Masuk Puncak Musim Hujan, Warga Kendari Diminta Waspada Banjir dan Longsor !

HEADLINE NEWS

KENDARINEWS.COM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Maritim (Stamar) Kendari mengimbau warga metro agar waspada terhadap potensi bencana banjir dan tanah longsor. Pasalnya, Kota Kendari pada interval Mei – Juni memasuki puncak musim penghujan. Kepala Stamar Kendari Sugeng Widarko mengungkapkan, untuk wilayah Kota Kendari dan sekitarnya dalam dua hari kedepan (7-8 Mei) masih berpeluang diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi tersebut berpeluang menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor dibeberapa wilayah kecamatan di Kota Kendari.

Curah hujan tinggi sambungnya, berpotensi terjadi di tiga kecamatan yakni Baruga, Poasia, dan Abeli. Namun, tidak menutup kemungkinan hujan juga akan mengguyur beberapa wilayah lainnya seperti di Kecamatan Mandonga, Puuwatu dan Kendari. Tingginya curah hujan di Kendari disebabkan meningkatnya suhu permukaan air laut yang menyebabkan peningkatan suhu kelembapan pada atmosfer diatas perairan. Hal ini mengakibatkan pembentukkan awan dan meningkatkan curah hujan dikawasan tersebut.

“Berdasarkan data statistik kami, banjir dan longsor sering terjadi pada Mei – Juni. Paling sering dibulan Juni. Saat itu curah hujan sangat tinggi yang menyebabkan luapan beberapa sungai seperti sungai wanggu. Untuk longsor yang disebabkan curah hujan tinggi itu berpeluang terjadi pada wilayah perbukitan atau lereng seperti di Puuwatu, Mandonga dan Kampung Salo (Kecamatan Kendari,” ungkap Sugeng.
Oleh karena itu, menghadapi puncak musim hujan saat ini, Sugeng mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan siap menghadapi potensi banjir maupun tanah longsor.

Merespon peringatan dini dari BMKG, Wali Kota Kendari H.Sulkarnain Kadir mengaku telah menginstruksikan jajarannya untuk bersiap mengantisipasi potensi bencana banjir dan tanah longsor. “Saya sudah instruksikan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) untuk segera bersiap dan melakukan upaya-upaya preventif mitigasi bencana. Mereka siap 24 jam melakukan pemantauan, pengawasan, hingga pertolongan jika kemungkinan hal buruk terjadi,” kata Sulkarnain Kadir. (b/ags)

Tinggalkan Balasan