Tidak Sekadar Hadir untuk Diri Sendiri (Gepsultra Menuju Sidang Sinode ke-18)

Opini

Gereja Protestan di Sulawesi Tenggara (Gepsultra) kembali akan menyelenggarakan persidangan sinode ke-18 di Kolaka, Klasis Mekongga. Tema yang diangkat, “Aku yang Awal dan yang Akhir (Wahyu 22:12-13)” dan Sub Tema : “Bersama seluruh warga bangsa Gepsultra memperkokoh NKRI yang demokratis, adil dan sejahtera bagi semua ciptaan berlandaskan Pancasila dan UUD 1945”. Persidangan gerejawi ini akan dihadiri oleh utusan jemaat-jemaat. Dalam keadaan normal seperti persidangan sebelumnya yang berlangsung lima tahunan, kegiatan ini juga seperti pesta demokrasi dan perayaan iman dan kegembiraan atas perkenaan Tuhan bagi gereja-Nya, dan biasanya juga menyita waktu seminggu.

Tetapi karena saat ini masih pandemi Covid-19, maka persidangan juga akan makin singkat (dalam jadwal resmi paling lama tiga hari, 6-8 Oktober), dengan agenda pokok Laporan Pertanggungjawaban Badan Pekerja Majelis Sinode, Pembahasan (revisi?) Tata Gereja, Pokok-pokok Tugas Panggilan Gereja (PTPG), dan Pemilihan BPMS periode 2021-2026. Materi persidangan telah dikirim sebelumnya untuk jadi bahan pertimbangan, diskusi, hingga persidangan sinode hanya mengambil keputusan soal itu (lazim disebut pleno).

Dr. Winner A. Siregar, SH., MH. (Dosen Fakultas Hukum dan Program Pasca Sarjana Unsultra, Komisi Pemuda Gepsultra 2007-2011)

Gepsultra dan Konteksnya

Gereja ini secara sinodal berdiri sejak 1957 melalui suatu persidangan sinode, jauh sebelum Sulawesi Tenggara sebagai provinsi berdiri tahun 1964, meski nama awalnya GKSTa (untuk membedakannya dengan Gereja Kristen Sulawesi Tengah). Misi hadirnya telah ditanam untuk tumbuh sejak 1916 melalui kehadiran zendeling Hendrik van der Klift dari Belanda, dan banyak nama selanjutnya yang meneruskan pekerjaan pemberitaan injil. Dalam masa awal pendirian, lembaga zending berfokus pada kesehatan, pendidikan di sekitar Mowewe, Sanggona.
Tahun 2016 lalu, gereja ini telah merayakan 100 tahun masuknya injil di Sulawesi Tenggara. Ini adalah momen historis dan tonggak baru (mestinya) untuk menguatkan kembali makna kehadirannya dan menjadi berkat bagi lingkungan di mana ia berada.
Dimensi perjalanan sejarah itu mesti menjadi nilai dasar visi bersama, agar gereja ini bukan sekadar perkumpulan orang percaya, tetapi nilai-nilai inkulturasi juga terjadi. Meletakkan kembali dasar historis sebagai visi bersama menghadapai tantangan dan perubahan. Bagaimana agar Gepsultra adalah juga representasi dari provinsi ini. Penguatan kulturasi, penguatan sistemik, jaringan, adalah beberapa hal yang menjadi perhatian.

Gereja adalah kumpulan orang percaya, dengan misi. Dalam perkembangan soal kegerejaan, perkembangan ajaran, merumuskan konteks bergereja, termasuk kemandirian, urusan tata kelola, bagaimana gereja mengadaptasi perubahan yang ada. Bagaimana secara umum gereja memahami konteksnya, mungkin pengalaman PGI memberikan pendapat mengenai Tes Wawasan Kebangsaan bagi pegawai KPK barusan dapat dirujuk. Respon publik gereja mengenai hal ini pada umumnya terbagi dua, antara yang setuju sepenuhnya sikap PGI, yang menolak dengan argumentasi, dan meski kemudian belakangan dapat memahami sikapi tersebut.

Ini memberi gambaran bahwa sikap gereja mengenai masalah sosial kemasyarakatan belum dapat diterima, bahkan dianggap sebagai ‘bukan urusannya’, biarlah mempersoalkan hak-hal yang terkait langsung dengan eksistensi gereja di Indonesia, misalnya soal pendirian gereja, IMB yang bersoal. Sebegitu sederhanalah pemahaman kegerejaan kita. Yang dapat kita maknai dalam konteks Sulawesi Tenggara, misalnya minimal memahami konteks Sulawesi Tenggara sebagai daerah pertambangan dengan dampak ikutan industrialisasi yang dibawanya. Bagaimana memaknai kehadiran gereja dalam hal ini, apakah juga ikut mengadvokasi persoalan lingkungan yang makin tampak, bencana ekologi banjir yang sangat sering. Perlu merumuskan perannya soal ini.

