Sultra Beriman, Oleh : La Ode Diada Nebansi


KENDARINEWS.COM — Bagus sekali tagline ini. Bagaimana jadinya jika daerah itu benar-benar beriman. Sebagai daerah yang mayoritas muslim, saya membayangkan, Seleksi Tilawatil Quran dan Hadist (STQH), tidak hanya diikuti kelas santri-santriwati binaan pondok pesantren atau pondok hafidz tetapi, juga akan diikuti banyak kelas. Misalnya, kelas eksekutif, kelas legislatif, kelas yudikatif. Oww, hampir lupa, kelas pengusaha tambang juga bagus diikutkan.

Tujuannya apa? Ya, disamping untuk mengokohkan sebagai daerah beriman tadi, juga untuk tarbiyah bagi para pelaku bernegara, pelaku berusaha, dan pelaku-pelaku lainnya. Tarbiyah dalam hal keimanan, tentu, hal-hal yang menjadi kekhawatiran dalam bernegara, berpemerintahan, bermasyarakat akan dapat ditekan.

Contoh, ketika kelas wartawan yang tampil, maka hakim meminta wartawan untuk membacakan Al-Hujurat ayat 6. “Wahai orang-orang yang beriman, jika seseorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan dan kecerobohan. Yang akhirnya, kamu menyesali perbuatanmu itu”. Wartawan yang membaca ayat ini, saya punya keyakinan, ia akan sadar untuk tidak membuat berita hoax.

Contoh lagi. Jika kelas Tukang Demo yang diturunkan untuk ikut STQH, saya punya keyakinan, dewan juri akan meminta para tukang demo untuk membaca Al-Hujurat ayat 2. “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi. Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap yang lain nanti segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari”. Ih, ngerinyae. Ternyata, berteriak saja bisa berdosa. Bagaimana lagi jika berteriak dengan toa? Ingka bisa dobol dobol dosanya. Itupun dengan satu kali teriak. Bagaimana lagi kalau berteriak-teriak?

Contoh lain lagi. Ketika giliran para Pengusaha Tambang yang tampil, dewan juri meminta untuk dibacakan Al-Baqarah ayat 11. “Dan apabila dikatakan kepada mereka, Janganlah berbuat kerusakan di Bumi, mereka menjawab: Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan”.

Juri lalu meminta disambungkan dengan Al-Fajr ayat 9-14: Dan terhadap kaum Samud yang memotong batu-batu besar di lembah. Dan terhadap Fir’aun yang mempunya pasak-pasak bangunan yang besar, yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri. Karena itu, Tuhanmu menimpakan cemeti azab kepada mereka. Sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi”. Kayanya, untuk kelas ini, bisa juga diikutkan para petugas AMDAL yang memberi rekomendasi di atas meja tanpa turun lapangan. Kenapa petugas AMDAL dan pengusaha tambang disatukan? Ya, agar mereka tahu, jangan sampai yang dimaksud Al-Fajr ayat 9-14 itu adalah kita-kitami ini.

Contoh terakhir. Dewan juri STQH meminta kelas Eksekutif, Legilastif dan Yudikatif digabung jadi satu dengan bacaan Al-Kahfi ayat 70, 71 dan 79 menyangkut kisah Nabi Musa dan Khidr. Dia (Khidr) berkata, “(70) Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya kepadamu. (71) Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar”. (72) Dia (Khidr) berkata, “Bukankah sudah ku katakan, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?” (79) Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut. Aku bermaksud merusakannya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu.”

Kenapa juri meminta dibacakan Al-Kahfi 70, 71, 72 dan 79? Kira-kira, dewan juri menginginkan agar setiap produk perundang-undangan dan keputusan hukumnya tidak tumpul ke atas.

Jika anda ingin membuat sebuah peraturan daerah, maka buatlah untuk kepentingan kemaslahatan rakyat, jangan membuat produk aturan yang menguntungkan pihak raja yang akan dilalui perahu yang dibolongi. Jika anda memutuskan hukum, maka bertindak adillah kamu. Jangan membuat keputusan hukum yang mencederai rasa keadilan. Karena itu, dengan meng-tilawah-kan para pihak kira-kira akan lahir kesadaran bahwa kewenangan yang disewenang-wenangkan ternyata ada azab Allah yang menanti.

Sultra beriman. Tagline yang ringan dibaca namun berat dijalankan. Tetapi, ketika yang meng-tilawah-kan itu merasuki relung sanubarinya, yakinlah akan muncul kesadaran untuk tidak mati-matian mengejar harta dan tahta karena takut azab.
Lihatlah rumah dan kebun orang tuamu yang diawal pembangunannya sampai-sampai menghambat orang tuamu untuk berbuat kebaikan di tempat lain. Kesibukan membangun kebun dan rumah, hingga orang tuamu lalai ke tempat ibadah.

Sekarang tengoklah, di mana kebun itu dan di mana bangunan rumah itu. Orang tuamu telah meninggal dan kebun itu sudah jatuh di tangan developer. Orang tuamu telah meninggal dan rumah itu telah jatuh di tangan orang lain.
Lalu, apa arti di awal pembangunan menghambatmu ke tempat ibadah, menghalangi waktumu untuk berbuat baik kepada orang lain kalau ternyata di belakang hari bukan lagi milikmu? Itu kejadian di orang tuamu.

Turunkanlah setingkat kepada dirimu yang kini tengah membangun kebun dan rumah gedongan. Di benakmu, rumahmu adalah rumah dan untuk anak cucumu. Ternyata, dengan kejadian orang tuamu, yang dahulu juga berpikir untuk kamu (anaknya) dan anak-anakmu (cucu-cucunya), ternyata hanya dengan satu keturunan, kebun dan rumah itu telah berpindah tangan kepada orang lain.

Kata Al-Quran : Wamal Hayaatuddunia ila Mataul Ghuruur. (Kesenangan dunia hanyalah tipudaya). Orang tuamu meninggalkan warisan, seperti juga kamu meninggalkan warisan kepada anakmu. Giliran anakmu berdoa, tidak pernah mendoakan orang tuamu, seperti juga kamu tak pernah mendoakan nenekmu.

Lalu, kenapa harus terhalang untuk beribadah hanya karena harta yang akan anda wariskan? Lalu, untuk merusak lingkungan jika uang hasil dari kerusakan lingkungan itu hanya akan menjadi warisan? Artinya, kerusakan lingkungan dan penyelewengan hukum yang kamu lakukan hanya panen dosa, sementara harta yang diperoleh dari perbuatan merusak lingkungan dan menyelewengkan hukum juga tak bermanfaat bahkan rentan dengan menjadi malapetaka anak-cucu. Ngerinyaee. Makanya, wujudkan Sultra Beriman.(nebansi@yahoo.com)

Tinggalkan Balasan