oleh

Panen Dolar di Tanjung Pemali

KENDARINEWS.COM — Di ruang kemudi kapal cepat Kendari-Raha-Baubau, dengan bangga ia cerita. Materi ceritanya hanya tiga kata: Exca, Truk dan Tongkang. Asal dia bicara pasti mengandung salah satu di antara tiga suku kata itu. Exca, truk, tongkang. Orang-orang pada melongo ke arahnya. Mendengar cerita. Termasuk saya.

Ya. Memang, ia diperkenalkan kepada saya sebagai pengusaha tambang. Saya manggut-manggut. Tak membuka bibir.

Dengan riang ia cerita. Sekali pengapalan ia bisa kantongi duit dua setengah em. Saya decak. Ck Ck tapi tak kagum. Tak kagum karena saya perhatikan urat-urat wajahnya, urat sikunya, ponte di lambinya, ada bate bokka di kepalanya, ada otore di sudut bibirnya seperti pernah kena tepogo, Dalam hatiku: bisanyaee. Saya tidak sedang menggugat Tuhan yang punya prerogatif memberi rezeki. Tidak, tidak sama sekali. Bukankah banyak contoh, tak sedikit orang bersih mulus tapi ngkima-ngkima, rekoso, dan susah rezeki. Sebaliknya, tak sedikit pula yang dekil mrongos tapi berkunjung ke dealer mobil, karung duit yang dia bawah, dia pikul balasenya uang ke dealer.

Di ruang kemudi, ia terus berbicara. Sambil menggenggam bungkus rokok, ada tas jinjing, sepatu bermerk, ia terus cerita Exca, truk dumping, dan tongkang. Agak reda ceritanya, setelah kapal terayun ombak Tanjung Pemali di segitiga Konawe Selatan, Konawe Kepulauan dan Buton Utara. Maklum, ombak laut Banda yang bebas itu memang harus terbentur di kaki pegunungan di Laonti yang bersambung hingga air terjun Moramo itu.

Di sisi kiri Laut Banda. Di sisi kiri pegunungan. Gunungnya masih “perawan”. Sudah sekitar dua tahunan saya tak pernah melintas di jalur ini jika bepergian ke daerah kepulauan. Selama ini, saya menggunakan jalur darat. Tentu, masih disambungkan dengan kapal fery milik ASDP, via Torobulu-Tampo atau Amolengo-Labuan.

Lepas pulau Cempedak, saya kaget saat menengok kearah gunung. Sudah dua tahunan saya tak pernah melintas. Sekarang, saya melintas lagi. Wow, saya kaget. Benar-benar kaget. Sudah satu gunung terkoyak. Masih ada gunung yang sudah dirambah tapi kayaknya sebentar lagi juga akan terkoyak.

Di ruang kemudi kapal cepat, orang-orang masih mengitari si Tarzan Miliar. Telingaku saya pasang untuk mendengar cerita Exca, truk dan tongkang, tapi mataku memandangi pegunungan Laonti yang sudah terkoyak. Nampak jelas penggundulannya. Semakin jelas kawasan yang gundul karena di lokasi ini memang hanya hutan dan, tak ada kebun dan pemukiman. Oh, ternyata ini ada kaitan dengan cerita Exca, truk dan tongkang tadi. Di mana-mana kawasan gundul di Sultra ini, pasti berkaitan dengan aktivitas Exca, truk dan tongkang.

Orang-orang menyebutnya pengusaha tambang. Tapi, saya kok tidak ihlas menyebut mereka sebagai pengusaha tambang selain: penjual tanah galian. Tambang, kan ada produk baru. Ini belaee, hanya Exca yang gali-gali tanah trus diangkut dengan truk, lalu diangkut ke atas kapal tongkang, setelah itu terima duit besar. Bayangkan, karucu-karucunya saja ngomong begini: sekali pengapalan bisa dapat dua setengah em. Dalam hatiku: apa tong pakannu?

Karucunya saja sudah parlente seperti itu. Bagaimana lagi dengan tuannya? Jual tanah galian dengan bayaran gede. Saya lalu terngiang materi diskusi dengan Bupati Buton, La Bakry. Perusahaan Daerah susah dapat IUP. Di satu sisi, perusahaan daerah susah dapat IUP, di sisi lain, ada pribadi-pribadi yang statusnya tak hebat-hebat amat, begitu enteng dapat IUP. Saya tidak tahu, apakah IUPnya atau IUP orang lain yang dipegang. Tapi bahwa, pribadi mendominasi kepemilikan IUP dan perusahaan daerah kesulitan dapat IUP.

Menulis apakah ini? Maksudnya apa? Maksud saya begini. Di tengah pemerintah mengeluarkan kebijakan pemulihan ekonomi nasional (PEN), itu artinya, ekonomi nasional kita sedang terkoyak. Jika penerimaan negara bukan pajak (PNBP) saja dari satu IUP bisa bunyi tarusan miliar dan itu prosentasenya tergolong kecil, lalu berapa besar duit yang dikumpul pemilik IUP? Pemilik IUP ini kan pribadi dan kelompoknya. Lalu, kenapa tidak membuat kebijakan agar PD diberikan IUP, BUMN diberi IUP, dan seterusnya. Jangan orang per orang.

Benar-benar saya iri. Masa sih, kamu panen duit besar hanya karena lebih dahulu tahu keputusan ibukota? Masa sih, saya harus duduk ndengkruk mlongoh menyaksikan kamu menyetir Exca lalu merombak hutan di daerahku, hanya karena saya telat mengurus IUP? Masa sih kamu panen duit di Kawasan hutan tempat saya dilahirkan? Benar-benar saya iri. Agar tak iri, maka berikan diskkresi kepada perusahaan daerah untuk mengelola tambang agar kas daerahnya tak tergantung APBD dan APBN.(nebansi@yahoo,com)

Komentar

Tinggalkan Balasan