oleh

Prof. Usman Rianse : Saatnya Membuka Diri dan Membangun Kerja Sama dengan Pemerintah Daerah

Guru besar itu pragmatis, memilih tidak mau berdebat, kemudian ragu untuk berbeda. Para guru besar ragu untuk berdeda. Biasanya diambil dari kebenaran tunggal. Makanya, lebih lama diskusinya daripada mengambil keputusan. Guru besarnya pragmatis.

Ketika kita guru besar, — bukan lagi guru besar khusus daerah Muna– mana yang mau senyum dan kesempatan memberi uang, yah, kita kerjakan karena kita juga dibebani oleh tugas kinerja. Akhirnya ya itulah tadi. Yang dipilih pragmatis, kemudian memilih nyaman. Mana kira-kira yang bisa bersahabat. Kemudian ya, itu tadi, ragu . Mengambil inisiatif juga ragu.

Untuk bisa produktif? Kita terlalu lama diskusinya. Miina omorarae gara derabuumu olembaga itu ingka taampahimu ampa aitu miinaho nanumando pelantikanno? (tidakkah memperhatikan pembentukan Lembaga Budaya Muna yang sampai sekarang belum ada pelantikan?). Itulah indikator kepakaran kita. Kepakaran kita tergantung fiuno kawea (arah angin). Hamai kafiuhano kawea, aituhaemo (dimana angin mengarah, disitulah). Kita tidak punya footwork (tumpuan) yang kuat untuk menunjukkan diri bahwa kita punya basis kekuatan. Bahwa kita itu punya peranan yang signifikan.

Oleh karena itu, kalau saya, tidak usah menyalahkan atau tidak boleh melihat suka dan tidak suka dalam hal peran kita ke pemerintah daerah. Siapa yang ahli di situ, itulah yang harusnya didahulukan. Karena kita ini tidak bekerja individual. Ada kebijakan pimpinan, kemudian Pemda Muna juga ada pimpinan.

Saya kira, saya juga pernah jadi rektor, masalahnya juga tidak jauh-jauh beda antara pragmatis, rasa nyaman dan ragu untuk melakukan tindakan. Dulu ketika saya menjabat rector, ada program guru menginspirasi tapi setelah itu berakhir. Jadi bagaimana kita motivasi. Sebenarnya, intinya kan kegairahan anak-anak muda, anak-anak sekolahan, macam kita ini kan dulu, macam Bapak juga (Onggi Nebansi) jadi Direktur seperti sekarang itu kan seperti mimpi saja.

Oleh karena itu, tidak boleh lagi seperti itu kita punya generasi. Mereka harus diberikan contoh lebih cepat. Jangan karena selalu suksesnya itu karena kebetulan, karena kekuatan mengadu nasib. Jadi harus terorganisir. Anaghaemo nagha kakurangano intaidiimua (itulah kekurangan kita). Indodi (saya) terus terang idia, boleh bapak tulis: Saya ragu berbuat karena jangan sampai dikira mau apa. Jangan sampai saya dikira mau sesuatu.

Harus ada dialog. Dalam gagasan-gagasan itu harus ada dialog. Walaupun dalam ruangan tertutup dan berpanas-panas, ndak apa-apa untuk menemukan cara atau percepatan. Kita juga tidak bisa menyalahkan guru besar atau ilmuwan begitu saja, karena media kerja juga tidak leluasa seperti yang dibayangkan.

Misalnya, bidang A, gara dokaradjaae (ternyata digarap) bidang D. Damafaane, aituhaemo meghawano rekomendasi (mau diapa, itulah yang dapat rekomendasi). Yang gagas si A yang lanjutkan si C. Karena memang begitu. Pak Habibie mengatakan bahwa sulit sekali pelanjut itu melanjutkan yang dia ganti. Itu keterlambatan orang Indonesia, bukan saja orang Muna. Orang Indonesia itu lambat karena enggan untuk melanjutkan dan enggan untuk berbeda dengan kecenderungan umum.

Kadang-kadang kita mau pakai teori, ya, teori itu tidak selalu cocok dengan kebutuhan praktis. Intaidiimu (kita) mau pelan, tapi yang mau eksekusi mungkin mau cepat. Saya berikan contoh, di Muna itu mestinya penguatan aspek Pendidikan, bukan saja Pendidikan formal tapi Pendidikan informal, Pendidikan mental spiritual.

Sumbangsih Keprofesoran Usman Rianse di Muna? Kalau professor saya ini, kalau saya ditanya di Muna, ya, saya bisa berkontribusi sebenarnya. Tapi tadi, ruang untuk kita maju sama besarnya dengan ruang untuk ditekan. Lelah kita kalau berpikir maju. Sementara yang lain bilang, noafa anoagho (kenapa harus dia). Itu masalahnya. Saya berikan contoh dari sisi demokrasi saja mislanya, tidak dilihat isi kepala, tapi dilihat isi tas. Saya kira Bapak juga potensial untuk menjadi pemimpin di Muna, tapi saya pikir perasaan Bapak sama dengan saya. Hahaha. Anaghae nagha (begitulah).

Oleh karena itu, harus pintar-pintar bersahabat dengan mereka. Bukan memusuhi. Kalau keprofesoran saya itu untuk orang Muna, ya, agar saya bisa membuka ruang berpikir orang Muna, dengan cara, misalnya, kita bikin Lembaga Muna, saya didaulat menjadi Ketua Formatur, saya tidak jadi Ketua Lembaga. Saya mau tunjukkan kepada mereka bahwa Ketua Formatur itu bukanlah mutlak harus jadi ketua. Saya mengerti diri.

Untuk tidak terjadinya tumpang tindih maka, karena guru besar itu bukan segala bidang, maka seharusnya mengerti diri juga. Ooww soano dawuku ainia (bukan bagian saya), bukan bidang saya. Kalau saya, terus terang belum terlambat kalau kita mau tulus kita bicara membangun daerah. Jadi kita punya pikiran dipakai saja oleh pemerintah. Dengan tidak terasa sebenarnya, pikiran-pikiran kami juga (professor) itu digunakan. Ya, kadang-kadang tidak disampaikan. Contoh, Pelabuhan Tondasi. Tondasi dulu itu lahir dari gagasan Kerjasama Bappeda Muna dengan UHO Kerjasama dengan CIDA Canada. Maksud saya, akademisi juga jangan terlalu masuk ke politik dan mempolitisasi sesuatu.

Saya tidak mau salahkan orang lain. Kita harus menyiapkan diri, belum terlambat, kita bisa karena kita juga. Kemampuan sumber dana kita kompetisi di Jakarta sana. Tidak bisa juga mencapai semua kebutuhan masyarakat maka harusnya ada sumber modal untuk pengembangan.

Ada tiga yang perlu saya sampaikan. Kerjaku saya dulu jadi Rektor itu membangun Fakultas Kedokteran, Alhamdulillah Keperawatan juga sudah selesai, dilanjutkan oleh Pak Rektor. Jadi, sudah devinitif. Berikutnya, Pendidikan harus diberikan akses untuk semua.

Kalau Anies Baswedan, misalnya membuat keadilan dalam pajak, maka sebaiknya kita harus ada keadilan juga dalam uang Pendidikan bagi anak-anak yang memang lahir dalam ruang yang kurang baik. Biaya pendidikannya, kesehatannya, dan yang paling penting itu tadi, namande kaawu, naoghosa kaawu ani panakokepe (walaupun dia pintar, dia kuat tapi tak punya duit), tidak ada ekonominya maka susah. Itu yang penting dikerjakan bersama-sama secara transdisipliner. Dan, saya kira saatnya sekarang kita ilmuwan ini membuka diri, membangun kerjasama dengan pemerintah daerah. Tidak peduli siapa pemerintahnya dan siapa itu guru besarnya. Yang ada adalah kita punya komitmen kebersamaan untuk membangun daerah kiita masing-masing. Sambil kita juga tidak melupakan tanggungjawab kita sebagai ilmuwan untuk kehidupan orang.

Saya ini guru besar bidang sosial ekonomi, jadi tidak terlalu kaya, suka memberi. Tidak miskin tapi suka membei. Hahahaha. Itulah sosial ekonomi, bukan ekonomi bisnis. Ya, itu, sila kelima (Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia). Kalau tidak bisa memberi dengan uang, bisa memberi dengan tanda tangan. Insya Allah.

Sakotughuhano mokesano inia, meintarahino katuko ampa aitu (yang baik sebenarnya, para pimpinan daerah saat ini), jangan lagi pakai gaya ngkodau (lama), harus mulai terbuka. Indodi nagha fekiriku kabhari, maka aotehi bela. Aotehi abisara. (saya ini punya banyak gagasan, tapi saya ragu. Saya ragu bicara). Kalau terlalu dekat dikira kita mau mendapatkan sesuatu posisi. Oh, jangan. Seperti wawancara sekarang ini, saya ini respon diwawancai oleh Bapak, karena meminta pertimbangan. Kalau tidak, oww, buat apa juga.

Satu hal penting dalam apa yang kita sudah jelaskan di atas bahwa, dibutuhkan keihlasan. Kita belum tulus kepada orang lain. Malah, kita dituduh merusak jalan hidup orang. Itu kan tidak bagus. Kita kembalikan kepada persoalan Allah. Kita belum selesai dari aspek keihlasan. Kita tidak berpihak kepada A maka kita itu musuhnya A, oh tidak. Gerakan pikiran kita itu tidak dalam kendali kita secara otomatis. Kita dikendalikan oleh yang maha pencipta. Seperti sekarang ini saya merespon Bapak untuk diwawancarai, jangan dikira tidak ada campur tangan Allah. Jadi, kita butuh duduk Bersama. Akademisi menjadi tidak bermakna kalau tidak bisa bersama dengan birokrasi eksekutif dan legislatif.

Hal lain bagi saya, sekarang itu para akademisi harus bekerjasama dengan para kepala desa. Supaya kepala desa punya leadership yang bagus untuk membangun daerahnya. Kepala desa kan punya duit (anggaran). Kerja sama dengan para kepala desa ini tidak perlu profesor, cukuplah doktor-doktor muda, atau master-master yang cerdas, tidak harus orang kampus, tapi artinya, kita harus mampu membantu para kepala desa karena masa jabatannya lama dan ada anggaran. Kalau kepala desa tepat memilih program, sudah disitulah intinya tiga aspek tadi. Kesehatan, Pendidikan dan ekonomi. Ketiganya ini tidak boleh berat sebelah.

Misalnya ada program Desa Wisata. Apa maksudnya ini, jangan sampai desa wisata diartikan dengan cet pagar, Padahal kan ada ternak sapi, ada ternak ayam, ternak kambing, tanam ubi. Tapi, jangan sampai ada kepala desa mengartikan desa wisata dengan cet pagar dll. Tapi, ini semua harus didudukan bersama.

Memang, perguruan tinggi ini tidak cukup lagi dengan tri dharma. Harus Panca Dharma. Dharma keempat itu, implementasi inovasi. Implementasi inovasi yang saya maksudkan bukan pengabdian pada masyarakat pakai proposal dan selesai dalam satu bulan itu. Bukan. Tapi, harus kreasi inovasi. Inovasi dalam hal yang besar, bukan inovasi yang sekadar mendapat paten tapi, paten yang bisa digunakan. Ya, paling tidak, dijadikan tri dharma plus.([email protected])

Prof. La Niampe

Prof. La Rianda Baka

Prof. La Ode Aslan

Prof. Usman Rianse

Prof. La Taena

Komentar

Tinggalkan Balasan