Puluhan Warga di Kendari jadi Korban Dugaan Penipuan Perumahan

HEADLINE NEWS

Bayar Tanda Jadi, Rumah Tak Kunjung Dibangun

KENDARINEWS.COM — Puluhan warga menggeruduk Mapolres Kendari, kemarin. Mereka datang melaporkan dugaan kasus penipuan. Dari laporan, warga merasa ditipu sebuah perusahaan pengembangan perumahan di Kota Kendari. Pasalnya, mereka telah mengeluarkan uang sebagai bentuk kesempatan. Namun bangunan yang dijanjikan tak kunjung dibangun.

Seorang korban berinisial FAM mengaku telah melakukan transaksi pembayaran perumahan pada 2017 lalu. Saat itu, ia membeli satu unit rumah yang masih berbentuk kavling seharga Rp 180 juta. Dibuktikan dengan dokumen jual beli dari notaris dan kwitansi pembayaran.

“Pembayaran awal kita serahkan Rp 120 juta, sisanya Rp 60 juta akan dibayarkan saat pembangunan selesai. Tapi berjalan dua tahun, bangunnya masih bentuk pondasi,” keluhnya kemarin.

Sejumlah warga melaporkan dugaan penipuan yang dilakukan perusahaan pengembang di Mapolres Kendari kemarin.

Saat ini, ia masih bersabar. Makanya, ia berinisiatif membangun rumah di atas pondasi tersebut. Namun tetap dengan izin pihak pengembang. “Karena tak kunjung dimulai, saya bangun sendiri. Kesepakatan dengan pak Abdul Madjid (pimpinan perusahaan pengembang), saat rumah sudah jadi, sertifikat akan diserahkan kepada kami,” ujarnya.

Namun janji tinggallah janji. Hingga rumah berdiri, sertifikat yang dijanjikan tidak kunjung diterbitkan. Malahan ada pihak lain yang datang mengklaim lokasi FAM itu miliknya. Dengan membawa sertifikat. “Yang jadi masalahnya itu, sertifikat saya belum keluar tapi ada orang lain yang datang membawa sertifikat, mengklaim lokasi itu miliknya,” jelasnya.

Saat meminta penjelasan pengembang kata dia, ternyata bukan hanya dirinya yang mengalami hal yang sama. Hampir semua konsumen yang telah membayar uang sebagai tanda jadi tak mendapat kepastian. “Belakangan, pak Madjid mendadak hilang dan tak tahu lagi keberadaannya,” ujarnya.

Korban lainnya inisial AI mengaku tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Awalnya, Madjid menawarkan rumah yang sudah jadi. Tapi kakaknya menolak dan maunya masih berupa tanah. Setelah sepakat, korban menyetor uang sebesar Rp 100 juta. Ada bukti kwitansinya dan surat perjanjian transaksi.

“Berharap, saat sudah setor uang, rumahnya segera dikerjakan. Namun tak kunjung dikerjanakan. Kita mulai curiga dam akhirnya janjian. Setelah janjian itu, semua kontak pak Madjid tidak ada yang bisa dihubungi. Langsung hilang kontak,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan FF. Ia menuturkan sebenarnya sertifikat rumah yang dibeli dari Madjid sudah terbit. Namun, belum diserahkan kepadanya. Malah digadai pada orang lain.

“Saya sudah lama tinggal disana, sejak 2018 akhir. Saya melapor karena merasa ditipu. Apalagi sekarang ada beberapa pihak mengklaim memiliki sertifikat yang sama di lokasi saya. Padahal sudah bertahun tahun saya di sini. Kita minta tolong pihak kepolisian bisa mengungkap dugaan kasus ini,” imbuhnya.

Tenaga Marketing perumahan, SR mengaku tidak tahu bisa sampai seperti ini. Sebagai marketing, ia memang kerap diminta mengurus pembangunan rumah, mulai dari penyediaan material bangunan dan pekerja. Tapi begitu material bangunan tersedia dan pekerja menyelesaikan volume pekerjaannya, pembayarannya selalu ditunda-tunda dan diangsur.

Ia mengaku, terakhir komunikasi 12 Agustus 2021 malam. Saat dirinya meneruskan komplain dari beberapa pekerja dan pihak toko tempat penyedia material diambil. Pasalnya; masih ada sebagian yang belum di lunasi oleh Madjid. Sementara sudah menunggak berbulan bulan bahkan ada yang lebih satu tahun.

“Terakhir komunikasi 12 Agustus kemarin, beliau janji akan bayarkan minggu depannya, tapi justru tanggal 13 Agustus pak Madjid sudah tidak bisa dihubungi, begitupun keluarganya. Rumahnya pun kosong. Sekarang kita tidak tau beliau di mana. Sementara tagihan material dan pekerja masih di atas Rp 500-an juta,” jelasnya.

Kasatreskrim Polres Kendari, AKP I Gede Pranata Wiguna mengatakan laporan tersebut telah diterima. Pada intinya, dugaan kasus ini masih akan di dalami lebih dulu. Polisi belum bisa menyimpulkan dugaan kasus tersebut. “Kita dalami terlebih dahulu, apakah kasus ini masuk dalam penipuan, penggelapan atau seperti apa. Sekarang belum bisa disimpulkan. Nantinya jika ada perkembangan akan kami informasikan,” ungkapnya. (b/ndi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *