oleh

PSSI Sultra Menuju Piala Dunia

KENDARINEWS.COM — Bisa jadi judul tulisan ini membuat kamu tertawa. Kamu nggak yakin. Bisa jadi, dengan judul ini kamu: ngenyek. Ngledek. Kamu pasti pesimis dengan judul ini. Supaya kamu yakin, saya kasi tiga key word. 1. Ketua PSSI Sultra siapa? 2. Kepala Daerah yang menggelar nonton bareng Final Piala Dunia siapa? 3. Perusahaan-perusahaan Multi Nasional saat ini memusatkan perhatian di Sulawesi Tenggara. Dengan tiga keyword ini, apakah kamu masih akan tertawa pesimis dengan judul tulisan ini? Tidak. Masih ngenyek? Tidak.

Dari nonton bareng final Piala Dunia Qatar 2022, saya berpikir. Banyak dan maraknya nonton bareng final Piala Dunia, saya berpikir. Pengurus Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) yang dijabat Prof. DR. Muhammad Zamrun Firihu, SSi, MSi, yang juga Rektor Universitas Halu Oleo (UHO), juga saya berpikir. Saya berpikir: Sultra ini bisa maju. Sepakbola Sultra ini bisa dengan enteng merebut nama di level nasional karena ketuanya “gila bola”. Beberapa kepala daerah juga senang bola, terbukti dengan menggelar nonton bareng piala dunia Qatar. Saya berpikir, sepakbola Sultra “terancam” maju karena di Sultra sejak satu decade terakhir banyak perusahaan tambang yang bisa dirogoh CSR-nya untuk kegiatan PSSI dengan misi membawa Sepakbola Sultra menuju pentas dunia. Saya berpikir, ternyata, dari sisi sepakbola, kita bisa berkata: Sultra Masa Depan Indonesia melalui Sepakbola Menuju Pentas Dunia. Dan, sekali lagi, saya berpikir, manajerial Professor Zamrun di PSSI akan sanggup mewujudkan itu.

Muhammad Zamrun Firihu baju merah bersepatu kuning, ikut ambil bagian perkuat timnya pada ajang UHO Cup yang digelar di lapangan stadion mini UHO, beberapa waktu lalu.(foto: humas UHO)

Keyword pertama. Professor Zamrun yang gila bola memberi optimisme bahwa kesebelasan Sultra sudah akan menggaung di beberapa stadion besar di republik ini. Itu jangka panjang setelah masuk Devisi I atau Devisi Utama. Jangka pendek, Kesebelasan Sultra kita optimis akan digaungkan di beberapa stadion Kawasan Timur Indonesia sesuai dengan kelas Devisi apakah Devisi 3 seterusnya ke Devisi 2. Kita wajib optimis dan yakin Bersama Zamrun.

Keyword kedua. Hampir semua Bupati di Sultra menggelar acara nonton bareng Final Piala Dunia di Qatar yang mempertemukan Perancis-Argentina. Dengan nontong bareng, berarti mereka suka bola. Dengan nonton bareng, mereka bangga dengan prestasi bola. Lalu, kenapa tidak membuat kreatifitas kegiatan atas kecintaan para pemegang kuasa ini? Tak ada hubungan Diplomatik antara Konawe dengan Perancis maupun Argentina. Tapi, Bupati Konawe dan Muspida di daerah itu menggelar nonton bareng di halaman kantor Bupati Konawe. Artinya, terdapat kecintaan yang besar terhadap permainan sepakbola di kalangan para pengambil kebijakan di Konawe. Demikian pula di Kabupaten-kabupaten lain di Sultra ini. Lihatlah Presiden Perancis, Emmanuel Macron yang turun ke lapangan menghibur Kylian Mbappe atas kesedihan karena gagal merebut trophy. Artinya, prestasi sepakbola menjadi wahana untuk segala kemajuan. Dengan prestasi sepakbola, kita bisa menembus batas apapun. Batas suku lebur dengan sepakbola. Batas agama, lebur dengan sepakbola. Batas negara, lebur dengan sepakbola. Karena itulah, kali ini dan mulai hari ini, kita harus optimis bahwa Sepakbola Sultra di ambang prestasi nasional Bersama Professor Zamrun dan para Kepala Daerah pecinta bola.

