Hukum & Kriminal

Dugaan Penganiayaan Anak, Dua Oknum Polisi Lolos dari Sanksi Berat

KENDARINEWS.COM — Dua oknum polisi yang bertugas di Polsek Sampuabalo, Polres Buton lolos dari sanksi berat. Dari hasil pemeriksaan, Propam Polda Sultra tidak menemukan bukti adanya dugaan penganiayaan terhadap tiga anak di bawah umur berinisial AG (12), RN (14) dan AJ (16). Kabid Humas Polda Sultra, Kombes Pol Ferry Walintukan, mengatakan polisi telah melakukan investigasi sebelum muncul penyataan kuasa hukum ketiga anak tersebut. Sebelum heboh di publik, Kapolda Sultra Irjen Pol Drs Yan Sultra Indrajaya telah menginstruksikan dilakukan investigasi.

“Pak Kapolda memberi atensi atas kasus ini. Beliau langsung memerintahkan tim terpadu yang terdiri dari Itwasda, Bid Propam dan Ditreskrimum Polda Sultra sudah melakukan investigasi ke Polsek Sampuabalo Polres Buton,” jelas Kombes Pol Ferry Walintukan alam konferensi pers di aula Ditreskrimum Polda Sultra, Selasa (27/4)

Selama proses investigasi, tim terpadu telah melakukan klarifikasi kepada 17 saksi dalam hal ini masyarakat. Diantaranya para orang tua terdakwa kasus pencurian dan pemberatan, penjaga kios depan Polsek Sampuabalo, kerabat para terdakwa, termasuk memeriksa AJ (15), AG (12), RN (14) serta terdakwa M (22). “Lima orang personel Polsek Sampuabalo juga ikut dimintai kesaksiannya,” ujar Ferry.

Dari hasil investigasi atas dugaan kekerasan dan intimidasi yang dilakukan oleh penyidik Polsek Sampuabalo, perbuatan yang disangkakan oleh kuasa hukum terdakwa, tidak dapat dibuktikan. Ada beberapa alasan kuat yang dijadikan dasar pengambilan keputusan tersebut. Pertama, keterangan para saksi tidak saling mendukung satu sama lain, serta tidak ada alat bukti pendukung yang menguatkan keterangan para saksi.

“Kemudian, pada saat dilakukan pemeriksaan, para tersangka anak, didampingi oleh orangtua masing-masing. Selanjutnya, terdapat keterangan dokter, di mana pada saat pelimpahan para tersangka ke Kejaksaan Negeri Pasarwajo, 3 Maret 2021. Telah dilakukan pemeriksaan fisik dan kesehatan di poliklinik Polres Buton. Dengan hasil para tersangka dalam keadaan sehat. Jadi seluruh sangkaan yang dilayangkan ke oknum polisi Polsek Sampuabalo tidak terbukti,” jelasnya.

Kasus ini berawal dari tindak pidana pencurian dan pemberatan yang diadukan Saharuddin, 24 Desember 2020 di Desa Kuraa Kecamatan Siontapina, Buton. Atas pencurian itu, korban merugi sekitar Rp 125 juta. “Dari hasil penyelidikan terdapat cukup bukti untuk ditingkatkan ke tingkat penyidikan. Maka 1 Februari 2020, diterbitkan laporan polisi nomor LP/01/I/2021/Sultra/ Res Buton/Sek Sampuabalo, tanggal 1 Januari 2021,” terangnya. (b/ndi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

To Top