Kolom

Cegah Aksi Teror, Oleh : Prof.Eka Suaib

KENDARNEWS.COM — Terhadap aksi pengeboman gereja Katedral di Makassar, Presiden mengutuk keras tindakan perilaku pengeboman. Menteri Agama juga mengeluarkan pernyataan serupa dengan menambahkan tidak mengaitkannya dengan agama apapun. Soalnya, semua agama mengajarkan kasih sayang kepada sesama. MUI melalui perwakilannya Anwar Abbas mengutuk keras tindakan pelaku peledakan bom di Makassar. Bagi kita sebagai umat yang beriman meyakini tidak ada satu ajaran agama yang mengajarkan tentang perusakan.

Setiap kali peristiwa teror terjadi, menimbulkan dampak turunan. Misalnya, dari segi ekonomi. Akibat bom Makassar, dengan korban jiwa sampai 20 orang, maka pemerintah harus menglokasikan dana dalam rangka untuk pemulihan dampaknya agar tidak menimbulkan efek yang merugikan untuk kepentingan lebih luas. Pada aspek psikologis, akan menimbulkan trauma mendalam bagi masyarakat, terutama di wilayah sekitar lokasi teror.

Perlu dipahami bahwa tujuan utama aksi teror bukanlah jatuhnya korban jiwa, tetapi untuk menarik perhatian publik dan sorotan media, baik medsos dan media mainstream.Tidak bisa dipungkiri bahwa aksis teror merupakan salah satu cara mencapai tujuan politik. Berbagai riset selama ini menunjukkan bahwa aksi teror dilakukan oleh kelompok-kelompok yang merasakan dirugikan secara politik. Dengan kata lain, aksi teror bersumber dari rasa ketidakpuasan dan frustasi politik.

Aspek lain, dari bom bunuh diri di Makassar yakni menyasar pada keluarga muda. Dua terduga pelaku teror di Makassar yakni pasangan yang baru menikah. Kepala BNPT, Komisaris Jenderal Boy Rafli Amar mengemukakan bahwa pasangan suami isteri di bawah 30 tahun dijadikan sasaran perekrutan pelaku teror.

Fakta itu seiring dengan catatan Kompas (30/3/2021) sejak tahun 2018 menyasar keluarga muda untuk direkrut menjadi pelaku teror. Rupanya, masa pandemik tidak menyurutkan aksi teror. Laporan kajian the Habibie Center menyebutkan bahwa kelompok ekstrimisme dengan kekerasan menganggap bahwa pandemik adalah saat tepat untuk melakukan serangan balik dan perekrutan.

Sehubungan dengan kejadian teror di Makassar, upaya pencegahan dilakukan melalui rangkaian penangkapan di beberapa daerah. Selain itu, polisi juga melakukan peningkatan pengamanan terutama gereja menjelang peringatan hari wafat Isa Almasih. Harus diakui, selama ini pemerintah melalui lembaga peradilan sudah melakukan tindakan tegas terhadap para pelaku dalam aksi terorisme. Hal itu efektif dalam jangka pendek. Hanya saja pendekatan seperti itu belum menyentuh pada akar permasalahannya yaitu penyebaran ideologi radikal terorisme.

Pada akhirnya, keterlibatan masyarakat juga penting guna pencegahan kegiatan teror. Keterlibatannya yakni bisa dengan mengontrol aktivitas jaringan teroris, atau mendeteksi keberadaan kelompok teroris. Contoh praktis. Jika ada hal yang mencurigakan aktivitas dari warga masyarakat dapat berkoordinasi dengan berbagai elemen. Eksistensi kelompok radikal tumbuh subur karena budaya masyarakat Indonesia yang ‘ramah’. Jika ada ‘orang baru’ yang punya sifat ‘baik’,’ramah’, apalagi jika punya pemahaman agama yang tinggi. Padahal bisa saja, orang dimaksud sudah memiliki motif lain yakni mengembangkan ajaran dan paham radikal.

Literasi digital perlu dilakukan secara masif kepada masyarakat. Berkembangnya penggunaan medsos pada era digital saat ini memudahkan untuk penyebaran informasi. Publik juga semakin aktif di medsos, dapat dimanfaatkan bagi kelompok radikal untuk menyebarkan ideologinya. Karena itu, melalui literasi digital maka dapat terhindar dari upaya-upaya perekrutan yang dilakukan oleh sel-sel kelompok radikal.

Pemfungsian Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme di daerah perlu dilakukan. Melalui wadah ini, maka sinergitas dari semua unsur seperti Pemda, Polda, Korem, Kejati, DPRD, Lembaga Pemasyarakatan, Organisasi Keagamaan, Jurnalistik, dan berbagai elemen masyarakat lainnya. Tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan bahu membahu dengan unsur pemerintah untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai pentingnya wawasan kebangsaan. (*)

Penulis adalah Guru Besar FISIP UHO & Ketua AIPI Cab.Kendari

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

To Top