Wajib Tahu! Fakta Penting Soal Hipertensi

KENDARINEWS.COM

1. Apa itu  hipertensi?

Sesuai dengan sebagian besar pedoman utama, direkomendasikan agar hipertensi didiagnosis ketika tekanan darah sistolik (SBP) seseorang di kantor atau klinik 140 mm Hg dan/atau tekanan darah diastolik (DBP) mereka 90 mm Hg setelah pemeriksaan berulang.

2. Apa penyebab dari Hipertensi?

Hipertensi berdasarkan penyebab dibagi menjadi dua, hipertensi Primer dan Sekunder. Penyebab pasti Hipertensi primer tidak diketahui, namun ada beberapa hal yang kemungkinan memiliki keterkaitan terhadap kejadian Hipertensi, yaitu:

• keterkaitan genetik (lebih sering ditemukan pada keluarga yang orang tuanya menderita hipertensi

• keterkaitan lingkungan (misal, hipertensi lebih lazim dijumpai jika garam dapat diperoleh dengan leluasa)

Sedangkan Hipertensi Sekunder terjadi jika seseorang memiliki penyakit atau kondisi tertentu yang dapat mempengaruhi tekanan darahnya, contoh pada penyakit tiroid, penyakit ginjal, tumor pada kelenjar adrenan, kecanduan alkohol, penggunaan NAPZA dan obat-obatan tertentu.

Faktor Risiko Hipertensi

– usia, cenderung terjadi pada orang usia Tua > 65 thn

– berat badan berlebih, lebih sering ditemukan pada orang berat badan berlebih dibandingkan orang yang kurus

– Diet kaya akan natrium, orang yang mengonsumsi makanan tinggi natrium (makanan yang dikemas di kantong, kotak, kaleng)

– mengonsumsi terlalu banyak kafein

– jarang berolahraga dan beraktivitas

– wanita hamil

Ilustrasi (net)

3. Bisakah Sembuh dari Hipertensi?

 Kadang, ini lebih merupakan pengecualian dari pada sesuatu yang pasti. Jarang kami menggunakan kata “sembuh” dan “hipertensi” dalam kalimat yang sama. Orang yang memiliki hipertensi yang dapat diobati sampai sembuh biasanya mengidap hipertensi sekunder (jika penyebabnya dapat diketahui) atau memiliki kerusakan jantung yang membuat pompa jantung tidak mampu mempertahankan peningkatan tekanan darah disebabkan serangan jantung dan/atau gagal jantung.

Akhirnya, kebanyakan pengalaman dokter dalam merawat pasien tekanan darah tinggi memperlihatkan beberapa orang mengalami episode peningkatan tekanan darah lebih lama diselingi periode tingkat tekanan darah kembali ke normal. Dengan kata lain, hipertensi telah teridentifikasi tetapi tidak menetap pada beberapa orang. Dalam praktik saya, ketika me lakukan tiga kali pemeriksaan tekanan darah selama sebulan, kadang-kadang kami menemukan pasien yang memperlihatkan hipertensi dalam dua dari tiga kali pemeriksaan dan setelahnya normal dalam beberapa kali kunjungan, tetapi kemudian meningkat lagi. Dalam kasus semacam ini, pengukuran tekanan darah rendah bukanlah benar-benar hasil dari pengobatan, tetapi lebih mengindikasikan suatu variabilitas besar dalam tekanan darah individu. Untuk pasien-pasien ini, sulit untuk mengetahui dengan benar kapan memulai pemberian obat tekanan darah-itulah sebabnya masih ada suatu aspek seni dalam perawatan kedokteran (berlawanan dengan ilmu murni). Bagian dari seni itu terletak pada upaya membujuk pasien untuk mulai minum obat, sementara sebagian lainnya adalah mengetahui kapan berdiskusi tentang hal itu!

4. Perubahan pola hidup seperti apa yang perlu dilakukan jika menderita Hipertensi?

Seseorang dapat melakukan empat langkah untuk mengelola tekanan darahnya, yaitu dengan cara me lakukan pengobatan penurun tekanan darah:

  • Kurangi berat badan jika Anda kelebihan berat badan.

Pada praktiknya, setiap kali berat badan Anda turun kira-kira 0,9 Kg, maka skala tekanan darah akan turun kira-kira satu poin (1 mm Hg). Contohnya, kehilangan 9,1 Kg dapat menyebabkan penurunan tekanan darah sebanyak 10 mm Hg. Tentu saja, hasil yang teliti tidak dijamin, sebab informasi ini berasal dari penelitian kelompok besar orang, bukan individu tertentu. Dengan demikian, kehilangan berar badan memberikan beberapa manfaat selain kontrol tekanan darah lebih baik, yaitu nilai lemak lebih baik, bernapas lebih bebas saat melangkah naik, dan butuh waktu yang lebih lama sebelum Anda harus mempertimbangkan pergantian sendi lutut.

  • Kurangi asupan garam

Masalah garam relatif rumit. Hanya setengah sampai dua per tiga pasien dengan tekanan darah tinggi sen sitif garam: Mereka mengalami penurunan tekanan darah saat mereka menurunkan asupan garamnya. Sayangnya, hal ini berarti sepertiga sampai setengah pasien dengan tekanan darah tinggi adalah resisten garam: Mereka tidak mengalami perubahan tekanan darah saat mereka menurunkan asupan garam.

  • Lakukan olahraga

Anda tidak harus menghabiskan sejam setiap hari secara intens melakukan aktivitas aerobik untuk mendapatkan beberapa manfaat dari aktivitas tersebut. Sebenarnya, 20-30 menit jalan cepat setiap hari sangat baik bagi kita semua. Jenis olahraga sedang yang sama cenderung mempunyai efek sedang pada penurunan gula darah, sekaligus membantu mengurangi selera makan.

Lebih lanjut, olahraga dapat meningkatkan metabolisme lemak dengan menurunkan nilai tri gliserida dan meningkatkan bentuk kolesterol baik, yang dikenal sebagai kolesterol High-Density Li poprotein (HDL). Lebih dari itu, olahraga teratur, khususnya yang berkaitan dengan penurunan berat badan, dapat menurunkan peluang terkena diabetes suatu hari nanti.

  • Batasi asupan alkohol harian menjadi 3 kali minum jika Anda pria, dan dua kali minum jika Anda wanita.

5. Apakah Stres dapat mempengaruhi Tekanan Darah?

Hubungan antara Stres dan tekanan darah tidak sepenuhnya di mengerti, namun beberapa peneliti menemukan keterkaitan antara tingkat stres dan tekanan darah.

Para peneliti telah berusaha untuk menemukan pengukuran objektif dan bernilai bagi stres tubuh. Sebagai contoh, kami tahu bahwa stres cenderung meningkatkan jumlah dua zat kimia penting da lam tubuh: adrenalin dan kortisol. Adrenalin me rupakan cara yang bagus untuk membangkitkan sirkulasi. Adrenalin membuat pompa jantung lebih cepat dan lebih kuat, dan biasanya meningkatkan tekanan darah. Fungsi kortisol seperti aspirin tu buh. Kortisol mempunyai efek anti-inflamasi, dan dapat mengurangi nyeri (sebagaimana diketahui oleh penderita rheumatoid arthritis, karena kortisol membantu menghilangkan kekambuhan artritis). Sayangnya, kortisol juga bekerja menyimpan garam dalam tubuh dengan cara mengurangi garam yang keluar lewat air seni. Kortisol memiliki efek lain yang kurang dipahami dengan baik yang berakibat menaikkan tekanan darah.

Berapa besar efek stres pada tekanan darah telah di bahas secara luas. Bila kami mengukur tekanan darah secara hati-hati pada petugas kontrol lalu lintas udara di tempat kerjanya, hasil pengukuran cenderung lebih tinggi daripada ketika mereka diperiksa di rumah. Demikian juga, pengukuran tekanan darah pada petugas kontrol yang diperiksa di tempat kerja lebih tinggi dibandingkan pengukuran tekanan darah pada orang yang bekerja di kantor yang relaks dengan pekerjaan yang tidak terlalu berisiko. Meskipun demikian, sangat sulit untuk menentukan seberapa besar stres memengaruhi tekanan darah. (sumber : Buku “tekanan darah tinggi (hipertensi”, Oleh : Raymond R. Townsend, MD).

Tinggalkan Balasan