Pengamat : Sektor Pertambangan Tumpuan Ekonomi Masa Depan Sultra

HEADLINE NEWS

KENDARINEWS.COM — Genap 57 tahun usia Sulawesi Tenggara. Umur yang sangat matang menuju daerah yang berkemajuan. Berada ditengah pusaran potensi sumber daya alam yang besar dan himpitan berbagai hantaman badai ekonomi, kesehatan, menjadikan Sultra menghadapi ujian berat. Butuh akselerasi dan sinergi seluruh sektor penggerak pemerintahan dalam membangun daerah.

Pengamat ekonomi nasional Abdul Rahman Farisi mengatakan, di usia Sultra ke-57 tahun menghadirkan kilas balik perjalanan panjang dengan segala dinamika zaman yang dilalui. “Eskalasi perekonomian di sektor pertanian, perikanan, dan pertambangan kedepan mesti lebih di stimulus optimal agar lebih merangsang pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Abdul Rahman Farisi usai diskusi Hybrid dengan tema 57 tahun Sultra capaian dan tantangan masa depan, Jumat (30/3).

Pada sektor pertanian, kata dia, salah satu yang menjadi fokus perhatian yakni meningkatkan produktivitas petani. Karena muaranya pasti mengarah pada peningkatan kualitas maupun kuantitas produksi. “Ketika produksi pertanian meningkat otomatis petani sejahtera, sama juga halnya dengan nelayan,” katanya.

Menurut Abdul Rahman Farisi, pembangunan infrastruktur mesti ditingkatkan efektivitasnya. Seperti menekan biaya logistik, menekan biaya angkut barang, dan menekan biaya mobilitas agar lebih optimal. Karenanya, Gubernur Ali Mazi, kedepan harus berpikir mengoptimalkan pembangunan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

“Sektor pertambangan merupakan sektor yang berpotensi besar sebagai tumpuan ekonomi Sultra di masa depan. Karena itu pengelolaannya mesti proporsional dan akuntabel,” pintanya

Sektor pariwisata juga perlu dioptimalkan. Salah satunya wisata Wakatobi, yang bisa dijadikan pintu masuk pariwisata nasional. “Selama ini sangat kurang kreativitas menggelar event wisata. Yang diperhatikan mendorong dan memanfaatkan penduduk lokal. Hal ini merupakan kesiapan yang sudah yang positif,” urainya.

Capaian pembangunan Sultra di usia 57 tahun, pemerintah dan masyarakat agar tidak cepat puas dengan prestasi yang telah di torehkan. “Setiap pejabat politik punya kewenangan dan tanggung jawab kepada masyarakat. Itu menjadi penting ke depan agar bumi anoa menjadi terdepan. Tidak hanya sekedar daerah yang menjadi gerbong pembangunan, namun bisa menjadi lokomotif pembangunan untuk Indonesia yang lebih maju,’’ pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Konawe Utara Ruksamin mengatakan, sejak masa kritis pandemi sepanjang tahun 2020, cukup memberi pukulan berat pada sektor perekonomian masyarakat. Khususnya sektor UMKM. Sektor yang dahulu sangat perkasa menghadapi badai krisis ekonomi, kini terguncang hebat akibat badai pandemi, Termasuk lertumbuhan ekonomi Sultra juga menunjukan angka menurun. Padahal sejak 5 tahun terakhir, ekonomi sultra tumbuh diatas rata-rata nasional.

“Tahun 2020 lalu bersamaan merebaknya pandemi, ekonomi Sultra sempat mengalami turbulensi diangka minus dan kontraksi sebesar minus 0,65% dibanding tahun 2019,” kata Ruksamin.

Bupati Konut dua periode itu menjelaskan, Sultra menghadapi situasi dengan meningkatnya jumlah penduduk miskin. Tercatat, jumlah penduduk miskin pada September 2020 sebanyak 317,32 ribu orang atau naik 15,5 ribu orang dibanding Maret 2020. Sedangkan persentase penduduk miskin pada September 2020 sebesar 11,69 persen naik 0,69 persen dari Maret 2020. Dampak tersebut juga terjadi di daerah pedesaan, dimana jumlah penduduk miskinnya dari Maret 2020 sampai September 2020 naik sekitar 19,21 ribu orang. Disektor ketenaga kerjaan pun mengalami masalah. Jumlah pengangguran pada Agustus 2020 sebesar 61 ribu 860 orang dibanding Agustus 2019. Data ini menunjukkan terjadi penambahan pengangguran sebesar 15.845 orang.

“Termasuk tingkat pengangguran terbuka (TPT) meningkat sebesar 1,06 persen dalam masa Agustus 2019 sampai Agustus 2020. Tempat yang paling rentan berada di wilayah perkotaan yang cendrung tinggi,yaitu 6,74 persen pada Agustus 2020. Sedangkan dipedesaan hanya berkisar 3,44 persen,” bebernya.

Kendati demikian, Ketua DPW PBB Sultra ini menilai titik pembangunan di Sultra telah mencapai kemajuan sejajar dengan daerah-daerah lain, walaupun beberapa indikator masih ada yang tertinggal. Sebagian kemajuan yang patut disyukuri, yaitu, Sultra masuk kategori aman dari semua gangguan kamtibmas, kecuali gangguan kriminal biasa. Keberhasilan tersebut membuat ekonomi daerah ini tahun 2020 yang lalu masih relatif lebih baik dibanding nasional, yakni minus 0,65 persen dibanding nasional yang tercatat minus 2,07 persen. “Capaian ini menunjukan bahwa aktivitas perekonomian masih sanggup memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup masyarakat,” tandasnya. (ali).

Tinggalkan Balasan