Keyword ketiga. Perusahaan multi nasional tengah berbondong-bondong berinvestasi di Sultra. Para penggiat bola, harus memanfaatkan momentum ini untuk kemajuan sepakbola nasional. Demi kemajuan persepakbolaan nasional, PSSI Sultra tinggal tiup pluit. Pluit pertama untuk perusahaan tambang legal di seluruh Konawe, mana CSR-mu, setor ke sini untuk pembicayaan pelatih asing. Pluit kedua, untuk perusahaan tambang Konawe Utara, mana CSR-mu, setor ke sini untuk asrama, kostum dan pemenuhan gizi para pemain. Pluit ketiga, untuk perusahaan tambang Kolaka, Kolaka Utara, mana CSR-mu, setor ke sini untuk pembangunan stadion standar FIFA, syukur-syukur jika setara dengan Jakarta International Stadium (JIS) karya Anies Baswedan yang monumental itu. Pluit keempat, untuk perusahaan tambang di Bombana, Konawe Selatan dan Wawonii. Mana CSR-mu, setor kesini untuk bea siswa para pemain sepakbola yang akan dilatih khusus. Khusus yang terakhir ini, soal perekrutan pemain, demi prestasi sepakbola dan mengangkat nama Indonesia, perekrutan pemain harus ekstra selektif. Jangan karena ponakannya pelatih lantas direkrut sebagai pemain. Jangan. Kemudian, dalam perekrutan, carilah pemain yang ruas tulangnya panjang-panjang tapi seimbang. Kita butuh pemain yang tinggi-tinggi seperti Mbappe yang seimbang antara kaki dan badan, jangan seperti tetangganya Pak Ketua yang tinggi kakinya tapi badannya pendek. Jangan juga seperti tetanggaku, tinggi badannya tapi pendek kakinya. Pokoknya, carilah bibit pemain yang diperkirakan kalau besar nanti, ia akan tinggi seperti jerapah tapi larinya kaya harimau yang cepat, kokoh dan tidak nomaluambe. Maluambe, Bahasa Muna. Bahasa Indonesia-nya saya ndak tahu saking banyaknya pengertiannya. Misalnya, tinggi besar tapi kalau dia lari lalu kesenggol sedikit saja badannya langsung jatuh. Ini disebut Maluambe. Tinggi besar, tapi kalau dia jalan cepat, kaki kirinya tasangkut di kaki kanannya, lalu jatuh. Atau, kaki kirinya takait di kaki kanannya atau sebaliknya. Ini juga disebut Maluambe. Tinggi besar, tapi kalau dia sudah terlanjur lari sulit untuk mengerem dirinya. Ini juga maluambe. Karena itu, pemilihan bibit-bibit pesepakbola sangat penting pula.

Suasana nonton bareng (nobar) Final Piala Dunia Qatar 2022 di pelataran kantor Bupati Konawe.

Memang, berharap kemajuan sepakbola di tanah air, sepertinya sangat berat. Persoalannya, menyangkut orang lain. Misalnya, anggaran sudah oke dari perusahaan-perusahaan tambang. Pelatih professional dari luar negeri sudah oke. Stadion standart FIFA sudah oke. Gizi pemain, oke. Faktor eksternalnya ternyata juga sangat mempengaruhi. Misalnya, wasit. Tak sedikit terjadi insiden di lapangan yang melibatkan wasit. Faktor luar lainnya adalah kesebelasan daerah lain. Kita di Sultra sudah memutuskan bahwa misi kita mengurus sepakbola adalah untuk kemajuan prestasi nasional hingga internasional. Nah, daerah lain belum tentu seperti itu. Mereka, prestasi bisa jadi dinomor-katompakan (nomor buntut), yang dinomorsatukan “odoi”. Kalau untuk dapat duit harus dengan kemenangan, maka saya harus menang dengan cara apapun. Kalau kekalahan bisa mendatangkan duit, maka saya harus kalah. Di Sepakbola bisa seperti itu. Saya pernah cerita dengan mantan Sekum. Bahwa, kalau sinar infra red sudah diarahkan ke mata kiper itu artinya: “hooe, kipeeer kenapa tidak gol gol?” Kalau sudah di depan gawang dan ada kesempatan shooting ke gawang tapi tidak dilakukan, bahkan hanya bermain-main depan gawang, itu artinya ada utusan mafia di stadion.

Tapi bahwa, soal wasit dan mafia, kita abaikan dulu dan fokus pada prestasi sepakbola Sultra. Bersama Prof. Zamrun Firihu yang gila bola. Kita yakin bahwa kesebelasan Sultra sebentar nanti akan berkibar. Bagaimanapun, prestasi hingga masuk Devisi I pernah ditorehkan Club Bola Kendari Utama milik H. Habil Marati, putera Sultra asal Muna Barat. Masih berhubungan keluarga dengan Rektor UHO. Baik Habil Marati maupun Prof. Zamrun sama-sama cinta bola. Sama-sama dari Muna Barat. Sama-sama saya kenal. Artinya, Kendari Utama saja yang dikelola swasta murni bisa maju, apalagi kalau club bola yang dibackup Rektor UHO, Bupati Konawe, Bupati Konawe Utara, Bupati Konawe Kepulauan, Bupati Konawe Selatan, Bupati Bombana, Bupati Kolaka Utara, Bupati Kolaka, Bupati Kolaka Timur, saya kira, jangankan masuk Devisi Satu, untuk masuk devisi utama saja: kacang-kacang. Kenapa bupati lain tidak disebut? Ya, karena disana tidak ada perusahaan yang bisa diambil CSR-nya. (nebansi@kendarinews.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan