Keindahan Dalam Batasan Tembok, Oleh : Suzan Zavana Amir

Penulis : Suzan Zavana Amir

KENDARINEWS.COM — Kebhinekaan termasuk keberagaman agama merupakan anugerah dari Allah SWT. Anugerah Tuhan yang maha pengasih kepada bangsa Indonesia. Anugerah ini harus terus kita jaga, kita rawat menjadi kekuatan bangsa. Kita patut bersyukur karena ditengah dinamika sosial dan politik global yang penuh gejolak, bangsa Indonesia tetap hidup rukun dalam kemajemukan. Kerukunan antar umat beragama tidak muncul secara tiba-tiba.

Kerukunan itu merupakan hasil dari kesadaran bersama bahwa perpecahan dan egoisme golongan akan membawa kehancuran. Di Indonesia, kerukunan beragama ditunjukkan dengan banyaknya praktik baik yang dilakukan oleh masyarakat, diantaranya adalah dengan banyaknya rumah ibadah yang dibangun saling berdampingan.

Praktik ini merupakan contoh nyata bahwa tingginya tingkat toleransi juga akan menunjukkan tingginya tingkat kerukunan dimasyarakat. Hendaknya perbedaan jangan dijadikan sumber permusuhan tapi pandanglah sebagai bentuk keindahan dan kekayaan kehidupan. Kata Kunci: keberagaman, keindahan, kerukunan, rumah ibadah, toleransi.

Indonesia merupakan negara dengan ragam budaya dan agama. Keberagaman etnis maupun agama yang ada ditanah air adalah bentuk identitas Indonesia. Dengan adanya perbedaan etnis maupun agama, bahkan warna kulit sekalipun, tidak menjadi penghalang untuk saling menghargai dan menghormati. Hidup bersama dalam masyarakat majemuk dengan kesatuan hati, saling bersepakat untuk tidak menciptakan perselisihan maupun pertengkaran, itulah wujud dari kerukunan.

Makna dari kerukunan antar umat beragama itu sendiri adalah kondisi dimana antara berbagai umat beragama dapat saling menerima keberadaan agama lain, saling menghormati keyakinan penganut agama yang berbeda serta saling membantu untuk mencapai tujuan bersama, tentu menurut batasan agamanya masing-masing. Kerukunan antar umat beragama hanya dapat terwujud dengan sikap toleransi, semakin tinggi tingkat pemahaman toleransi dalam masyarakat maka akan semakin tinggi pula tingkat kerukunan antar umat beragama.

Bentuk keindahan toleransi ini dapat terlihat di Kota Kendari Sulawesi Tenggara yang sampai saat ini masih terus menjaga nilai kerukunan umat beragama di masyarakat. Contoh nyata yang sering dijumpai adalah dengan banyaknya rumah ibadah yang dibangun saling berdampingan, sebagaimana dapat ditengok di Jalan Ir. Soekarno Kelurahan Dapu-Dapura Kecamatan Kendari Barat Kota Kendari, tempat Masjid Dakwah Wanita dan Gereja Pantekosta Bukit Zaitun berada. 

Kedua rumah ibadah ini telah berdampingan dalam kurun waktu 59 tahun. Pada tahun 1960 Gereja Pantekosta Bukit Zaitun dibangun terlebih dahulu. Tiga tahun berselang, giliran Masjid Dakwah Wanita dibangun yang berdiri kokoh persis disebelahnya. Jarak antara bangunan masjid dan gereja hanya dipisahkan oleh tembok yang sama, namun tak pernah sekalipun terjadi perselisihan antara umat muslim dan umat nasrani.

Toleransi antar umat beragama sudah terjalin harmonis sejak awal pendirian gereja dan masjid tersebut. Puncaknya saat pihak gereja yang bangunannya telah berdiri lebih dulu dengan sukarela mengalirkan air untuk digunakan oleh jama’ah masjid sebelum melaksanakan shalat. Hal itu dilakukan sampai pihak masjid memiliki fasilitas pompa air sendiri.

Cerita lain adalah pada saat bulan Ramadhan tiba, dimana kegiatan shalat tarawih jama’ah masjid tak pernah berhenti selama sebulan penuh, padahal disisi lain kegiatan ibadah jemaat gereja juga ada yang bertepatan dengan jadwal shalat tarawih. Ibadah gereja pantekosta tersebut yakni ibadah minggu malam yang biasanya dilaksanakan dengan peralatan musik lengkap. Untuk menghargai dan agar tidak saling mengganggu, pihak gereja memajukan jadwal ibadah menjadi pukul 6 sore, agar setelahnya dapat dilanjutkan oleh umat muslim melaksanakan ibadah shalat tarawih. Dan kebijakan ini dilakukan selama bulan Ramadhan. 

Tak berhenti disitu, kisah toleransi antar umat beragama masjid dan gereja itu berlanjut kala peristiwa populer kerusuhan pembakaran gereja besar-besaran tahun 1997 di Jawa Timur, yang mana isu pembakaran gereja juga sampai di Kendari. Ada ketakutan oleh pihak gereja bahwa rumah ibadah mereka akan ikut dibakar sehingga meminta bantuan pengamanan pada pihak kepolisian. Namun hal tak terduga terjadi, para remaja masjid Dakwah Wanita tanpa pernah diminta, justru ikut bergabung bersama pihak kepolisian berjaga-jaga disekitar gereja.

Toleransi antar umat beragama yang terjalin mesra antara gereja dan masjid yang saling berdempetan di Kendari ini dapat menjadi contoh untuk daerah lain di Indonesia. Praktik kerukunan ini membuktikan bahwa perbedaan keyakinan tak menghalangi umat dalam beribadah menurut kepercayaan masing-masing.

Dunia hari ini penuh dengan orang-orang iri hati yang tidak bisa melihat perbedaan sebagai kekayaan dalam kehidupan. Padahal Allah SWT tidak membangun keseragaman dalam kehidupan, tapi justru menciptakan keberagaman untuk kemuliaan manusia dalam hidup berdampingan. Hendaknya perbedaan janganlah dijadikan sumber permusuhan tapi pandanglah sebagai bentuk keindahan dan kekayaan kehidupan. 

Banyak orang melihat perbedaan agama sebagai upaya pencarian benar dan salah, padahal perbedaan tersebut tak perlu dicari. 2 tambah 2 sama dengan 4 sedangkan 3 ditambah 1 sama dengan 4. Tidak perlu dicari cara mana yang benar dan mana yang salah, yang ada hanyalah perbedaan. Sama pula halnya orang pertama dari Kolaka menuju Makassar menggunakan pesawat terbang sedangkan orang kedua menggunakan kapal laut.

Jangan salahkan orang pertama memilih naik pesawat karena memilih efektifitas waktu agar cepat sampai, dan jangan salahkan orang kedua memilih naik kapal laut karena merasa aman tidak berada diatas ketinggian serta ingin menikmati lebih banyak waktu berjalan-jalan menikmati pemandangan. Tidak bisa satu sama lain saling mengkritik karena masing-masing memiliki keyakinan dan kepercayaan yang berbeda.

Dari sisi lain, banyak orang juga melihat perbedaan sebagai awal persaingan. Perbedaan dijadikan ajang bersaing untuk melihat siapa yang lebih hebat dan siapa yang lebih besar. Mayoritas mengucilkan minoritas dan minoritas menjauhi mayoritas. Rusaklah segala unsur kehidupan jika masyarakat menggunakan perspektif ini dalam hidup bermasyarakat. Hendaklah diyakini bahwa segala apa yang diciptakan Allah SWT dimuka bumi ini tidak seluruhnya sama. Ada yang berbeda agama, ras, budaya, bahasa, bahkan anak kembar sekalipun diciptakan pasti memiliki perbedaan.

Bukankah akan lebih indah jika satu sama lain saling membantu, satu sama lain saling membutuhkan, dan satu sama lain saling menopang.

Perbedaan bukanlah kejahatan, tapi keindahan. Keindahan akan tampak ketika kita mau bersatu dalam menerima perbedaan. Bersatu menciptakan kedamaian, tak perlu kata, tak perlu gaya. Karena toleransi yang terwujud dalam kerukunan sesungguhnya adalah nyata. (*)

Tinggalkan Balasan