Air Tak Lancar, Tagihan Membengkak


-PDAM Sarankan Segera Ajukan Komplain

KENDARINEWS.COM– Umar (40) warga Wuawua dibuat kesal atas tagihan air yang diperolehnya dari PDAM Tirta Anoa Kota Kendari, kemarin. Bagaimana tidak, karyawan swasta itu kaget melihat tagihan airnya yang “membengkak”. Semula tagihan aitnya hanya Rp 200 ribu naik jadi Rp 300 ribu. “Tagihannya, makin mahal. Padahal saya tidak terlalu banyak menggunakan air. Airnya saja jarang mengalir. Sebulan paling empat kali. Masa tagihannya Rp 300 ribu,” kata Umar dengan nada kesal.

Umar berharap, PDAM bisa meninjau kembali hitungan tarif air bersih pelanggan. Itu penting mengingat distribusi air PDAM saat ini tidak lancar dan kualitas air yang buruk, kabur dan berbau.”Saya bingung cara perhitungan tarifnya apakah berdasarkan pemakaian ? Atau dihitung berdasarkan pemakaian air bulan lalu. Karena tukang catat meternya juga tidak pernah datang mengecek pemakaian pelanggan. Selama covid petugasnya tidak pernah ada yang muncul,” keluh Umar.

Keluhan senada diungkapkan pelanggan PDAM di Balai Kota bernama Faiz. Ia mengaku heran dengan tanggihan air yang tidak pernah berubah. Padahal dalam sebulan ini, baru tiga kali air PDAM mengalir. “Pertanyaannya, apa yang menjadi acuan penetapan harga. Kalau berdasarkan kubikasi, harusnya tagihannya berkurang. Padahal sejak pandemi, petugas pencatat tak lagi datang ke rumah,” tandasnya.

Terpisah, Direktur PDAM Kendari, Damin mengaku penetapan tarif PDAM Tirta Anoa Kendari sudah diatur dalam Perda Kota Kendari nomor 7 tahun 2010 yang mana tarif air yakni sebesar Rp 6.500 dikalikan dengan jumlah pemakaian air per meter kubik. Jika terjadi kekeliruan dalam perhitungan, ia menyarankan pelanggan datang langsung di Kantor PDAM Kendari untuk mengajukan komplain atau keberatan untuk dilakukan investigasi meteran bersama.

Terkait masalah durasi distribusi air, Damin tak menampik jika dua tahun belakangan ini kurang maksimal. Itu terjadi lantaran kerusakan yang terjadi pada dua mesin pompa di Intake Pohara. Kerusakan itu mengakibatkan mesin yang beroperasi hanya 1 unit. “Jadi debitnya tidak besar dan sering kami istirahatkan supaya tidak ikut rusak,” kata Damin. (b/ags)

Tinggalkan Balasan