Konawe

Bupati Konawe Optimis Sejuta Ton Beras Bisa Terealisasi


KENDARINEWS.COM — Wacana kebijakan impor beras oleh pemerintah pusat beberapa waktu lalu, sempat membuat petani gusar. Itu lantaran keinginan impor beras oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI dihembuskan sesaat menjelang musim panen raya padi diawal 2021. Isu itu membuat petani khawatir harga gabahnya merosot dan membuat mereka rugi. Untungnya, Presiden Joko Widodo memutuskan menutup keran impor beras hingga Juni 2021.

Meski petani bisa lega untuk beberapa saat, bukan berarti impor beras disetop sepenuhnya pada tahun ini. Potensi dibukanya keran impor pada semester II tahun ini atau dalam rentang waktu Juli-Desember tahun 2021 masih terbuka lebar.

Kery Saiful Konggoasa

Wacana impor beras oleh Kemendag RI sempat direspons Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa. Sebagai pemimpin di daerah agraris di jazirah Sultra, Kery menyarankan agar pemerintah lebih baik menunda impor beras. Ia mengatakan, kebijakan impor beras sangat mengancam kesejahteraan petani, tanpa terkecuali kaum pembajak sawah di Konawe.

“Impor dilakukan apabila negara dalam keadaan krisis beras. Itupun bisa dimaklumi kalau suplai dari petani dalam negeri masih kurang. Harus ada manajemen waktu yang lebih matang terkait kebijakan impor beras ini,” ujar Bupati Konawe dua periode itu diwawancarai Kendari Pos, kemarin.

Wacana dibukanya keran impor beras, menurut Kery, sangat tidak populis di kalangan para petani. Apalagi, kalau isu tersebut dilontarkan pemerintah diwaktu memasuki masa panen. Dirinya beranggapan, ketimbang mengimpor, pemerintah pusat lebih baik memprioritaskan hasil produksi petani lokal yang belum terserap secara optimal di pasaran.

“Kita siap memenuhi kebutuhan beras dalam negeri. Pemerintah jangan impor, banyak kita punya beras di Konawe. Bulog saja tidak bisa tampung hasil produksi para petani di Konawe,” tegas Bupati Kery.

Mantan Ketua DPRD Konawe itu menyebut, ketimbang mengimpor, pemerintah lebih baik mengeluarkan regulasi semisal menaikkan harga beli gabah ditingkat petani. Kata Kery, salah satu faktor yang membuat petani meninggalkan sawah yaitu rendahnya harga beli gabah. Menurut Kery, harga beli gabah yang kompetitif membuat petani bisa semringah usai tiga bulan lebih menggarap padi di ladang. “Itu yang harus kita lakukan. Kita mesti pikirkan bagaimana petani bisa menikmati hasil keringat mereka,” ungkap Kery.

Politikus PAN Sultra itu menegaskan, wilayah otoritanya saat ini merupakan sentra lumbung beras di Bumi Anoa. Bahkan, katanya, hasil produksi petani Konawe pun sudah banyak yang dipasok ke luar Sultra. Hasil panen petani Konawe saat ini berkisar 7-9 ton per hektare. Pada wilayah yang menjadi basis persawahan, misalnya di Kelurahan Mekar Sari Kecamatan Tongauna, petani menghasilkan panen sampai 13 ton setiap hektarenya.

“Kita bisa hasilkan kurang lebih 200 ribu ton sekali panen. Itu sudah didapat dari 42 ribu hektare sawah di Konawe. Warga mengonsumsi beras sebanyak 300 ons dalam sehari atau 110 kg dalam setahun. Kalau saya hitung, kita masih bisa surplus kurang lebih 100 ribu ton beras,” terangnya.

Senada dengan itu, Kepala Dinas (Kadis) Ketahanan Pangan Konawe, Muhammad Akbar, menyebut, ketimbang pemerintah pusat membuka keran membeli beras dari luar negeri, lebih baik anggaran yang disiapkan diberikan kepada petani lokal agar produktivitas pertaniannya semakin meningkat.

“Produksi kita yang melimpah itu terjadi karena teknik dari pertanian yang dikembangkan. Salah satunya juga ditunjang kesuburan tanah pada areal pematang sawah. Sehingga dengan didukung produksi melimpah tersebut, sudah tepat kalau Konawe ini disebut daerah lumbung beras,” ucap mantan Camat Unaaha itu.

Muhammad Akbar mengemukakan, berkaca dari hasil petani yang melimpah di Konawe, dirinya optimis visi sejuta ton beras di periode pemerintahan Kery Saiful Konggoasa-Gusli Topan Sabara (KSK-GTS) bisa terealisasi. Dengan demikian, beras hasil produksi petani Konawe dapat terus memenuhi permintaan pasokan domestik hingga ke luar wilayah Sultra.

“Beras Konawe itu melayani pengisian gudang Bulog Kota Kendari, Buton, Muna, Koltim, Kolaka sampai Makassar. Untuk pembelian langsung oleh pedagang bahkan sudah sampai pengiriman ke Kota Surabaya hingga Jakarta,” tandasnya. (adi/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top