HEADLINE NEWS

Belajar Tatap Muka Dimulai Juli, Sekolah Dilematis

KENDARINEWS.COM — Mendikbud Nadiem Makarim menyebutkan pembelajaran tatap muka (PTM) bisa dimulai kembali Juli 2021 nanti. Namun rencana tersebut disambut sekolah dengan dilematis. Sebab sebagian orang tua merasa di tengah pandemi Covid-19 anak mereka lebih aman belajar dari rumah. Sebelumnya Nadiem menyampaikan PTM bisa kembali digulirkan Juli nanti bertepatan dengan dimulainya tahun pelajaran baru 2021/2022. Keterangan tersebut dia sampaikan saat meninjau vaksinasi Covid-19 untuk kalangan guru dan tenaga kependidikan di Jakarta.

Kepala SMA Semesta Didin Sopandi turut menanggapi rencana dibuka kembali kesempatan untuk PTM tersebut. ’’Terkait kabar dimulainya kembali pembelajaran tatap muka, kami agak dilematis,’’ katanya di sela paparan program Semesta Berkontribusi Untuk Negeri (SBUN) secara virtual. Didin yang juga Ketua Umum Program SBUN menuturkan selama ini rencana pemerintah terkait pembelajaran di tengah pandemi tiba-tiba berubah. Dia mencontohkan beberapa waktu lalu sempat keluar kebijakan melonggarkan pembelajaran tatap muka pada Januari 2021. Tetapi akhirnya tidak jadi karena pertimbangan kondisi pandemi Covid-19 yang masih fluktuatif. ’’Sebenarnya kita sudah persiapkan tatap muka sejak semester satu (awal Januari 2021, Red),’’ tuturnya.

Waktu itu ada pengumuman dari pemerintah sekolah di daerah dengan tingkat risiko penularan Covid-19 rendah boleh kembali tatap muka. Tetapi ternyata karena kondisi pandemi Covid-19 yang tidak menentu kebijakan tersebut berubah kembali. Sekolah sampai sekarang belum bisa menjalankan PTM. Didin mengungkapkan sekolahnya secara berkala membuat survei untuk orang tua siswa. Di antara isi survei tersebut bagaimana pandangan orang tua terhadap rencana PTM di tengah pandemi. Hasilnya sekitar 85 persen orang tua siswa mengatakan puas dengan sistem pembelajaran daring. Mereka juga merasa lebih nyaman dan aman jika anak-anaknya belajar di rumah dahulu.

Tetapi ada sekitar 15 persen orang tua yang ingin dibuka kembali pembelajaran tatap muka. Di antara pertimbangannya adalah kasihan anaknya merasa tertekan atau stres dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh. Dia menegaskan sekolah masih menunggu kebijakan resmi pemerintah pusat atau pemerintah daerah untuk PTM Juli mendatang. School Counsellor Sekolah Semesta sekaligus Penanggung Jawab program SBUN Anisa Handayani mengatakan dalam pembelajaran jarak jauh memang berpotensi membuat siswa siswa stres. Untuk itu dia menganjurkan supaya guru bisa melakukan deteksi dini terhadap siswanya. ’’Perlu ada upaya preventif supaya siswa tidak sampai stres,’’ katanya.

Kemudian guru juga harus bisa mendampingi siswanya yang kedapatan menunjukkan gejala bosan atau stres mengikuti pembelajaran jarak jauh. Guru harus memiliki banyak cara menghadirkan pembelajaran yang tidak membosankan. ’’Melalui program SBUN kami akan berbagi cara-cara atau tips menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan di tengah pandemi,’’ paparnya. Rencananya kegiatan ini digelar selama dua bulan pada Maret-April depan. Kegiatan digelar secara online setiap akhir pekan. Menghadirkan pembicara dari para ahli. Sekaligus pengalaman dari guru serta orang tua dalam mendampingi anaknya. Dia menegaskan kegiatan SBUN itu digelar secara gratis dan terbuka untuk semua warga. (jpg)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

To Top