WON Minta Pemerintah Peduli soal TKI Asal Wakatobi yang Terlantar di Malaysia


KENDARINEWS.COM — Ketua DPD Partai Hanura Sultra, Wa Ode Nurhayati (WON) tegas, meminta pemerintah, peduli terhadap nasib Yai bin Kii (37), TKI asal Liya, Wakatobi. Sebab, Yai saat ini terlantar di Malaysia, tempat dia bekerja, pasca mendapatkan kecelakaan kerja (kejatuhan derek kapal) pada pertengahan Desember 2021 lalu.

Pemerintah RI termasuk perusahaan tempat Yai bekerja di Malaysia terkesan lepas tangan dengan kejadian ini. Untuk itu, WON sebagai masyarakat Sultra berharap TKI asal Wakatobi ini diperhatikan. “Sebagai warga Wakatobi, saya minta pemerintah melakukan upaya terhadap TKI asal Wakatobi ini. Setahu saya, saat koordinasi dengan BP2MI terkait kejadian ini, pihak kedutaan sudah membantu memastikan korban agar tidak dirugikan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Lalu kemudian ada keluhan dari pihak keluarga terkait pemulihan, dan lainnya.
Ini yang menjadi pertanyaan, di mana peran pemerintah daerah. Harusnya mereka berkewajiban membantu,” ungkap WON kepada Kendari Pos, kemarin.

Ketua DPD Partai Hanura Sultra, Wa Ode Nurhayati (WON)

Liya mengalami kecelakaan kerja di Malaysia pada 2 Desember 2021 malam, sekira pukul 23.00 waktu setempat.
Setelah keluar dari rumah sakit pada 15 Desember 2021, pemerintah Republik Indonesia maupun pihak perusahaan terkesan lepas tangan atas derita yang dialami oleh pahlawan devisa negara ini.

Menurut WON, seharusnya sudah selayaknya pemerintah Indonesia, termasuk Pemprov Sultra memberikan perlindungan kepada mereka. “Kontribusi mereka melalui jasa pengiriman uang atau remitansi TKI ke APBN mencapai Rp160 triliun per tahun, atau kedua terbesar setelah penerimaan devisa dari sektor migas,” paparnya.

Kini, hidup Yai bersama istri dan keempat anaknya di Sandakan, Malaysia, terlunta-lunta. Perusahaan tempat dia berkerja hingga mengalami kecelakaan kerja tidak lagi menanggung biaya pengobatannya, termasuk biaya hidupnya. Kakak korban, La Sambo mengatakan, saat adiknya (Yai) baru keluar dari rumah sakit, pihak Konsulat RI di Kota Kinabalu menyampaikan, bahwa seluruh gaji dan biaya hidup selama menjalani perawatan atau pengobatan akan ditanggung oleh perusahaan tempat kerjanya. Namun faktanya, setelah adiknya keluar dari rumah sakit pihak perusahaan hanya memberikan 200 ringgit Malaysia atau setara Rp700 ribu. “200 ringgit itu, untuk biaya kontrak rumah saja tidak cukup, apalagi biaya hidup. Sementara pihak Konsulat RI di Kota Kinabalu saat di hubungi tidak merespon lagi,” keluh La Sambo.

Menurutnya, kehidupan adiknya di Negeri Jiran itu makin susah. Ditambah lagi, visa kerja adiknya ini akan berakhir pada 19 Januari 2022. Sementara adiknya itu belum bisa kerja akibat kecelakaan saat melaut itu. Sembilan tulang rusuknya masih retak dan enam giginya patah. Sehingga masih butuh pemulihan.

“Sudah ada utusan dari perusahaan untuk menanyakan adik saya, apakah masih mau kerja lagi di kapal tempat dia kerja. Tetapi bagaimana mau kerja, adik saya masih terbaring lemas karena sembilan tulang rusuk retak, dan enam gigi patah. Jadi, tidak mungkin bekerja secepat itu,” paparnya.

Saat ini, adiknya bersama istri dan anaknya, sedang mengupayakan untuk pulang ke Indonesia. Namun mereka terkendala biaya. Karena uang mereka terkuras untuk biaya pengobatan. “Yang mereka harapkan tinggal asuransinya. Namun sampai sekarang belum dicairkan jasa asuransi kecelakaan kerja di Malaysia,” terangnya.

Sambo berharap, pemerintah Indonesia maupun pihak perusahaan bisa mengupayakan pemulangan adiknya ini ke tanah air. Apalagi, adiknya ini telah bekerja di perusahaan tersebut sekitar sembilan tahun lamanya. Sehingga, sudah banyak memberikan devisa untuk negara dan keuntungan yang besar untuk perusahaan. Sebelumnya pada 2 Desember 2021 malam, sekira pukul 23.00 waktu setempat, Yai dijatuhi crame/derek saat kapal ikan tempat dia kerja hendak membuang jaring di laut. (ali)

Tinggalkan Balasan