oleh

Membaca Aura dari Pj Bupati

Pelantikan Penjabat (Pj) Bupati Muna Barat, Buton Tengah dan Buton Selatan di Sulawesi Tenggara, tinggal menghitung hari. Tanggal 22 Mei 2024 ini, ketiganya akan dilantik. Siapakah mereka? Masih samar-samar. Pantauan Sosmed, nampaknya sudah mengerucut pada dua figur. Untuk Muna Barat, dua figur Pj Bupati yang disebut adalah Nurjaya dan Bahri. Untuk Buton Tengah, yang acap kali disebut adalah nama Yoker dan Pahri. Di Buton Selatan, hanya satu nama perempuan yang disebutt-sebut. Atas nama Usnia atau Husnia, pendengaranku. Siapa mereka? Ndak penting dibahas. Nantilah setelah mereka dilantik, insya Allah akan ditulis tuntas. Saya tuliskan selengkap-lengkapnya, kalau perlu biar posisi tailalat mereka akan saya gambarkan.

Yah, itu pantauan Sosmed. Tapi, jangan kira sembarang Sosmed. Bukan. Ini info langsung dari pohonnya. Agar anda yakin bahwa ini dari pohonnya, saya akan kasi kode “key word”, All Jokowi Man. Kenapa saya tahu itu, karena saya tinggal di Pringgodani dekat Bulak Sumur, tak jauh dari Delanggu, dan Delanggu itu tak jauh dari Solo. Tau kan, maksud saya? Tapi kamu kan tinggal di Tobuha? Ya, saya di Tobuha. Pinggiran Kota Kendari. Kalau pun keluar daerah beraninya hanya via kapal fery Torobulu Tampo atau Amolengo Lasiwa yang tak melalui rapid test. Ya, betul, itu jasad. Tapi Roh dan WA-nya bolak-balik Jakarta, Jogja dan Solo. Key Word yang saya tangkap di trayek Torobulu Tampo hanya “Rahmadnya Mubar” dan “Apande Aangko Opandea Kanau (Sama Tau)”. Tapi, Key Word trayek Jakarta-Jojga-Solo yang saya tangkap adalah “All Jokowi Man”. Faham? Rahmadnya Mubar itu hanya orang Muna Barat yang ketahui, yakni tag line pasangan LM Rajiun Tumada-Achmad Lamani saat kampanye Calon Bupati Mubar, dulu. Dan, Apande Aangko Opandea Kanau, hanya orang Buton Tengah yang tahu, itu juga adalah tag line Samahuddin-La Ntau saat mereka mencalonkan diri sebagai calon Bupati-Wakil Bupati Buton Tengah.

Nah, terekait Pj Bupati se Indonesia yang akan dilantik nanti, siapapun dia, agaknya akan bersentuhan dengan key word itu. All Jokowi Man. Dan, tidak haram jika dikaitkan dengan kepentingan 2024, apakah klik Ganjar Pranowo ataukah klik Anies Baswedan. Untuk sementara, apa yang saya sampaikan ini jangan dulu dipercaya dan jangan juga tak dipercaya. Nantilah usai pelantikan Pj Bupati. Jika ternyata mereka yang dilantik sesuai usulan Gubernur, dan atau Pj Bupati yang dilantik ternyata diambil dari usulan liar, maka itulah gambaran. Boleh meleset dari usulan Gubernur, dengan catatan, pengaruh Sulawesi Tenggara di ibukota tak berpengaruh apa-apa. Orang Jakarta bilang: Kagak ngaruh. Atau, jika yang dilantik di luar usulan Gubernur, bisa jadi juga gubernur dianggap tak berada di koridor “All Jokowi Man”.

Sekarang, “All Jokowi Man” ini di 2024 akan lari ke siapa. Apakah Ganjar Pranowo atau Anies Baswedan. Di situasi ini, alam berpikir harus di grid naik. Maksud saya, polarisasi Cebong-Kampret amat sangat penting dihilangkan. Gimana caranya? Ya, satukan Ganjar-Anies atau Anies-Ganjar, atau seperti apalagi, yang penting dalam bingkai atau frame berpikir menghilangkan dikotomi Cebong Kampret.

Persoalannya sekarang, menyangkut kepentingan khusus Gubernur Sultra, Ali Mazi SH pasca kegubernurannya. Jika ada kepentingan politik, miisalnya, ada keinginan unttuk masuk senayan, calon Anggota DPR-RI maka momentum penting untuk menyukseskan itu adalah menempatkan Pj Bupati yang benar-benar loyal terhadapnya di satu sisi, dan pada sisi yang lain, Pj Bupati yang ditempatkan adalah orang yang tepat dan diterima masyarakat tanpa bayang-bayang isu dan provokasi negatif setelahnya. Tentu, tetap harus berafiliasi ke key word yang saya maksudkan.

Kenapa? Karena ada Pj Bupati yang mungkin loyal tapi momok masyarakat, Ada Pj Bupati yang akrab bermasyarakat tapi tak loyal pada Gubernur. Nah, yang baik buat kepentingan politk Ali Mazi pasca kegubernurannya adalah menempatkan orang yang loyal dan diterima masyarakat.

Untuk mengetahui apakah orang itu diterima masyarakat, gampang caranya. Tanya staf dimana ia bekerja. Tanya staf di setiap kantor tempat calon Pj Bupati itu pernah berkantor. Gampang. Tanpa itu semua, maka hanya gaung yang akan didengar, hasilnya mengecewakan. Hanya memang, ini bukan kesempatan akhir. Pj Bupati ini kan ada masa perpanjangan. Bisa setahun, bisa dua tahun atau mungkin tiga tahun. Artinya, kalau ternyata tahun pertama sudah memberi warna gelap, tahun kedua saya kira patut diparkir.

Jangankan setahun, Pj Bupati kan evaluasi administrasi setiap 3 bulan, dan evaluasi serius yang beresiko amputasi tiap 6 bulan, dan evaluasi “Hitam dan Putihnya, lanjut atau stop, setiap 1 tahun. Tapi jangan sampai mendapatkan Pj yang berakal belae.. Tahun ini dapura-pura bae. Tahun kedua, di pehujung masa jabatan gubernur baru dia Kadjiri bae-bae, baru dia Haroa bae-bae, pokoknya, tahun kedua yang ada di otaknya hanya Pakande-kandea.

Dan, di saat itu, dari arah Latoma kita bataria: Arede poooh. Dari Dari arah Wakuru teriak: Waompueee. Dari arah Warangga teriak: Accakaaah. Dari arah Pulau Makassar teriak: Eedede… Pannnndraki (nebansi@yahoo.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan