Kebiasaan Menggigit? Begini Cara Mengatasinya

Knowledge

KENDARINEWS.COM — Pada anak usia di bawah tiga tahun (batita), memukul, mendorong, menarik rambut teman bahkan menggigit merupakan cara yang biasa mereka gunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain, sebelum keterampilan sosial dan bahasa mereka berkembang sempurna. Dan seiring dengan berkembangnya waktu, mereka akan sadar jika kebiasaan mereka berkomunikasi seperti itu akan memperoleh reaksi dari orang lain di sekitarnya. Dan reaksi yang mereka dapatkan bisa berupa reaksi marah dari teman yang digigittnya atau “si korban” dan reaksi dari orangtua “si korban”. Sekali. pun reaksi yang ia peroleh tidak menyenangkan, si anak biasanya akan tetap merasa mendapat sesuatu dan meneruskan kebiasaan tersebut. 

Kebiasaan menggigit sebenar alamiah pada anak-anak yang berusia sekitar I tahun dan biasanya yang mereka gigit adalah orangtuanya atau orang lain yang berusaha mengambilnya. Pada usia ini perilaku menggigit seringkali dilakukan sebagai usaha untuk mengurangi rasa nyeri pada gusinya yang bengkak ketika giginya tumbuh. Menggigit dalam arti sebenarnya, bukan karena kompensasi terhadap tumbuhnya gigi, tetap dianggap sebagai masalah pada anak terutama bila anak tersebut berusia antara 18-30 bulan. Pada usia ini, seorang anak biasanya tidak peduli rasa sakit yang ditimbulkan oleh gigitannya baik itu pada anak kecil lainnya atau pada orang dewasa. Kebiasaan ini sering kali terjadi ketika si anak sedang bermain dengan temannya, sehingga bukan saja menyisakan rasa nyeri yang sangat tetapi sering kali memicu terjadinya aksi saling berkelahi dengan teman bermainnya. Kebiasaan menggigit yang menetap dapat dijadikan suatu petanda adanya masalah emosional dan perilaku. Sedangkan seorang anak yang sering bertindak agresif dan atau membahayakan, ini berarti si anak memiliki masalah emosional dan perilaku yang membutuhkan bantuan berupa evaluasi dan intervensi dari ahlinya.

Ilustrasi : freepik.com

FAKTOR PENYEBAB KEBIASAAN MENGGIGIT

Beberapa literatur menyatakan bahwa perilaku menggigit pada anak adalah normal dalam fase perkembangan bayi dan batita, tanpa disertai gangguan perkembangan yang berarti tetapi bila seorang anak diatas tiga tahun memiliki kebiasaan sering menggigit dapat dianggap sebagai masalah dalam perilaku. Biasanya dalam perkembangan alamaiah, kebiasaan menggigit karena adanya sikap yang ingin ia tunjukkan pada teman, orangtua atau gurunya.

Masa Bayi

Pada seorang bayi kebiasaan menggigit dianggap sebagai bentuk keinginannya untuk mengeksplorasi mulutnya lebih jauh. Karena mulut dalam hal ini giginya merupakan bagian dari tubuhnya yang berkembang. Menggigit juga pada masa ini dianggap sebagai bentuk komunikasi primitif yang dimiliki seorang bayi dan bukan untuk menunjukkan pengalaman menyakitkan kepada orang yang digigitnya. Perlakuan menggit yang dilakukan oleh seorang anak secara berulang juga di sebabkan karena belum memiliki kontrol diri, terutama pada saat mereka sedang menikmati sesuatu (misalnya sedang menikmati stimulasi musik pada bayi, maka bisa saja ia akan menggigit orang yang ada didekatnya karena ia begitu senang dan menikmati musik tersebut). Literatur lain menyebutkan bahwa seorang bayi akan menggigit bila mereka ingin mencium atau menyentuh suatu objek, bereksperimen dengan sebab-akibat yang ia lakukan, serta untuk mengurangi nyeri karena masa tumbuh gigi. Untuk itu dianjurkan pada masa ini, kebiasaan menggigit bisa diatasi dengan memberi bayi mainan yang bisa dikunyah/digigit, biskuit beku, dan lain sebagainya tetapi aman untuk bayi.

Masa Bawah Tiga Tahun (Batita)

Kebiasaan menggigit pada usia antara 12-36 bulan merupakan bentuk komunikasi terutama untuk mengungkapkan rasa ketidakmampuannya dalam berinteraksi sosial, berbahasa, serta mengontrol diri. Pada anak dengan keterbatasan tersebut tentunya tidak dapat mengkomunikasikan apa yang ia inginkan pada orang lain, sehingga orang lain/lingkungan sekitarnya tidak dapat memberikan respon terhadap keinginannya. Menggigit dianggap cara yang paling ampuh untuk memperlihatkan kekuatannya pada orang sekitarnya dan cara paling mudah untuk mendapatkan mainan atau perhatian yang ia inginkan.

Pada anak dengan keterbatasan keterampilan tersebut, banyak kesempatan, keinginan, permintaan, yang akan ia sampaikan dengan cara marah atau menggigit. Seorang anak batita biasanya akan menggigit bila tidak didampingi oleh orang tua lebih dari lima menit. Sedangkan batita yang lain menggigit dilakukan sebagai usaha mempertahankan diri atau mencontoh orang di sekitarnya yang biasa menggigit.

Kebiasaan menggigit pada anak sering terjadi pada usia sekitar 3 tahun. Dan kebiasaan ini digolongkan ke dalam perilaku agresif yang biasanya terjadi banyak pada anak laki-laki dibanding anak perempuan. Bila seorang anak dengan kebiasaan ini berada dalam lingkungan keluarga yang selalu menggunakan hukuman fisik atau adanya faktor stres yang berulang maka perilaku menggigit pada anak akan menjadi lebih berat dan cenderung akan menetap. Begitu pula contoh/ model kekerasan yang anak lihat dirumah dapat menjadi faktor predisposisi perilaku agresif, seperti menggigit.

Masa Prasekolah

Sering ataupun jarang, menggigit pada masa prasekolah sebenarnya tetap disebabkan karena alasan yang sama seperti pada saat bayi ataupun batita yaitu untuk mengontrol situasi agar mendapat perhatian dari orang di sekitarnya, atau sebagai mekanisme pertahanan diri untuk mengungkapkan rasa frustasi dan kemarahannya. Namun kebiasaan menggigit yang masih berlanjut setelah usia 3 tahun mengindikasikan adanya masalah perilaku, karena seperti diketahui pada usia ini seorang anak telah mampu berkomunikasi dan bernegosiasi dengan orang lain untuk mengungkapkan keinginannya tanpa harus menggigit. Pada sebagian kecil anak kebiasaan menggigit disebabkan adanya gangguan pada integritas sensori (yaitu respon negatif seperti cemas, berkelahi maupun tindakan agresif terhadap sensasi sentuhan), sehingga pada anak usia prasekolah yang masih memiliki kebiasaan menggigit dianjurkan untuk dilakukan skrining ke arah kelainan tersebut.

Jadi dari penjelasan diatas inti dari faktor faktor yang berperan dalam terjadinya kebiasaan menggigit pada anak adalah.

  1. Lingkungan sekitar anak
    1. Lingkungan memberi contoh perilaku menggigit.
    1. Menggigit biasanya digunakan anak-anak untuk mengepresikan rasa frustasinya. (ini merupakan cara am. puh untuk mencari perhatian orang dewasa).
    1. Perkembangan si anak
      1. Puncak pertama pada saat tumbuh gigi.  
      1. Puncak kedua pada saat usia 18-22 bulan. Sebagai ekspresi yang menyenangkan bagi anak.
      1.  Pada usia 2 tahun, adalah waktu yang normal ketika perkembangan keterampilan.
      1. Menggigit anak yang lebih dari 3 tahun biasanya terjadi pada keadaan yang ekstrim. Misalnya kalah dalam perkelahian, membela diri.

CARA MENGENAL KEBIASAAN MENGGIGIT PADA ANAK

Banyak kepustakaan yang menuliskan bahwa kebiasaan menggigit pada anak sangat berhubungan dengan bagaimana si anak berkomunikasi dengan orangtuanya. Sehingga orang tua haruslah menyadari bahwa kebiasaan menggigit itu hanya dapat dikatakan normal bila terjadi sampai usia 3 tahun, dan bila diatas usia tersebut kebiasaan menggigit masih terjadi orang tua haruslah meminta pertolongan pada orang yang lebih ahli.

Apabila terjadi kejadian dimana si anak menggigit teman nya maka meminta maaf pada orangtua si anak yang digigit bukanlah strategi yang efektif untuk mengatasinya karena hal ini menunjukkan ketidakmampuan guru di sekolah untuk mencegah terjadinya hal ini. Hal yang penting adalah bagaimana memastikan semua anak dalam keadaan aman. Kunci pertanyaan yang harus dikemukakan untuk mengenal adanya kebiasaan menggigit pada seorang anak adalah sebagai berikut.

  1. “Kapan kebiasaan menggigit dimulai? Apalagi yang berubah pada saat itu ketika kebiasaan berawal?”

Pertanyaan ini untuk dapat memberi gambaran pada kita adakah alasan yang menyebabkan timbulnya stress/tekanan pada si anak seperti pengasuh baru atau lahirnya adik.

  • “Pada situasi seperti apa kebiasaan menggigit ini sering terjadi?”

Pertanyaan ini dapat memberi gambaran kepada kita hal hal yang dapat membuat si anak putus asa dan anak gagal menirukan suatu keterampilan. Bila si anak menunjukkan adanya kelemahan perkembangan seperti keterlambatan motorik halus (misalnya anak akan menggigit ketika pela jaran mewarnai atau dapat juga kebiasaan menggigit ter jadi hanya bila sebelum waktu makan tiba, maka ini menandakan si anak menggigit disebabkan oleh rasa lapar yang tidak dapat ia ungkapkan.

  • “Seberapa jauh orang tua dapat mengatasi kebiasaan ini?”

Pertanyaan ini penting untuk mengetahui apakah orang tua sebenarnya justru salah dalam menyikapi kebiasaan menggigit pada anak sehingga kejadian tersebut berulang terus.

  • Adakah yang perlu diperhatikan dari sang anak seperti perilaku atau perkembangannya?”

Pertanyaan ini akan memberi gambaran pada kita bahwa kelainan yang lebih kompleks seperti perilaku agresif atau keterlambatan perkembangan spesifik dapat saja terlihat dalam bentuk kebiasaan menggigit.

  • “Bagaima ekspresi marah yang biasa terjadi di rumah?”

Pertanyaan ini untuk memberi gambaran bahwa bagai mana orang dewasa atau atau orang-orang di sekeliling si anak yang ada di rumah berekpresi terhadap rasa marah dan kekerasan, karena pada intinya anak-anak selalu mencontoh perilaku yang ada di sekitarnya.

  • “Adakah pikiran orangtua tentang bagaimana si anak diasuh olehnya?”

Pertanyaan ini bisa menggambarkan bagaimana pola peng asuhan orangtua atau yang lainnya dalam mengasuh si anak seperti sering terjadi kekerasan pada anak, penelantaran anak, kekejaman, atau kualitas pengasuhan lain. yang buruk yang tentunya berpengaruh pada kebiasaan menggigitnya.

STRATEGI MENGATASI KEBIASAAN MENGGIGIT

Masih sangat jarang penelitian yang melaporkan mengenai perbedaan berbagai strategi yang jitu untuk mengatasi bila kebiasaan menggigit terjadi. Literatur lebih banyak menuliskan beberapa ide dan strategi dalam menghadapi kejadian tersebut yang dapat dilakukan oleh para ahli didunia anak, pengasuh, guru sekolah dan para orang tua, antara lain.

  1. Kenali penyebab menggigit

Para ahli menyarakan agar para orang tua, pengasuh, maupun guru yang mengajar si anak untuk melakukan pengamatan mengenai kapan, dan kepada siapa biasanya si anak sering memukul. Banyak hal-hal yang dapat menyebabkan si anak berubah menjadi lebih sensitif saat bergabung dengan anak tertentu dan lebih bisa menahan diri bermain dengan teman-teman sebayanya. Atau ke biasaan itu terjadi bila si anak berada di luar rumah dari pada di dalam rumah, lebih suka bermain berdua saja daripada bermain dengan kelompok yang lebih banyak, lebih muda terpicu memukul pada saat lapar atau capek, atau ia hanya bisa bertingkah baik di dua jam pertama saja. Bila kebiasaan diatas bisa diidentifikasi, maka sebagai orangtua, pengasuh, maupun guru dapat mengurangi hal hal tersebut.

  • Beri Contoh yang baik pada anak

Seringkali seorang anak menggigit karena terkejut,malu atau marah. Sehingga menurut para ahli dikatakan bahwa perlu dihindari perilaku memarahi anak pada saat kebiasaan menggigitnya terjadi karena hal ini dapat berakibat si anak mengartikan pesan ganda, yaitu tidak boleh atau malah harus meniru perilaku kasar orangtuanya. Selanjutnya dikatakan bahwa anak akan belajar sesuatu lebih baik jika cara yang digunakan lebih lembut. Tak perlu menggunakan tangan atau kaki, cukup menggunakan kata kata.

  • Bantu si anak menerjemahkan respons

Menurut para ahli, dikatakan bahwa pada saat kebiasaan menggigitnya ia lakukan, orangtua, pengasuh atau guru haruslah membantu si anak untuk menerjemahkan respon anak yang digigitnya bahwa anak lain merasa sakit, dan tidak suka dipukul. Dan memang dilaporkan bahwa cara ini cukup efektif membuat si anak belajar apa yang ia lakukan membuat orang lain tidak senang. Selain itu orangtua, pengasuh atau guru juga harus memberi pelajaran pada anak yang digigit untuk belajar mengatakan tidak dan jangan menggigit pada temannya yang sering menggigit.

  • Antisipasi

Pada anak yang sering menggigit, mereka akan selalu melakukannya berulang-ulang karena biasanya mereka akan tertarik pada reaksi orang yang berbeda-beda. Jadi para pakar menganjurkan untuk tetaplah berada dekat si anak dan terus memberikan alternatif aktifitas lain. Semakin sering seorang anak memakai alternatif lain, ia akan semakin belajar bagaimana cara bereaksi.

  • Butuh Waktu

Banyak sekali yang harus dipelajari seorang anak dari lingkungannya, tentang perasaan, dan tentang perilaku baik yang harus ia kerjakan. Untuk itu perlu waktu untuk proses belajar tersebut. Sehingga anak tidak hanya belajar untuk tidak menggigit tetapi pada saat yang sama ia juga belajar tentang hal-hal lain yang akan membuat si anak mampu berkomunikasi dengan lingkungannya.

Sumber : Suryadi, Suryana A. Cara Efektif Memahami Perilaku Anak Usia Dini. Penerbit EDSA Mahkota

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *