Pemkot Baubau Bersama LPPM UHO Sinergi Majukan UMKM

Bau-bau

KENDARINEWS.COM– Persoalan pemasaran dan promosi produk masih menjadi kendala terbesar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Kota Baubau dalam meningkatkan skala bisnisnya. Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau mencoba mengatasi problem tersebut dengan menggandeng Lembaga Peneliti dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Halu Oleo (UHO). Bersama LPPM UHO, Pemkot Baubau dalam hal ini Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) bersinergi memajukan UMKM melalui seminar kajian pengembangan pemasaran produk UMKM.

“Pengembangan pemasaran produk UMKM adalah sesuatu yang dibutuhkan. Hal itu telah ada di dalam renstra Balitbang Baubau. Perencanaan strategis itu sejalan dengan usaha pemerintah Kota Baubau agar UMKM semakin menggeliat. Olehnya itu pengembangan pemasaran produk UMKM bisa menjadi wadah peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Baubau,” kata Sekretaris Kota (Sekot) Baubau, Roni Muhtar saat mewakili Wali Kota Baubau, AS Tamrin membuka seminar akhir pengembangan pemasaran produk UMKM, di kantor Balitbang kemarin.

Lanjut jenderal ASN Kota Baubau itu, bahwa keberadaan UMKM sangat penting dalam mendukung kemajuan daerah. Ditambah lagi hal itu selaras dengan visi dan misi pemerintahan “Tampil Manis” yaitu menjadikan Kota Baubau sebagai kota yang maju, sejahtera dan berbudaya yang dikemas dalam misinya yang tertib, aman, maju, populer, indah dan lancar. “Jadi segala tata aturan pengelolaannya dalam segala aspeknya harus tertib, aman, maju, populer, indah dan lancar. Atas dasar itu kami dibawah komando Walikota Baubau, maka konsetrasi kita tertuju pada upaya memberikan tambahan anggaran yang proporsional, logis dan fungsional kepada OPD yang berkaitan dengan kemakmuran masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu ketua tim peneliti yang ditugaskan LPPM UHO, Dr Nanik Hindaryatiningsih, SE mengatakan, selain konsistensi dalam menjaga kualitas produk, para pelaku UMKM acap kali mengalami kendala dalam menjual produknya. Hal itu dikarenakan faktor eksternal sperti manajemen usaha, sumber daya manusia (SDM), produksi, pemasaran, permodalan dan minimnya pengetahuan teknologi. Ditambah lagi kebijakan pemerintah PSBB dan sosial dintance, Iklim usaha, dan impilkasi kebijakan standar produk pasar Asean.

“Terkadang para pelaku UMKM hanya memfokuskan kecenderungan pada proses produksi tanpa diimbangi oleh pemasaran dan promosi. Apalagi dalam kondisi pandemi saat ini. Akibatnya langkah pemasaran dan promosi yang ditempuh cenderung konvensional, yakni dari bibir ke bibir atau sekadar memajang produknya di lapak-lapak,” ujarnya saat ditemui di kediamanya Jumat (24/9).

Makanya, lanjut wanita berhijab itu Lembaga Peneliti dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UHO hadir memberikan perhatian kepada pelaku UMKM di Kota Baubau dengan melakukan telaah persoalan pengembangan UMKM, pemasaran, dan produksi. Sebab, pendampingan serta pelatihan pemasaran dan promosi menjadi bagian yang tak boleh dilepaskan dalam membangun ekosistem UMKM di Indonesia. Langkah tersebut harus dilakukan agar UMKM dapat naik kelas dan mampu menjalankan industrinya secara jangka panjang. “Caranya adalah memanfatkan platform dagang elektronik (dagang-el), media sosial dan menggandeng perusahaan penasihat pemasaran seperti Kaya.id,” ucapnya.

Ketua Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Kota Baubau itu mengakui beberapa langkah telah diajarkan kepada pelaku UMKM. Sedangkan korporasinya juga bakal menjembatani upaya tersebut dengan organisasi IPEMI, yang akan mempermudah pelaku UMKM menjual dan menawarkan produknya di platform digital.

“Harapan kami, UMKM ini pada akhirnya dapat go public. Sebab Indonesia ini memiliki banyak sekali pelaku UMKM, namun belum ada satupun yang mampu melakukan penawaran umum perdana di bursa saham. Padahal salah satu indikator terbaik dari UMKM naik kelas adalah ketika mereka bisa go public,” tutup dosen UHO itu. (ahi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *