Kerugian Ditaksir Rp 495 Miliar, Jaksa Telusuri Aset Direktur Tambang

Sarjono Turin

KENDARINEWS.COM — Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sultra Sarjono Turin berjuang mengembalikan aset negara dari pelaku illegal mining. Kejaksaan saat ini sedang menelusuri aset tersangka LSO, Direktur Utama PT. Toshida Indonesia. Perusahan tersebut diduga tidak menunaikan kewajiban baik PNBP IPPKH, PNBP PHPL, royalti, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Corporate Social Responsibility (CSR) dan dana program pengembangan maupun pemberdayaan masyarakat (PPM). Kerugian negara ditaksir mencapai Rp495 miliar.

PT. Toshida Indonesia beroperasi di Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka. “Penelusuran aset tersangka (LSO) dilakukan sebagai upaya penggantian nilai kerugian negara. Kami sudah melayangkan surat ke instansi maupun lembaga terkait guna memperoleh data-data aset yang dimiliki LSO. Lembaga yang sudah kami surati yakni BPN, OJK, dan instansi terkait lainnya. Kami coba menelusuri data aset apa saja, di mana saja dan berapa nilainya,” ujar Sarjono Turin, Kajati Sultra, Rabu (3/11).

Nilai kerugian negara sekira Rp495 miliar, bagi Sarjono Turin, sangatlah besar. Olehnya itu, Kejati berupaya maksimal menelusuri aset tersangka LSO untuk disita. Nantinya, aset sitaan dapat menutupi kerugian negara. “Kita akan umumkan setelah (aset) terkumpul, karena ini tidak main-main nilainya,” ungkap mantan Wakajati DKI Jakarta itu.

Menurut mantan Jaksa KPK itu, barang yang telah disita bakal dilakukan penilaian (penentuan harga) terlebih dahulu sebelum dilelang. Jikalau aset tersangka yang dirampas negara belum dapat menutupi nilai kerugian, maka Kejati akan terus mencari sisa-sisa aset yang masih disimpan tersangka. Termasuk menelusuri kemungkinan aset tersangka yang menggunakan nama orang lain. Hingga kini, status DPO masih melekat pada LSO. (rus)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.