HEADLINE NEWS

Gudang Bulog Penuh, Pengusaha Penggilingan Padi di Konawe Bingung Jual Beras

KENDARINEWS.COM — Tata niaga bahan pangan pokok khususnya beras di Konawe masih perlu dibenahi. Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre Konawe yang menjadi tumpuan pengusaha penggilingan padi, dihadapkan pada situasi cukup rumit. Stok beras menumpuk di gudang akibat tidak adanya pasar tetap atau outlet untuk menyalurkan hasil produksi tersebut. Melimpahnya produksi beras pada masa panen, dibatasi ketersediaan space gudang di Bulog dalam menyerap semua hasil panen petani.

Sejatinya, daya tampung beras oleh Bulog Konawe dapat ditingkatkan dengan cara menaikkan turn over (perputaran) beras di gudang menjadi 4-6 kali. Akan tetapi, tidak adanya outlet penyaluran membuat hal itu menjadi kendala serius. Di sisi lain, produksi padi dalam setiap panen raya di Konawe berkisar 160-200 ribu ton. Imbasnya, stok beras dalam jumlah berton-ton masih tertahan di perusahaan penggilingan padi sebab gudang Bulog penuh.

Kepala Bulog Subdivre Konawe, Yusran Yunus, mengakui jika gudang di Kelurahan Tuoy tersebut dalam kondisi penuh. Padahal, katanya, saat ini masih berlangsung masa panen pada beberapa basis persawahan yang ada. Mitra Bulog yakni para pengusaha penggilingan padi pun masih mempunyai stok beras yang banyak. Penjualan beras pada musim panen seperti ini sangat bertumpu kepada Bulog dan itu berdampak kepada harga gabah di tingkat petani.

“Itulah sebenarnya peran Bulog dalam menjaga harga gabah. Akan tetapi, saat ini kita tidak bisa beli semuanya karena gudang Bulog sudah full. Solusi sementara, kita arahkan mitra penggilingan itu membawa berasnya ke gudang terdekat yang ada di Kendari maupun Kolaka. Namun konsekuensinya, biaya angkutan meningkat yang dapat berdampak terhadap harga beli gabah,” jelasnya, Kamis (6/5).

Yusran Yunus menerangkan, penyebab gudang dalam kondisi penuh karena tidak adanya kepastian pasar atau outlet penyaluran beras Bulog. Beda halnya ketika masih ada program beras miskin (Raskin) yang membuat perputaran beras di gudang Bulog menjadi cepat. Bulog Subdivre Konawe setiap bulannya sudah punya outlet penyaluran yang pasti lewat program Raskin tersebut. Ia menyebut, penuhnya daya tampung di gudang Bulog juga mempengaruhi harga pembelian gabah di tingkat petani. Harga pembelian oleh mitra penggilingan bisa turun dari standar yang ditetapkan pemerintah sebab tidak ada kepastian gabah beras yang dibeli itu mau dikemanakan.

“Harga beli gabah petani bisa dinaikkan kalau mitra Bulog itu mendapat jaminan pembelian dari pemerintah. Cuma sekarang posisi Bulog mau membeli tapi gudangnya full. Sementara, kalau beras dari penggilingan itu langsung dibawa ke pasaran umum, harga jualnya rendah yakni di bawah Rp 8.300 per kilogram untuk harga pokok produksi (HPP) beras medium. Apalagi saat Ramadan ini, harga beras cenderung “dingin” di pasaran,” bebernya.

Ia menuturkan, saat ini koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konawe terus dilakukan untuk menyiasati supaya beras di gudang Bulog bisa keluar. Ada tiga solusi alternatif dari hasil koordinasi tersebut, antara lain dengan menggodok program beras untuk Aparatur Sipil Negara (ASN). Tunjangan beras ASN pemkab Konawe sebesar 10 kg setiap bulannya, nantinya bakal disuplai dari beras yang ada di gudang Bulog setempat.

“Yang kedua, penyaluran program Sembako diprioritaskan menggunakan beras dari Bulog. Oleh Pemkab Konawe, kita juga akan difasilitasi untuk memasok beras ke kompleks mega industri Morosi serta perusahaan kelapa sawit. Supaya itu bisa mengurangi stok yang ada di Bulog,” sambungnya. Yusran Yunus menambahkan, permasalahan semacam ini sebenarnya terus berulang setiap musim panen di Konawe berlangsung. Tiga solusi alternatif tersebut, secara kalkulasi bisa membantu permasalahan daya tampung di gudang Bulog sebab perputaran berasnya kian cepat. Namun ia berharap, program beras ASN itu nantinya bukan di Konawe saja diterapkan. Melainkan, bisa diadopsi pada seluruh pemerintah kabupaten/kota se-Sultra.

“Tunjangan beras 10 kilogram kalau dikalikan dengan jumlah ASN se-Sultra, jumlahnya akan membantu permasalahan keterbatasan space gudang Bulog di daerah sentra produksi. Yang terbaru, sudah ada surat Gubernur Sultra per tanggal 4 Mei 2021 tentang penggunaan beras Bulog. Semua daerah di Sultra diminta agar memakai beras tersebut. Dengan begitu, hasil panen petani Konawe bisa terserap ke gudang-gudang Bulog di daerah lain melalui pemindahan stok beras,” sambung Kabulog Subdivre Konawe tersebut.

Sementara itu, Putu Subagja yang juga mitra Bulog di Kecamatan Padangguni, mengemukakan, selama ini serapan beras di Bulog masih terbilang lancar. Hanya saja beberapa hari belakangan ini di masa panen kali ini, harga pembelian gabah di tingkat petani sudah turun lantaran Bulog sudah tak mampu lagi menampung beras. “Terus terang itu mempengaruhi harga beli gabah. Kalau beli mahal (gabah petani), kita juga bingung. Kita mau jual kembali ke Bulog, gudangnya full. Kita mau jual ke pasar, malah disitu lebih murah dibanding harga pembelian dari Bulog,” keluhnya.

Putu Subagja mengaku, ada sekira 500 ton gabah termasuk beras yang belum diproses di tempat usaha penggilingan miliknya. Ia kebingungan sebab beras yang belum terjual itu paling maksimal bertahan selama tiga bulan. Lewat dari waktu tersebut, beras sudah berubah warna menjadi sedikit kekuningan. Otomatis, kualitas beras yang menurun tersebut membuat harganya jualnya pun seketika anjlok. “Kita bawa ke Bulog mungkin langsung ditolak karena berasnya sudah ada bayang-bayang kuningnya. Padahal, andalan kami menjual hanya di situ. Hanya sekian persen beras dari penggilingan yang kita jual ke pasaran umum. Tolong kami dibantu. Permintaan saya, kalau bisa pemerintah menyediakan outlet penyaluran beras Bulog. Kita pasti akan membeli gabah petani asalkan outletnya sudah jelas,” tandasnya. (b/adi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top