oleh

Prof. La Ode Aslan : Kumpulkan Orang-orang Muna yang Sukses di Rantau

Persoalan mendasar kita, tapi ini mohon maaf ya, saya berbicara sebagai seorang pemikir bahwa, kita memang tertinggal. Bandingkan dengan orang Wolio. Orang Wolio atau orang Mawasangka. Mereka itu pemikiran bisnisnya nampak, kebanyakan bergerak di sektor ekonomi, pedagang. Mereka mengedepankan aspek sejahtera baru masuk ke dunia politik. Kita di Muna, mohon maaf sekali lagi, mendahulukan politik baru kejar sejahtera. Yah, syukur-syukur kalau dia sejahtera, kalau tidak, baku bombe-bombe.

Sekarang jujur saja, berapa orang kader Muna yang siap secara ekonomi untuk bertarung di 2024 baik tingkat daerah maupun nasional? Kita ketinggalan dari aspek ekeonomi. Kita ini, biar miskin urus politik. Sekarang susah, dengan cost politik yang tinggi. Orang miskin tidak bisa jadi pejabat sekarang ini. Saya melihat, kita lemah dari aspek bisnis.

Saya secara pribadi pun, mengakui bahwa saya lemah dari segi usaha. Saya memikirkan usaha setelah tua seperti ini. Seharusnya, ya, jujur saja. Kita surveylah, ada berapa banyak generasi Muna yang, mohon maaf, jurusan tehnik, kan jarang. Kita lemah untuk ekspansi mendorong Muna itu. Ujungnya kan kesejahteraan. Saya bicara Muna hari ini, jujur, APBD itu untuk bayar pegawai, bagaimana professor-profesor ini melakukan simsalabim. Artinya, mengharapkan APBD sama dengan mengharapkan anak kita menjadi pegawai negeri. Biar professor, tidak ada hubungannya dengan ekonomi. Tidak ada professor ekonomi. Profesor tidak berpikir ekonomi, hanya kejar pangkat.

Betul apa yang Bapak-Bapak katakan. Apa gunanya Profesor Muna seabrek tapi ndak ada gunanya. Yang ada sekarang ini, kita (Profesor) hanya kejar pangkat, hanya urus istri dan anak. Ndak bisa. Kalau mau sejahtera, pikirkan di luar keluarga inti. Ciptakan lapangan kerja.

Sekarang, ada berapa professor kita yang menciptakan lapangan kerja? Ndak usah bicara professor dari Muna deh, di kampus saja berapa professor yang kasi kerja orang? Masih bagus orang yang tidak professor tapi dia kasi kerja 50 orang karyawan, 100 orang karyawan. Saya sebut saja contohnya Hotel Berlian (Raha), berapa karyawannya. Kita orang Muna ini hanya berputar-putar di situ saja.

Untuk berkontribusi di Muna, jujur saja, saya punya kendala psikologis. Terutama dari aspek Bahasa. Saya lahir dan besar di Makassar. Bisa bahasa Makassar tapi ndak bisa Bahasa Muna. Bagusnya kan kalau disampaikan dalam Bahasa daerah. Pertanyaan saya, bagaimana dengan teman-teman yang pintar Bahasa Muna, lahir di Muna, harus lebih dari saya.

Pak Rusman Bupati Muna saya pernah beritahu. Saya bilang, Pak, Bapak itu tinggal periode ini untuk mencapai mimpi besar. Kita diundang. Beliau moderator. Apa terjadi? Setelah berkali-kali rapat, kita juga hadir, hasilnya apa? Nol. Padahal awalnya bagus. Profesor diundang. Saya diundang. Pak Anas Nikoyan diundang. Mungkin Pak Andi Bahrun diundang. Tapi kan, setelah terpilih di periode kedua, seperti apa.

Kita datang kan tidak digaji. Dengan uang sendiri. Kita ini bangga kalau diundang Bupati untuk pulang kampung. Ndak usah dipikir ongkos kapal, rumah tempat tinggal. Jangan berpikir professor itu mau makan uang di Muna. Kita juga kan malu kalau minta-minta. Masa’ Profesor minta proyek di Pemda Muna. Kalau ndak diundang ya sudahlah. Cuman kan bagusnya Pemda ngundang kita.

