oleh

Cabor Non Prestasi Perlu Dievaluasi

KENDARINEWS.COM — Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Tenggara akan segera digelar di Kabupaten Buton. Tentu, gelaran ini membutuhkan banyak duit. Duit APBD Provinsi. Padahal kita sudah sama tahu bahwa, Rp 400 Miliar APBD kita akan digelontorkan untuk membiayai mega proyek pembangunan kantor Gubernur Sultra, 23 lantai. Terlepas dari kemegaan proyek ini, di balik itu terdapat suara protes masyarakat soal keputusan penganggaran mega proyek itu. Proyeknya luar biasa. Proyek bagus. Proyeknya akan menjadi icon tambahan di kemajuan pembangunan fisik Sulawesi Tenggara di masa Gubernur Ali Mazi selain tol Toronipa, selain tower RS Jantung, selain Gedung Perpustakaan, selain masjid tengah laut Al Alam, selain jembatan Bahteramas, namun tetap saja muncul kritik dan koreksi. Biasalah itu. Yang pasti bahwa, saya punya keyakinan bila Gubernur Ali Mazi punya sense of crisis dan karena itu, segala keputusannya dipertimbangkan demi rakyat Sultra, demi daerah Sultra, demi tanah kelahirannya karena Ali Mazi putera daerah asli Sulawesi Tenggara yang berarti juga, sepanjang hayatnya akan terus berada di Sultra.

Sejumlah mega proyek karya Ali Mazi yang tampak saat ini maupun yang akan tampak nantinya, bukan berarti mengabaikan aspirasi dan kritik masyarakat oleh karena tetap dijalankan. Tidak. Koreksi masyarakat tetap menjadi perhatian. Salah satunya, perhatian itu akan diterapkan pada hajatan Porprov Buton dalam waktu dekat ini. Di Porprov itu, bahkan setiap kali Porprov, masyarakat mengoreksi banyak hal di antaranya. Penggunaan anggaran, dikoreksi. Jumlah kontingen, disoroti. Jumlah dan status atlit, diprotes. Jumlah Cabang Olahraga (Cabor), dikoreksi. Fasilitas Latihan dan pertandingan, dipersoalkan.

Seluruh sorotan dan koreksi dilontarkan karena terkait dengan penggunaan anggaran daerah. Dianggap mubassir, menghambur-hambur anggaran. Memang bermanfaat tapi sepertinya, manfaat yang bernilai istidrads atau halal yang tak berkah. Walau secara hukum dibenarkan, tapi dari sisi integritas sesungguhnya ada sambo-sambonya sedikit. Kenapa?

Begini. Mempertandingkann Cabor yang secara nasional saja tak prestasi, lalu untuk apa dipertandingkan? Secara nasional saja masuk Cabor level afkir, kok di tingkat Porprov kok dimasukkan sebagai Cabor yang dipertandingkan. Dari sisi prestasi, ini tidak efektif dan tidak pula efisien. Dari sisi pendapatan, ya, pastilah dapat duit. Yang soe lagi, kepala daerah pemberi bonus, tanpa pikir dan tanpa analisa memberikan bonus seperti juga bonus medali pada cabang-cabang olahraga andalan masuk Sea Games atau Olimpiade, sebutlah dayung, sebutlah softball, karate, silat, altletik. Cabang sepakbola, walau tak diunggulkan di kelas PON sekalipun, cabang ini perlu dipertandingkan mengingat potensi prestasi dan perhatian public begitu besar.

Tapi kalau hanya Cabor gassing, adooh, ampun saya. Lebih menggelengkan lagi, kelas yang dipertandingkan di Cabang gassing juga banyak. Ada kelas Gassing lonjong, kelas gassing ceper, tunggal ceper, tunggal lonjong, beregu ceper, ganda campuran gassing gaba-gaba dan macam-macam. Atlit gassing juga terbatas. Pelatihnya hanya satu di seluruh wilayah. Begitu Porprov digelar, atlit gassing disebar di seluruh kabupaten. Kamu wakili kabupaten ini, kamu wakili kabupaten itu, dan seterusnya. Medalinya banyak. Bonusnya juga sudah pasti. Usai Porprov, ingka dia panen bela. Artinya apa? Artinya, duit negara habis, prestasi ck ck ck. Artinya apa? Artinya, Austalia juara pacuan kanguru dan Arab Saudi juara balap unta dan memang mereka harus juara karena hanya mereka yang Latihan kanguru dan latihan balap unta.

Sebenarnya, saya mau sebut jelas dan tegas nama-nama Cabornya, tapi demi menguji dan merangsang otak kejujuran dan obyektifitas, saya personifikasikan saja pada Cabor perkelahian kanguru dan Cabor pacuan unta.

Berangkat dari pengalaman dikoreksi dalam kegiatan pelaksanaan beberapa proyek mega besar, namun akhirnya sukses diwujudkan, pemerintah provinsi Sultra, sudah barang pasti akan mengoreksi dan melakukan pengetatan anggaran dalam hal pelaksanaan Porprov Pasarwajo sebentar nanti. Anggaran akan diketatkan seperti juga mengetatkan anggaran dan fokus pada pembiyaan pembangunan Gedung kantor gubernur 23 lantai. Memang, bukan apple to apple bukan pula apple to mango membandingkan anggaran Porprov dengan anggaran mega proyek kantor gubernur. Membandingkan porsi APBD untuk proyek Gedung 23 lantai dengan porsi APBD untuk Cabor Porprov kira-kira apple to ruruhi.(nebansi@kendarinews.com)

Penulis : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari News)

Komentar

Tinggalkan Balasan