oleh

Oputa Yi Jakarta Napak Tilas Oputa Yi Koo, Oleh : La Ode Diada Nebansi

Write Inspiring Thought

Penulis : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari News)

KENDARINEWS.COM — Oputa Yi Koo itu kan gelar atau sebutan lain La Karambau, Sultan Buton yang ke 20 dan 23. La Karambau sebagai Sultan juga digelar dengan sebutan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi. Oputa Yi Koo yang berarti Raja mengasingkan diri di hutan. Dalam catatan sejarah, hutan tempat Oputa Yi Koo mengasingkan diri adalah hutan Siontapina, Kabupaten Buton.

Oputa Yi Koo memangku jabatan Sultan sebanyak dua kali. Dan karena itulah, dalam daftar nama Sultan Buton, nama La Karambau tercatat dua kali yakni Sultan ke 20 dan Sultan ke 23. Artinya, masa jabatannya tidak sinambung. Menjabat Sultan, lalu tidak menjabat, lalu menjabat lagi. Artinya, di antara dua masa jabatan itu, terdapat orang lain yang menjabat Sultan Buton, yakni Sultan ke 21 (Hamim Sultan Sakyuddin) dan Sultan ke 22 (La Maani Sultan Rafiuddin).

Ilustrasi Oputa Yi Koo (kiri), Ali Mazi., S.H (kanan)

Cerita perjalanan perjuangan Oputa Yi Koo ini, mirip dengan perjalanan masa jabatan Ali Mazi, SH. Pernah menjabat Gubernur Sulawesi Tenggara, lalu berhenti, lalu menjabat Gubernur Sulawesi Tenggara lagi. Demikian halnya Oputa Yi Koo, menjabat Sultan, lalu berhenti, lalu menjabat Sultan lagi.

Artinya, ada kemiripan Ali Mazi dan Oputa Yi Koo. Bedanya, Oputa Yi Koo lepas jabatan Sultan kemudian masuk hutan di Siotampina lalu kembali menjabat Sultan. Ali Mazi pun begitu. Lepas jabatan Gubernur kemudian masuk ibukota Jakarta lalu kembali jadi Gubernur. Bedanya hanya Hutan dan Ibukota. La Karambau mengasingkan diri di “Koo” (hutan). Ali Mazi mengasingkan diri di Ibukota (Jakarta). Itulah sebabnya La Karambau alias Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi digelar Oputa Yi Koo. Tapi, saya tidak ingin menyebut Ali Mazi sebagai Oputa Yi Jakarta.

Tapi, untuk menggampangkan tulisan ini dipahami, izinkan saya dan maafkan saya untuk selanjutnya menulis Gubernur Ali Mazi sebagai Oputa Yi Jakarta.

Tak ada maksud lain, selain saya ingin menunjukkan bahwa ada kesamaan antara Oputa Yi Koo dengan Oputa Yi Jakarta. Paling tidak, kesamaan itu ada pada fase penobatan sebagai pimpinan daerah dalam hal ini, sebagai Sultan Buton dan Gubernur Sultra.

Dari sisi kegigihan memimpin, saya kira juga tetap ada kemiripan. Tahu ndak, bahwa Hutan Siontapina sesungguhnya merupakan wilayah strategis di pertemuan Muna, Buton Utara, Wakatobi dan Buton Raya lainnya. Hutan Siontapina kira-kira masih bagian dari hutan Lambusango saat ini. Artinya, Oputa Yi Koo punya keinginan besar untuk menyatukan dan menyolidkan cucu dan generasinya di Buton, Muna, Wakatobi dan Buton Utara.

Sikap dan daya juang yang sama, juga ditunjukkan Oputa Yi Jakarta, Gubernur Ali Mazi saat ini walau dalam bentuk yang lain. Saya kira, pembangunan jembatan penghubung antara Muna dan Buton di kawasan Baruta, Buton Tengah dan ujung Lowu-lowu di Baubau adalah upaya untuk menyatukan dua pulau ini, dimana keduanya sama-sama ada keturunan Oputa Yi Koo yang bermukim.

Tapi bahwa, beda zaman, beda kemampuan. Oputa Yi Koo menuju Siontapina bisa jadi hanya jalan kaki atau naik kuda. Dan, karena itu, jangkauan berpikir dan prioritasnya hanya ingin membangun dan menyatukan Muna, Buton, Buton Utara, Wakatobi. Tapi kalau Oputa Yi Jakarta, kendaraannya sudah menggunakan mobil dan pesawat terbang hingga jangkauan berpikirnya lebih luas lagi dan prioritas pembangunannya juga sudah melingkupi Sulawesi Tenggara. Tak heran, jika di zaman Oputa Yi Jakarta, selain Jembatan Penghubung Buton-Muna, telah pula diprogramkan jembatan penghubung Muna-Konawe Selatan.

Karena itu, acara Napak Tilas Oputa Yi Koo yang digelar Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara, sesungguhnya bukan sekadar schedule resmi Pemprov Sultra, tapi lebih dari itu, ada aura mistis atau energi arwah leluhur yang meminta agar generasinya tak melupakan perjuangan para leluhur. (nebansi@yahoo.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan