oleh

La Kepe Titip Salam ke Irjen Sambo

KENDARINEWS.COM — Dari keterangan Pers Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, terdapat tiga ancaman hukuman yang dikenakan kepadamu. Satu, penjara maksimal 20 tahun. Dua, penjara seumur hidup. Tiga, hukuman mati. Kasihan kamu. Bukan kamu yang kasihan, tapi, isterimu, anak-anakmu, dan keluargamu. Bayangkan, orang yang mereka anggap sokoguru pertolongan berubah menjadi orang yang harus ditolong. Bayangkan, orang yang mereka anggap sebagai sumber nasehat, berubah dinasehati. Bayangkan, orang yang menjadi kekuatan jiwa berubah menjadi pelemahan jiwa.

Andai dikau Muslim, saya ingin beritahukan pesan Allah SWT seperti ini: “Fa biayialaa irabbikumaa tukazzibaan” yang berkali-kali Allah sebutkan dalam surat Ar-Rahman. Nikmat apalagi yang kau cari. Pangkat dua bintang di pundakmu masihkah disanksikan nikmatnya? Kamu diinapkan di Mako Brimob, itu artinya, ada tindakan kesalahan. Kamu diancam hukuman berat, itu artinya ada tindakanmu yang salah. Masih kurangkah nikmat yang kamu dapat? Bukankah dengan pangkatmu kamu bisa berbuat apa saja? Jangankan pangkat Irjen, Aipda saja bisa jadi Bupati. Kalau Aipda bisa jadi Bupati di Kolaka Timur, lalu Irjen bisa dijadikan apa? Kalau AKP bisa jadi Wakil Bupati di Buton Utara, maka Irjen mestinya “kacang-kacang” untuk dijadikan Gubernur. “Kacang-kacang” ialah, istilah anak muda Sultra untuk urusan yang enteeeng bangat. Trus, nikmat apalagi yang kau cari?

Eits… jangan salah, pesan Allah tentang : “Fa biayialaa irabbikumaa tukazzibaan (nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan)” bukan berarti dengan keadaanmu saat ini, atau kelak kamu dihukum, ayat itu tidak lagi mengena kepadamu. Oh, Tidak. Tetap, Tetap mengena. Kamu tetap harus beryukur. Juga, bukan berarti setelah kamu diinapkan di Mako Brimob, lantas ayat itu tidak berlaku lagi untukmu. Tidak. Tetap berlaku. Kamu harus tetap beryukur, Paling tidak, perlakuanmu selama dalam tahanan pastilah berbeda dengan perlakuan terhadap La Pati selama dalam tahanan akibat kasus pil koplo. Walaupun 20 tahun di dalam sel Mako Brimob, pesan Allah ini tetap berlaku. Syukuri itu, karena masih ada orang yang tak seberuntung dirimu saat ini. Tetap syukuri itu nikmat.

Nikmat apalagi yang kau dustakan. Coba kita reken nikmatmu dan nikmatnya, La Kepe, laki-laki renta yang bertetangga dengan saya.

Nikmat 1, Hari-harimu didampingi ajudan bersenjata, La Kepe tanpa ajudan, bahkan pernah dengan kesendirian ketahuan sakit selama dua hari dalam rumahnya tak ada yang jenguk..

Nikmat 2. Istrimu didampingi ajudan bersenjata, La Kepe sudah ditinggal mati istrinya. Dia tak berani lagi menikah karena tak punya duit untuk bayar mahar.

Nikmat 3. Tentu kamu punya rekening entah berapa nilainya. La Kepe, menyimpan uang di bawah bantal dan tak punya rekening karena memang tak ada duit yang bisa ditabung.

Nikmat 4. Rumahmu ditanggung negara, Rumahnya La Kepe hanya ukuran 4m x 6m, itupun atapnya dari berbagai sisa atap tetangga. Kamu bercita-cita jadi Jenderal, La Kepe bercita-cita agar dapat program bedah rumah dari BSPS (Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya) yang sampai sekarang belum dapat. Dia mau urus untuk dapat bedah rumah di kantor kelurahan, La Kepe tak berani. Kalau masuk kantor Lurah, ketakutan La Kepe kira-kira setara dengan ketakutan kita masuk istana presiden.

Nikmat 5. Banyak orang yang hormat dan melempar senyum kepadamu dengan harapan. La Kepe banyak memberi senyum dan tunduk kepada siapapun yang ia temui, dengan harapan.

Nikmat 6. Kamu bisa memilih restoran mewah manapun untuk sarapan pagi, santap siang, dan santap malam. La Kepe, makanan tercanggihnya hanya Indomie Telur. Bahkan, pernah suatu ketika, La Kepe memasak ubi kayu di atas dalika (tungku batu), kayu bakarnya batang ubi kayu, sayurnya daun ubi kayu dan lauknya sayatan mangga hiku. Namun hebatnya, orang tua renta ini tampak tetap happy. Sambil seruput kuah daun ubi, La Kepe berteriak lalu tersenyum: Woow kapera (sedaap). Ini fakta, bukan hoax, Kalau tidak percaya, tanya La Taabi SH, Lurah Lalodati, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari.

Nikmat 7. Kamu memberi atas kelebihanmu lalu didoakan. La Kepe menunggu pemberian orang yang sanggup memberi lalu ia doakan. Saya pernah memberi selembar duit kepada La Kepe lalu ia berdoa. Begini doanya: Sio-siomo napotubhari radjakiimu. Sio-siomo okakawasa namaangko omuru mewanta. Sio-siomo sokaengkorahamu satee-teewawo. Sio-siomo okakawasa namekakodoho angkoe balaa, Panamosakiko. Ani omosaki, madaho aosaki angko idi. (Artinya: Dengan nama Allah, mudah-mudahan rejekimu bertambah, ditunjukkan jalan yang benar dan dijauhkan dari jalan salah, dihindarkan dari segala bencana dan malapetaka, dijauhkan dari penyakit, kalaupun Allah memberi sakit, biarlah saya yang sakitkan.

Nikmat 8. Saking banyaknya nikmat yang diberikan kepada Irjen Ferdy Sambo, hingga untuk menuliskan nikmat-nikmat selanjutnya, justeru saya teringat lagunya Rhoma Irama yang penggalan liriknya begini: “Seratus Tiga Puluh Lima Juta, Penduduk Indonesia. Terdiri dari Banyak Suku Bangsa, Itulah Indonesia. Ada Sunda, Ada Jawa, Aceh, Padang, Batak. DAN MASIH BANYAK YANG LAINNYAAA. Begitu pula nikmat Irjen Ferdy Sambo: DAN MASIH BANYAK YANG LAINNYAAA.(nebansi@kendarinews.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan