oleh

AIPDA Rasa KOMBES

KENDARINEWS.COM — Tanpa Sespim, Aipda setara Kombes. Karena itu, jangan takut hidup. Bukan kamu yang atur hidupmu. Contohnya? AIPDA itu kini setara KOMBES.

Karena itu, jangan terbelenggu dengan kemiskinanmu. Bukan kamu yang takar rezekimu. Contohnya? AIPDA itu, kini setara KOMBES.

Karena itu, jangan sombong dengan kekayaanmu. Bukan kamu yang bikin kaya dirimu, sebab tak sedikit orang yang lebih dahulu berakhir kekayaannya sebelum berakhir hidupnya. Contohnya? Banyak.

Karena itu, gunakan jabatanmu secerdasnya untuk kepentingan rakyat di kemudian hari. Sebab, bisa jadi suatu ketika nanti, kamu akan terbelenggu dengan keputusanmu sendiri ketika menjabat. Dan, ketika kamu melakukan protes atas hal yang merugikan dan membelenggumu, kamu tak ditanggapi karena pejabat saat anda protes bukan lagi dirimu. Kamu sudah pensiun. Contohnya? Keputusanmu menaikkan PBB dalam kota, setelah kopensiun, kamu kesulitan bayar PBB dan akhirnya, tanahmu terpaksa kojual karena tak bisa bayar PBB. Tobat. Makanya, hapus itu PBB. Tapi bagaimana dengan pendapatan daerah tanpa PBB? Hhmmm mblegedus. Preketek. Sok. Uang hasil jual belanga di dapur kok disebut pendapatan?

Karena itu, jangan pesimis dengan status staf yang tak pernah jadi pimpinan. Karena itu, jangan pandang enteng staf yang tak berpangkat, karena perjalanan hidup ini gaib. Bisa terbolak balik. Contohnya? AIPDA Itu, Kini Setara KOMBES.

AIPDA Itu, Kini Setara KOMBES. Bayangkan. Tanpa Sespim, AIPDA bisa menempati posisi jabatan setara Komisaris Besar (Kombes). Contohnya? AIPDA Abdul Azis. Negara, sudah memilih dia sebagai Wakil Bupati Kolaka Timur (Koltim). Tinggal menunggu surat keputusan (SK) Mendagri untuk dilantik sebagai Wakil Bupati. Dan, UU mengatakan, bila bupati berhalangan tetap, maka wakil bupati yang menggantikan posisinya. Artinya apa? Azis memang wakil bupati tapi, Bupati ji sebenarnya.

Wakil Bupati Kolaka Timur, Abdul Azis

Yang pasti bahwa, AIPDA Abdul Azis sudah harus mempersiapkan diri untuk menunnjukkan dirinya sebagai orang nomor satu di Kolaka Timur. “Saya tidak cari kedudukan, tapi saya ingin mendudukan Koltim agar sejahtera,” demikian salah satu kalimat yang dilontarkan Azis dalam sebuah obrolan.

AIPDA Abdul Azis memang belum punya pengalaman memimpin. Di Kepolisian, dia hanya bintara. Di pemerintahan, dia hanya ajudan Gubernur Sultra, Ali Mazi, SH. Tanpa pengalaman memimpin, tiba-tiba terpilih sebagai orang nomor satu di Kolaka Timur. Inilah tantangannya.

Rakyat tidak butuh pemimpin yang berpengalaman. Masyarakat tak butuh pemimpin yang mahir mengeluarkan perintah komando. Tidak. Rakyat tidak butuh itu. Yang dibutuh adalah, kepekaan pemimpin atas nasib rakyatnya. Yang dibutuhkan rakyat adalah ketajaman berpikir pimpinan atas peluang dan potensi mensejahterakan dan memakmurkan rakyatnya. Untuk apa pengalaman, jika kekuasaan bupati hanya digunakan untuk diri dan kelompoknya? Untuk bupati yang berpengalaman jika pengalaman itu hanya pengalaman kolusi, pengalaman korupsi, pengalaman nepotisme dalam jabatan, pengalaman mencari duit melalui proyek, jabatan, dan fee setelah sukses menjolo anggaran?

Karena itu, tepatlah Abdul Azis menunjukkan dirinya bahwa ia datang ke Koltim bukan menjadi kedudukan, tapi, menndudukkan Koltim agar rakyatnya sejahtera. Ini bisa kita yakini oleh karena Abdul Azis belum punya pengalaman.


Karena tak punya pengalaman tadi, maka Abdul Azis ibarat kertas putih. Stylenya kertas putih. Mau dikasi tinta warna apa kertas putih itu, maka itulah warnanya.

Bagi Abdul Azis yang polisi staf dan ajudan, ini juga adalah tantangan yang butuh pembuktikan bahwa: (satu) seorang yang backgroundnya polisi ternyata dalam ke-bupati-annya bisa bertindak jujur, adil dan mengayomi. (Dua) style kepemimpinan seorang mantan ajudan gubernur ternyata mirip kepemimpinan orang yang diajudani, dan karenanya kita bisa mebayangkan bahwa style kepemimpinan Azis tak akan jauh-jauh dari style Gubernur, Ali Mazi.

Bagi masyarakat Kolaka Timur, yakinlah bahwa Abdul Azis telah menghijabi dirinya dalam tiga kanal kebaikan. Pertama, Azis tentu akan menjaga diri untuk tidak mempermalukan korps asalnya kepolisian. Kedua, Azis juga akan menjaga diri dan mempraktekkan segala kebaikan dalam manajerial pemerintahan yang ia saksikan bersama Gubernur Ali Mazi. Ketiga, Azis menyadari bahwa jabatan saat ini hanyalah sisa waktu hingga 2024. Abdul Azis punya keinginan untuk menjabat 5 tahun utuh atau 10 utuh. Dan, untuk menuju ke arah ini, syaratnya: tunjukkan dirimu bahwa kamu memang Bupati yang didambakan.

Artinya, Bersama Abdul Azis tidak ada keraguan. Sesungguhnya, dipilihnya Abdul Azis sebagai Bupati adalah kemenangan mayarakat Kolaka Timur. Ini bukan Winto, tapi fakta dan isyarat kesejahteraan untuk rakyat Kolaka Timur. Memang, untuk sementara ini terkesan Winto tapi pada dua tahun kedepan anda akan mengatakan bahwa tulisannya Pak Onggi Nebansi itu benar. Nanti kita lihat. (nebansi@kendarinews.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan