Emansipasi Perempuan Dalam Pembangunan Era Digital

Penulis : Dr. Suriana Koro, SP., M.Kes ( Dosen Poltekkes Kendari)
dan Hj. Diana Massi, SP (Pemerhati Perempuan Kabupaten Koltim)

KENDARINEWS.COM — ”Tugas manusia adalah menjadi manusia”. Suatu kalimat bijak dari ibu Kartini, mengandung makna tersirat, yang dapat mengubah perempuan Indonesia, menjadi lebih mengakui kompetensi keberadaannya di masyarakat sebagai insan perempuan yang mampu berbuat setara dengan laki – laki dalam segala bidang kehidupan. Sejak RA Kartini menyerukan emansipasi perempuan dan kesetaraannya, para perempuan pun memiliki peluang dan kemampuan yang sama untuk bisa menguasai atau mendapatkan hak-hak seperti yang dimiliki kaum laki-laki.


Saban tanggal 21 April, diperingati hari kartini sebagai wujud kesetaraan gender/kesempatan antara laki – laki dan perempuan di era digital masa kini.

Emansipasi perempuan mengingatkan pada seluruh lapisan masyarakat Indonesia, bahwa perempuan terus konsisten memperjuangkan pembangunan di seluruh lini pembangunan di Indonesia. Tantangan bagi perempuan dalam menjalankan peran dan fungsinya di era digital tentu tidak mudah.


Salah satu berkah dari emansipasi perempuan yang digaungkan RA Katini adalah adanya peluang dan kesempatan perempuan mengenyam pendidikan tinggi, berkarir atau menjalankan usaha. Perempuan itu bagaikan tiang keluarga yang harus siap dengan segala kondisi yang terjadi di ruang yang disokongnya demi berlangsungnya berbagai kehidupan di dalamnya. Semakin kokoh tiang itu, semakin baik kehidupan yang berlangsung di dalamnya. Dengan demikian, stigma perempuan tidak usah berpendidikan tinggi itu salah besar. “Sudah saatnya perempuan berani tampil dan berani berkontribusi di depan layar”.

Seiring berjalannya waktu, perempuan mulai bangkit dan berhasil membuktikan keberadaan mereka layak untuk diperhitungkan. Sehingga kaum perempuan memiliki persamaan derajat dan bahkan ada yang menjadi tulang punggug keluarga. Hal ini menjadi bukti dari pencapaian sejumlah wanita di dunia. Di mana mereka telah menciptakan serangkaian inovasi baru untuk membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih baik dan bahkan membuat sejarah. Dengan adanya emansipasi wanita, mereka bisa beraktivitas secara bebas di luar rumah untuk bekerja. Bahkan tak sedikit yang menduduki jabatan tinggi di kantor-kantor, pemerintahan dan dunia militer. Kecerdasan serta kepiawaian perempuan-perempuan Indonesia khususnya, tidak bisa lagi dianggap remeh karena telah turut berkontribusi terhadap pembangunan.


Kartini modern dalam pembangunan harus dimaknai sebagai era kebangkitan perempuan Indonesia, dalam hal ini kebangkitan perempuan Indonesia untuk pemulihan ekonomi sehingga kita bisa segera mewujudkan Indonesia maju seperti yang kita cita-citakan bersama masyarakat dan perempuan Indonesia harus menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif agar tidak tergerus perkembangan zaman dan selalu membuka peluang untuk lebih berkembang dan berkontribusi pada pembangunan keluarga, bangsa dan Negara.

Berkat emansipasi yang diperjuangkan R.A Kartini maka perempuan Indonesia di masa sekarang ini, sudah banyak yang berjasa dan berprestasi dalam profesinya, baik dalam skala nasional maupun internasional.


Ke depan, tantangan bagi perempuan dalam menjalankan peran dan fungsinya di era digital tentu tidak mudah. Peran pendidikan salah satu peran yang sangat penting dalam menjawab tantangan tersebut. Jadi, bukan lagi berbicara tentang kesetaraan, tapi signifikansi peran dan tanggung jawab yang diemban para perempuan tersebut.

Setelah emansipasi diakui, perempuan-perempuan tangguh yang mampu menimba ilmu setinggi-tingginya, perempuan-perempuan hebat dengan karir yang gemilang, dan para perempuan perkasa yang mampu menjalankan usaha hingga sukses serta perempuan-perempuan yang hebat dalam dunia politik pun bermunculan.

Dr. Suriana Koro, SP., M.Kes ( Dosen Poltekkes Kendari) dan Hj. Diana Massi, SP (Pemerhati Perempuan Kabupaten Koltim)


Perempuan memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin namun kaum perempuan harus mempersiapkan diri dan harus percaya diri untuk bisa jadi calon pemimpin. perempuan yang mampu jadi pemimpin setidaknya memiliki syarat, diantaranya berpikir visioner, inovatif, dan mampu memberikan solusi terbaik dengan mencari banyak terobosan termasuk juga harus mampu mengatur waktu buat keluarga, karier, diri sendiri dan membina kemampuan kerja tim, dan berintegritas.

Jadi, terbukti bahwa perempuan di kehidupannya tidak sekadar di dapur saja, tidak sekadar mengurus anak saja. Apabila mereka diberi kesempatan dan dukungan, mereka bisa mencapai seperti pencapaian laki-laki, bahkan bisa lebih. Saat ini telah lahir perempuan-perempuan yang tangguh, berpengaruh, dan menjadi inspirasi, Kaum perempuan adalah aset penting suatu bangsa karena tidak hanya berperan sebagai subjek yang mendorong suksesnya pembangunan nasional, melainkan juga objek yang harus diberdayakan dan dilindungi hak-haknya.

Sudah saatnya perempuan Indonesia meneladani sikap dan perilaku Ibu R.A Kartini, sehingga bisa menciptakan Kartini-Kartini baru yang mandiri, tangguh dan profesional dalam menghadapi setiap tantangan di era globalisasi, tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita.
(*)

“Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu”

R.A. Kartini

Tinggalkan Balasan