oleh

Kapan Saya Naik Haji?, Oleh : La Ode Diada Nebansi

Write Inspiring Thought

Penulis : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari News)

Saya ingin menulis tentang haji. Saya bukalah Al Quran. Tentang haji. Saya temui satu ayat dalam surat Ali Imran:97. Saya kaget membacanya. Ternyata, Allah mewajibkan untuk naik haji bukan saja kepada umat muslim tetapi kepada seluruh manusia yang mampu melaksanakan perjalanan ke Mekkah. Agar tak muncul fitnah, inilah Bahasa Al Quran-nya: Wa Lillahi ‘Alan-naasi Hijjul Baiti Manistathoo’a Ilaihi Sabiilaa (Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana).

Ya, itulah. Salah satu kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Ini kata Al Quran. Bukan kata saya. Tapi, naik haji ke Mekkah, hanya diwajibkan bagi orang-orang sanggup melaksanakan perjalanan ke sana. Saya kaget membaca Surah Ali Imran:97 ini. Kenapa kaget? Karena ternyata, Allah mewajibkan haji kepada seluruh manusia bukan hanya umat Muslim. Dengan catatan, kewajiban itu hanya berlaku bagi orang-orang yang mampu.

Saya tidak tahu, apa maksud Allah mewajibkan kepada seluruh manusia yang mampu. Jangan-jangan, Allah sudah memperkirakan, bisa mungkin suatu ketika, Menteri Agama akan dijabat oleh orang non muslim, dan karenanya, si Menteri Non Muslim pun tetap berkewajiban untuk melaksanakan ibadah haji. Ini kata Al Quran. Bukan kata saya.

Saya belum mendaftar haji. Belum. Infonya, info yang saya dapat di orang-orang, info dari siapapun dan kapanpun dan dimanapun diskusi soal naik haji, yang menyeramkan dan mematahkan semangatku untuk naik haji adalah lamanya waktu tunggu atau daftar tunggu (waiting list). Saya buka google, saya klik “kemenag.go.di” bhohamma, saya lihat waiting list 67 tahun untuk Aceh, 53 tahun untuk Sulawesi Tenggara.

Saya belum mendaftar haji. Saya belum membuka rekening Ongkos Naik Haji (ONH). Belum. Pikir saya, nantilah. Semakin tidak memberi harapan untuk menabung ONH setelah melihat waiting list 53 tahun. Auweeee, salloona. Lama’na. Kamponaee. Suwi buwaaangat. Pokono, menggau mbuu puu.

Artinya, kalau kesadarannmu untuk ingat shalat saja nanti muncul pada usia 30an tahun, itu artinya kamu belum berpikir untuk naik haji. Kesadaranmu untuk sembahyang saja baru muncul, yang artinya, kamu pasti akan berjuang untuk taat shalat, untuk rindu shalat, untuk taat puasa, untuk sadar dan terpanggil bahwa zamat itu ternyata wajib bagi seorang muslim, setelah kamu berusia 30 tahun. Bisa jadi, kamu butuh 5-10 tahun untuk mengokohkan rasa cinta untuk taat shalat. Nah, disaat kamu sudah taat, di saat itu kamu tak sadar telah berusia 35-40 tahun. Di usia ini kamu baru mendiskusikan bagaimana caranya mendaftar haji. Woow, udah telat brotherku. Usiamu sudah 40 tahun, waiting list 53 tahun, maka kamu baru bisa naik haji di usia 93 tahun. Trus, pernah ndak melihat orang yang sudah berusia 93 tahun?

Itu satu. Kedua, batas usia untuk naik haji tahun 2022 ini 65 tahun. Artinya, bapak ibu yang sudah berusia 65 tahun ke atas, ndak bisa naik haji. Memang, infonya ini hanya karena Covid. Sementara. Oke. Tapi, siapa yang jamin bahwa tahun depan mereka tidak bertindak justru lebih mengekang lagi? Koemoooo. Amoto. Jammiii. Ndak usah. Kita pegang saja hukum haji hanya bagi orang yang sanggup. Sanggup bayar mahal, lakukan. Tak sanggup, ikhtiar dan berdoa agar Allah SWT membukakan pintu ke Baitullah. Labbaika, Allahumma Labbaik.

Kesadaran untuk shalat saja nanti di usia 30 tahun. Bahkan 40 tahun. Bahkan ada temanku usianya 50an tahun lebih belum ingat shalat. Saya ajak, ayo shalat. Dia jawab dengan bhangkoanya matanya, dia jawab dengan kelopak matanya lalu dia ikuti dengan anggukan kepala sambil membisik: “duluanmi, saya meroko meroko dulu di sini”. Saya paksa. Ayo. Karena tak ingin dan terpaksa, maka dengan gontai ia mengikut ke tempat wudhu. Bisa berwudhu? “Ah, saya hafal dari kecil. Ada jembatan keledainya. TAMUHI MUSIPATEKA”. Apa itu TAMUHI MUSIPATEKA? Tangan, mulut, hidung, muka, siku, kepala, telinga, kaki.

Artinya apa? Artinya, ada warga negara yang Muslim dan saya yakin, banyak, yang kesadaran untuk taat rukun Islam setelah 30an tahun, 40an tahun atau bahkan 50an tahun. Di saat usia mereka yang sudah masuk separoh jalan menuju pekuburan, tiba-tiba dimintai untuk membuka rekening ONH dengan masa tunggu 53 tahun. Masuk akal ndak? Ndak masuk akal. Tapi kan Kiay atau Ustadz bilang, dengan membuka rekening haji saja itu sudah bisa tercatat di “malaikat” sebagai orang yang berniat haji. Oh, ya? Lalu, bagaimana kalau saya berniat naik haji dengan menabung di kompiu atau di bawah bantal sebanyak-banyaknya agar saya bisa naik haji, apakah malaikat tak menghargai niat saya. Apakah malaikat hanya menganggp seseorang berniat haji jika menabung di ONH?

Saya akan protes malaikat kalau itu yang ia putuskan. Saya mau bilang begini: Wahai Malaikat? Kita sama-sama hamba Allah. Kenapa niat saya naik haji dengan menabung di kompiu (semacam tas jinjingan yang terbuat dari daun nipa di zaman dulu) anda tidak mencatatnya sebagai amal baik? Apakah kamu sudah berpartai juga. Kalau berpartai, jangan jadi malaikat.

Maksud saya, dengan Batasan usia 65 tahun ini, dan masa tunggu 53 tahun, harus dicarikan solusi. Hanya keluarga muslim yang kaya raya yang bisa menabungkan ONH anaknya di usia 0 tahun untuk dapat mengejar Batasan usia naik haji 65 tahun. Sementara, keluarga muslim yang miskin dan ternyata bisa kaya setelah usia 30 tahun, mereka telah kehilangan kesmpatan untuk naik haji, walaupun masih ada kalimat penggembira bahwa mereka menabung untuk naik haji sudah tercatat sebagai amalan haji. Terserah, menabung di kompiu atau di ONH yang penting, niat menabungnya adalah untuk naik haji ke Baitullah.

Tapi ndak apa-apalah. Status Haji (H) untuk saya tetap menjadi ikhtiar, upaya, saya berdoa semoga nama saya dalam waktu dekat akan ada pula embel-bel “H” misalnya H. ONGGI NEBANSI. Kalau pun Allah tak memberi kesempatan, insya Allah saya bisa meminta untuk dituliskan nama oleh Malaikat dengan embel-embel “P” (Puasa) atau “Z” (Zakat). Apakah P. ONGGI NEBANSI atau Z. ONGGI NEBANSI. Toh, semua kan rukun Islam. Wallahu ‘Alam. (nebansi@kendarinews.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan