Hukum & Kriminal

Bina Warga Binaan, Kemenkumham Sultra Lakukan Program Penamas

KENDARINEWS.COM — Dikungkung di balik jeruji besi dalam waktu yang lama berpeluang memicu stres. Kondisi ini menyebabkan emosi Narapidana (Napi) menjadi labil dan gampang terprovokasi. Jika tak diantisipasi, persoalan kecil pun bisa berujung pada percek-cokan dan kerusahan. Atas dasar itulah, Lembaga Permasyarakatan (Lapas) maupun Rumah Tahanan (Rutan) di bawah Kemenkumham Sultra diminta lebih mengedepankan pendekatan humanis terhadap warga binaan.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Sultra, Muslim mengatakan pendekatan humanis menjadi cara tepat mendekatkan diri dengan warga binaan. Bagaimana pun, Lapas dan Rutan memiliki tanggung jawab pembinaan kemasyarakatan terhadap mereka yang terjerat hukum. “Guna menghindari masalah yang tak diinginkan, diperlukan langkah strategis,” jelas Muslim kepada Kendari Pos, Senin (23/8).

Sejak Kanwil Kemenkumham Sultra dipimpin Silvester Sili Laba lanjutnya, banyak hal positif yang dikerjakan. Salah satunya melalui program unggulan yang diberinama Penamas (Pendekatan Humanis di Bidang Kemasyarakatan). Makna dari program tersebut, terjalinnya hubungan emosional antara petugas dan warga binaan pemasyarakatan.

“Pak kanwil lebih mengutamakan pendekatan humanisme kepada siapapun termasuk warga binaan. Makanya, seluruh Rutan dan Lapas yang ada di Sultra diinstruksikan bisa menjalin keharmonisan antara petugas dan warga binaan,” jelasnya.

Dalam melakukan pembinaan lanjutnya, harus didasari dengan prikemanusian. Tak ada lagi indikasi kekerasan yang dilakukan. Kendati demikian, jika melakukan pelanggaran, sanksi tetap dikedepankan. Sesuai tingkatan pelanggarannya. Salah satu bentuk membangun hubungan harmonisnya, dengan duduk makan bersama warga binaan. Sederhana namun syarat makna. Apalagi semua napi bisa bangga duduk bersama Kakanwil. Keakraban dan kekeluargaan jadi poinnya.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sultra, Silvester Sili Laba (dua dari kiri) makan bersama warga binaan Lapas Kelas IIA Kendari, Senin (23/8).

“Apa yang dilakukan ini sebagai bentuk memanusiakan manusia. Antara petugas dan warga binaan tak ada jarak secara emosional, kendati demikian secara aturan dan Profesionalisme kerja, kami tetap menjalankan sebaik baiknya,” pungkasnya. (b/ndi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top