oleh

Profesor Asal Muna Bicara Kemajuan Muna : Banyak Profesor-nya Tapi Tak Maju

KENDARINEWS.COM — Acapkali saya mendapat sindiran seperti ini: Sekampungmu banyak Profesor, tapi kenapa kampungmu tak maju-maju. Atau disindir begini: banyak Profesor dari Muna, tapi Muna begitu-begitu saja.

Bagaimana saya harus menjawab? Saya bukan Pemda Muna, jadi, saya tak bisa mengemukakan alasan hingga Pemda Muna tak memanfaatkan para guru besar untuk kemajuannya. Pun, saya bukan Profesor hingga saya juga tak bisa menyelami isi hati dan pemikiran para profesor untuk menceritakan ihwal kenapa tidak melibatkan diri atau memanfaatkan kepakarannya untuk kemajuan tanah tumpah darahnya: Muna.

Saya jawab: Sindiranmu itulah kemajuan Muna. Kalian akui bahwa banyak professor asal Muna dan bukankah itu fakta kemajuan Muna dari sisi bangunan sumber daya manusia? Woow. Seorang kawan memberi bantahan dan koreksi bahwa capaian professor itu bukan bangunan, juga bukan desain pemerintah. Capaian professor itu karena keuletan individu bersangkutan. Ibarat bibit tanaman, professor asal Muna tidak melalui pembibitan, tak pula disemai apalagi dipupuk. Profesor asal Muna ibarat tanaman adalah biji yang terbawa banjir lalu hanyut dan terpendam. Jikalau biji itu ternyata terpendam di dataran rendah yang berhumus, maka dia bisa jadi professor jika di kampus, bisa jadi kepala dinas jika di pemerintahan, dan bisa jadi pejabat politik di wilayah politik. Dan, bisa jadi Direktur di wilayah Bisnis. Jikalau biji itu ternyata menggelinding di tanah tandus, maka dia akan terus bertahan di strata dua jika ia dosen, akan terus nonjob jika di pemerintahan dan anggota fraksi balkon kalau ia aktif di politik.

Khusus para professor, mereka berada di posisi itu bukan by design pemerintah tapi by simsalabim. Maka itu, tak heran jika seseorang yang dikukuhkan sebagai guru besar, kebanyakan ucapan selamat untuk mereka diawali dengan kata: Eh Kasian La Fulan Eeee, anaknya bisa juga jadi professor. Bayangkan, anaknya dikukuhkan jadi professor, tapi ucapannya berawalan “sedih”: Kasihan. Tapi hebatnya, sedih yang diucapkan adalah kesedihan bersemangat bukan sedih nyuwun kawolasan.

Kayanya, di sinilah pangkal masalahnya. Dalam hal kepemerintahan dan kepakaran, kedua-dua sisi ini tak saling menguatkan. Pemda merasa tak punya andil terhadap keprofesoran sumber daya manusinya dan karena itu, tak kuat jiwa untuk menuntut balas budi. Sebaliknya, sang professor juga tak punya kewajiban moral untuk mendharmabhaktikan kepakarannya terhadap daerah asalnya. Akan lebih soe lagi bilamana dalam hal kebutuhan pakar oleh Pemda Muna ternyata diambil dari pakar lain yang bukan putera daerahnya,, sehingga sebagai manusia yang punya adrenalin, kebijakan Pemda yang mengambil pakar di luar perguruan tinggi lokal akan sangat mungkin melahirkan sikap antipati dan apatis. Kata orang Jakarta, Lu, lu, gua, gua dalam hal kegiatan partisipatif.

Oleh karena Pemda punya duit dan Profoser punya ilmu maka yang terjadi, bagi Pemda: ah, pakar ibukota lebih hebat kune. Bagi Profesor : Ah, Pemda lain lebih akomodatif kune. Akibatnya, pembangunan daerah dan masyarakat Muna yang bertahan pada status obyek penderita oleh karena tak mendapatkan triger dari kepakaran orang yang mengerti betul tentang dirinya dan tentang daerahnya. Tentu, pakar yang mengerti kearifan local tanpa harus berpayah-payah melakukan penelitian adalah pakar local itu sendiri. Dari sisi kesungguhan dan semangat, juga akan akan berbeda antara professor lokal dengan “interlokal” dalam hal partisipatif pembangunan daerah.

Oleh karena Pemerintah Daerah itu adalah organ, maka dibutuhkan lobi dan pendekatan untuk meyakinkan. Sementara, guru besar hanya dengan miscall atau japri via WA untuk diyakinkan.

Inilah pendapat para Profesor itu :

Prof. La Niampe

Prof. La Rianda Baka

Prof. La Ode Aslan

Prof. Usman Rianse

Prof. La Taena

(nebansi@kendarinews.com)