Menata Kawasan Kumuh Jadi Layak Huni, Pemkot Kendari Galakkan Program Kotaku

KENDARINEWS.COM–Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di Kota Kendari sudah bergulir sejak Juni lalu. Namun untuk skala kawasan, baru akan digalakkan pada Desember mendatang. Sasarannya adalah kawasan kumuh di Pudai – Lapulu.

Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir tak menampik jika sempat terjadi penundaan Groundbreaking proyek. Itu disebabkan beberapa kendala teknis salah satunya terkait penyelesaian administrasi. “Kami perbaiki terus (berkas administrasi) jika diminta,” ujarnya, Senin (15/11/2021).

Sulkarnain bersyukur, pemerintah pusat menerima seluruh kelengkapan dokumen yang sampaikan pihaknya, sehingga lelang proyek bisa dimulai dan telah menetapkan penanggungjawab pekerjaan.

Salah satu personil Kodum 1417/Kendari saat mengecat rumah warga di Bungkutoko. Pengecatan dalam rangka mensukseskan program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) yang bekerjasama dengan Pemkot Kendari.

“Sudah selesai tender. Sehingga aktifitas lapangannya dalam waktu dekat dilaksanakan. Mungkin awal Desember sudah ada pembenahan (penataan). Kita udah mulai bergerak,” kata Sulkarnain Kadir.

Lanjut dia, penataan kawasan kumuh di Pudai dan Lapulu sangat bernilai strategis bagi pemkot dalam rangka mewujudkan Kendari sebagai kota layak huni berbasis ekologi (lingkungan), informasi, dan teknologi. Selain bermanfaat bagi daerah juga sangat baik bagi masyarakat sekitar. Pasalnya, kawasan tersebut nantinya bisa dijadikan pusat promosi UMKM warga sekitar.

Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir (ketiga dari kiri) saat meninjau program padat karya.

“Bisa dilihat kawasan Bungkutoko dan Petoaha saat ini, ramai dikunjungi masyarakat. Nah, ini kita akan kita replikasikan ke kawasan Pudai dan Lapulu. Sehingga kami butuh dukungan semua pihak termasuk masyarakat sekitar untuk mensukseskan program ini,” kata Sulkarnain Kadir.

Untuk diketahui, penataan kawasan kumuh Pudai – Lapulu merupakan salah satu program kerjasama antara Pemkot Kendari dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Penataan kawasan kumuh masuk dalam program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku).

Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir saat meletakkan batu pertama tanda dimulainya program Kotaku di Kelurahan Kadia, beberapa waktu lalu.

Perlu diketahui pula, kawasan kumuh di Puday – Lapulu yang akan ditata memiliki luas sekitar 14,07 hektar. Penataan menelan anggaran sekira Rp 56,66 miliar yang bersumber dari APBN. Rinciannya, pembangunan waterfront dan jalan lingkungan sebesar Rp 44 miliar, tambatan perahu Rp 1,2 miliar, pembangunan drainase Rp 4,46 miliar, resapan biopori Rp 161,5 juta, instalasi air bersih Rp 1,12 miliar, Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) komunal Rp 815 juta, instalasi hidrant Rp 827 juta, dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar Rp 4,1 miliar.

Tampak kawasan Bungkutoko – Petoaha setelah dilakukan penataan lewat Program Kotaku. Rencannya, penataan lewat perogram yang sama akan direplikasikan di Kawasan Pudai – Lapulu pada Desember mendatang.

–Sukses Tata Kawasan Bungkutoko dan Petoaha, Ada Kampung Warna-Warni–

Kolaborasi antara Pemkot dan Kodim 1417/Kendari dalam menata kawasan Bungkutoko dan Petoaha berakhir sukses. Ratusan rumah diwarnai dan beberapa diantaranya direhab supaya layak huni.

Sekot Kendari, Hj.Nahwa Umar mengatakan, kerja sama yang terjalin merupakan bagian dari Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang digagas Kodim 1417/Kendari. Pelaksanaannya sudah berlangsung sejak bulan lalu (September).

Nahwa bersyukur, berkat bantuan Kodim, pihaknya sukses mempercantik kawasan Bungkutoko dan Petoaha yang selama ini dikategorikan sebagai kawasan kumuh. Melalui program TMMD, dua kawasan tersebut kini kian bersolek menjadi Kampung Warna Warni.

“Melalui kegiatan TMMD, maka bertambah lagi satu tempat wisata Kota Kendari. Rumah warga yang tidak layak huni dibedah, dicat sehingga berubah menjadi kampung warna-warni,” kata Nahwa Umar, usai menutup kegiatan TMMD di Media Center Rujab Wali Kota Kendari, Kamis (14/10/2021).

Nahwa tak menampik jika dalam program TMMD kali ini pihaknya belum total berpartisipasi. Itu disebabkan recofusing anggaran yang membuat alokasi pembiayaan terhadap TMMD belum maksimal.

“Baru tahun 2021 ini kami bisa anggarkan itupun jumlahnya minim sebab disesuaikan dengan ketersediaan anggaran. Kami sangat berterima kasih melalui Kodim telah memberikan perhatian pada warga kami yang memiliki rumah tidak layak huni,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Dandim 1417 Kendari, Letkol Inf. Widarto mengapresiasi perhatian Pemkot Kendari terhadap kesuksesan program TMMD tahun ini. Menurutnya, dukungan dari pemkot sangat meringankan tugas personilnya dilapangan.

Widarto mengungkapkan, selain program pengecatan rumah di Bungkutoko dan Petoaha, beberapa program lain yang dikerjasamakan seperti pekerjaan paving blok ukuran 140 m x 5 m di Kelurahan Punggolaka dan rehabilitasi rumah tidak layak huni 22 unit di 7 kecamatan sukses di realisasikan.

“Kami berharap sinergi antara Kodim 1417/Kendari dengan Pemkot Kendari bisa terus terpelihara dan terbina untuk mendorong akselerasi pembangunan. Kami segenap jajaran TNI siap mendukung dan mensukseskan program pemerintah terutama visi Wali Kota yang ingin menjadikan Kendari sebagai kota layak huni berbasis ekologi (lingkungan), informasi, dan teknologi,” kata Widarto.

–Lingkungan Bersih, Padat Karya Sukses–

Program Padat Karya Tunai (Cash For Work/CFW) telah berakhir. Hasilnya menggembirakan. Selain lingkungan menjadi bersih dan sehat, masyarakat sekitar juga terberdayakan. Program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi masalah lingkungan sekaligus memulihkan perekonomian daerah dimasa pandemi Covid-19.

Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir mengapersiasi pelaksanaan program tersebut. Menurutnya program padat karya tunai sangat membantu pihaknya dalam upaya pemulihan ekonomi masyarakat yang terdampak covid-19.

“Dimasa pandemi ini tidak sedikit masyarakat kita yang mengalami kesulitan. Banyak diantara mereka yang kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian. Olehnya itu program ini sangat baik meningkatkan daya beli masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya,” kata Sulkarnain Kadir.

Politisi PKS Sultra ini berharap program padat karya bisa belanjut kedepannya. Itu menimbang hasil yang dicapai sangat baik. Beberapa sarana dan prasarana infrastruktur sukses diperbaiki, misalnya jalan, drainase, dan sarana infrastruktur lainnya sehingga bisa termanfaatkan dalam waktu yang lama.

Terpisah, Kordinator Program Kotaku Kendari, La Ngkarisu mengungkapkan, dari sebanyak 65 Kelurahan hanya 16 kelurahan yang mendapatkan program tersebut. Penetapannya berdasarkan akumulasi jumlah penduduk yang terpapar covid-19 dan akumulasi masyarakat yang terdampak.

“Yang menentukan adalah pusat. Kami hanya melaporkan perkembangan covid-19 didaerah mulai dari jumlah kasus hingga jumlah masyarakat yang terdampak. Setelah itu sepenuhnya adalah keputusan kementerian, kelurahan mana saja yang berhak mendapatkan bantuan,” ungkap La Ngakarisu.

La Ngkarisu menyebut, total alokasi anggaran padat karya tunai tahun ini sebesar Rp 4,8 miliar. Dimana setiap kelurahan mendapatkan Rp 300 juta untuk melakukan revitalisasi lingkungan.

“Inti dari program ini adalah revitalisasi atau pemeliharaan terhadap sejumlah fasilitas atau sarana dari program sebelumnya. Jika ada yang rusak ringan diperbaiki. Misalnya juga ada saluran yang terseumbat itu dibersihkan atau diangkat sedimen lumpurnya,” kata La Ngakrisu.

La Ngkarisu menambahkan, dalam pelaksanaannya tetap mengacu pada protokol kesehatan (prokes) menggunakan masker, menjaga jarak dan menggunakan alat pelindung diri (APD) dalam rangka mencegah penularan covid-19.

“Secara umum program berjalan lancar tanpa kendala. Para pekerja semua aman dari Covid-19, kemudian mereka dapat manfaat sosialnya, juga dapat manfaat lingkungannya karena sudah bersih dan terhindar dari kekumuhan,” kata La Ngkarisu.

Sekedari informasi, 16 Kelurahan yang menerima bantuan padat karya tunai yakni Kelurahan Rahandouna, Poasia, Anduonohu, Benua Nirae, Tobimeita, Alolama, Baruga, Lepo-lepo, Watubangga, Wundudopi, Anaiwoi, Wawowanggu, Pondambea, Mokoau, Watulondo, dan Wuawua. (ags/adv)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.