakan perintah Allah SWT dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 233: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan,” *

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top