Datangkan orang-orang Muna yang hebat di rantau. Panggil pulang. Kalau sudah dipanggil dan ndak mau datang, ya, sudahlah. Mestinya, dari Pemda panggil dulu pulang orang-orang yang sukses di perantauan. Kita ini kan semua keluarga. Saya pun dengan Pak Onggi masih ada hubungan keluarga. Persoalannya, diundang ndak. Banyaknya orang Muna yang hebat-hebat di Jakarta. Tidak usaha bicara Unhalu (UHO), di luar Unhalu banyaknya minta ampun yang pintar. Tapi kan yang kita cari adalah orang yang pintar dan punya duit untuk bawa investasi ke Muna. Tapi, apa yang dilakukan Pemda Muna. Adakah upaya memanggil?

Lihat itu Jusuf Kalla, dia bikin forum saudagar Bugis Makassar. Kenapa kita tidak membuat forum sejenis. Kita bikin forum Saudagar Muna. Saya terinspirasi dengan Jusuf Kalla. Orang-orang Bugis Makassar yang sukses di perantauan hingga luar negeri disuruh pulang hingga ada pertemuan besar.

Kenapa kita orang Muna yang sukses dirantau tidak dipanggil? Siapa tahu dia punya jaringan, punya relasi. Kalau kita hanya mengharapkan APBD, omong kosong. APBD hanya habis untuk gaji pegawai. Bagaimana kita mau kembangkan Muna. Sekarang Rusman tinggal dua tahun jadi Bupati. Terlambat.

Panggillah saudara-saudara kita yang hebat-hebat di luar sana. Mereka punya modal, punya relasi.

Terus terang, saya kagum dengan Anies Baswedan. Memang Jakarta itu kaya, tapi yang lebih kaya dari Jakarta juga ada. Kalimantan Timur itu lebih kaya dari Jakarta, tapi kan Anies menghargai orang-orang pintar. Konsep-konsepnya ada, tim khususnya yang menggagas. Ada bus Trans Jakarta yang pakai elektrik, ini kan luar biasa. Perlu kita tahu siapa orang-orang di belakang Pak Anies. Seharusnya kan bupati kita ini menarik orang pintar membikin dapur khusus para pakar, berdebat di situ, kalau bisa baku pukul-pukul meja yang penting keluar satu konsep membangun.

Terus terang saya mengagumi Anies Baswedan. Ini orang tidak punya uang tapi punya otak. Kalau profesornya orang Muna tidak ada yang bisa, cari professor di luar orang Muna yang penting pintar dan punya kreasi silahkan undang. Kalau itu terwujud, saya yakin cepat berkembang. Orang Muna itu tidak ada bodohnya, tapi kelemahan kita adalah mengorganisir orang-orang pintar ini.

Kalau saya melihat, Muna itu kuat sekali. Otaknya pintar-pintar, tinggal bagaimana mengorganisir mereka termasuk para professor. Biar saja mereka ribut dalam rapat yang penting keluar konsep apa yang bisa dilakukan untuk menaikkan PAD Muna, mengurangi ketergantungan terhadap APBD, melahirkan wirausahawan generasi milenial.

Harus kita rubah. Anak-anak kita itu kalau saya perhatikan di sini, ada yang mengambil jurusan xxx, kenapa kamu ambil jurusan itu nak, jurusan mati itu, kenapa tidak ambil jurusan isi pulsa. Mestinya, Pemda mengarahkan, misalnya kuliah di jurusan kewirausahaan, ekonomi bisnis, hukum bisnis, adminstrasi bisnis, IT lalu Pemda Muna kasi beasiswa. Tapi jangan masuk jurusan mati. Aduh, anak-anak kita tidak diarahkan.(nebansi@kendarinews.com)

Prof. La Niampe

Prof. La Rianda Baka

Prof. La Ode Aslan

Prof. Usman Rianse

Prof. La Taena