Gepsultra Mengadaptasi Perubahan

Gereja yang berdiri sejak 1957 (secara sinodal berusia 64 tahun) telah mampu melewati zaman tantangan yang dialaminya di masa lalu, dari era gangguan keamanan, hingga saat ini. Tentu tidak mudah melewati berbagai gelombang perubahan yang ada. Diperlukan kesadaran bersama, komitmen, kepemimpinan dan manajemen yang tepat. Sampai saat ini, masalah kemandirian teologi, daya, dan dana masih menjadi simbolisme visi semata. Penerjemahan rencana strategis yang tidak konsisten, implementasi dan tiadanya evaluasi atas pelaksanaan adalah kendala.
Menilai semua itu boleh dilakukan dengan paradigma sederhana, bisakah kemandirian teologi jika berbagai ajaran masuk dan tiada ajaran bersama yang diterima sebagai nilai-nilai bersama. Jika perdebatan hal teknis berulang memerlukan panduan penyelesaian dalam kurun tertentu, termasuk pertanyaan penting mengenai, bagaimana warna teologi Gepsultra, ditengah nir gagasan teologi yang hadir, termasuk dalam hal ini adalah kemendesakan untuk segera membangun visi bersama peningkatan sumber daya teologi para pendeta.

Kemandirian dana yang selalu diupayakan melalui kemitraan atau kerjasama luar negeri mesti menjadi fokus dalam konteks tata kelola program, kemitraan strategis, diperlukan keberanian mengakui kekurangan dan memperbaiki sistem pelaksanaan. Pada saat yang sama perlunya membangun paradigma “usaha gereja” dalam konteks gereja yang dapat dimulai dari jemaat memikirkan berbagai upaya agar dapat menghidupkan potensi perekonomian dan tidak sekadar bergantung kepada pemasukan dari warga melalui kolekte yang diberi dengan sukarela.

Intinya jangan mengandalkan kolekte sebagai pendapatan asli, tetapi usaha-usaha jemaat perlu dilakukan, karena bukan sekadar menambah pemasukan, tetapi gereja melakukan pemberdayaan ekonomi umat dan menyediakan lapangan kerja bagi warganya. Kemandirian daya bermakna kemampuan sumber daya dilini yang memungkinkan, agar dengan sumber daya yang ada terus terjadi perbaikan dalam aspek pelayanan, penguatan kapasitas dan keterampilan bagi para pengerja dan warga. Visi kemandirian teologi daya dan dana ini akan terus menerus diperlukan dan berkorelasi dengan bagaimana kelembagaan sinodal memperbaiki tata kelolanya.
Bagian ini tanpa melupakan turut sertanya Gepsultra mengambil bagian dalam upaya mencerdaskan bangsa melalui Playgroup hingga SMA Oikoumene dengan segala tantangan dan dinamika pengelolaan pendidikan, dan tentu saja Panti Asuhan Harapan Baru Lambuya sebagai kesadaran atas panggilan sosial gereja.
OIG dan Kepemimpinan

Dimanapun publik paham bahwa kepemimpinan adalah aspek penting dalam pengeloaan organisasi. Ia satu sisi penting selain manajemen. Tiada kepemimpian yang baik tanpa manajemen yang baik, dan tiada manajemen yang baik tanpa kepemimpinan yang cakap.
Kepemimpinan yang baik tanpa manajemen yang baik hanyalah karakter kharismatis saja, dan manajemen tanpa kepemimpinan adalah auto pilot. Salah satu persemaian kepemimpinan itu adalah organisasi intra gerejawi; Sekolah Minggu, Pemuda, Perempuan dan Kaum Bapak. Sayang sekali, jika merujuk Sidang Sinode 2006, 2011 dan sesudahnya 2016, desain kepemimpinan tak tampak dalam kelembagaan OIG yang ada. Yang tampak hanya sekadar agar dapat dipakai sebagai wadah pelayanan (agar dapat pengelompokan pelayanan saja).

Kepemimpinan adalah hasil dari proses yang panjang. Kepemimpinan instan diruang publik dapat diduga sebagai hasil kompromi antara kronisme, koncoisme atau dinasti misalnya. Padahal desain OIG bukan sekadar kelompok pelayanan, tetapi pendaratan visi kelembagaan dalam konteks masing-masing dan memberi kesempatan pembelajaran kepemimpinan (regenerasi dan kaderisasi). Semacam persiapan memasuki ruang publik. Tentu juga bagaimana Gepsultra sebagai gereja terbesar di Sulawesi Tenggara makin meneguhkan dukungannya dan kerjasama strategisnya kepada organisasi Kristen yang lain semisal GSKI, GMKI, GAMKI, PWKI, PIKI di daerah.

Penutup

Gereja hadir untuk menjadi berkat, menjadi garam dan terang bagi dunia dimana ia berada, menjadi damai sejahtera. Ia bukan berada di ruang hampa, ia lahir hidup dan berkembang bersama masyarakat dengan segala persoalan sosial kemasyarakatan, ekonomi, yang menghimpitnya. Ada begitu banyak peran yang dapat dikerjakan, bukan sekadar mengurus dirinya sendiri. Yang dengan kepemihakannya kepada masalah masyarakat, meluaskan aspek pelayanannya, memerlukan penguatan sumber daya teologi, jaringan, memerlukan kaderisasi dan topangan dan memperluas stake holdernya. Salah satu aspek penting untuk terus menjadi perhatian adalah kepemimpinan, dan tata kelola kelembagaan yang baik. Semua ini memerlukan dukungan dari semua warganya, kemampuan mengembangkan stakeholder, kaderisasi yang tak pernah berhenti, dan sumber daya yang terus dikuatkan menuju kemandirian.
Agar sidang sinode ini bukan agenda rutinitas organisasi semata, mempersoalkan hal-hal teknis yang akan terus berulang, lalu kemudian dalam periode berjalan juga mengurusi hal-hal rutin semata.
Perlu meletakkan kembali bagaimana sikap bersama menghadapi tantangan, adaptasi perubahan, memahami kontekstualitasnya, agar tidak hadir sekadar untuk diri sendiri, tetapi mesti terasa dampaknya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *