Di Ambang Mutasi, Oleh : La Ode Diada Nebansi

Kolom

KENDARINEWS.COM — Kita mulai dari Konawe Kepulauan (Konkep). Di sana, relatif aman. Incumbent yang bertarung masih diback-up para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjabat. Mulai dari Eselon 4, 3 dan 2, semua nyaris tanpa ada keraguan untuk memperkuat Amrullah-Lutfi. Itulah sebabnya, hingga para pejabat ASN adem ayem saja di ambang mutasi. Artinya, di Konkep, mutasi dan tidak mutasi, sama saja. Itu-ituji orangnya. Kalau toh, ada, yaah, satulah. Ya, yang nekwan-nekwan, yang nekat melawan.

Kita melangkah ke Buton Utara (Butur). Woow, di sini agak panas dingin. Hitungan saya, 50-60 persen kemungkinan dimutasi. 50-40 persen lainnya, kemungkinan bertahan. Ini jika semangat pemutasian dilandasi dari balas jasa para pejuang. Tetapi jangan salah. Ridwan Zakariah sebagai pemenang Pilkada, tak memiliki talenta dendam.

Personalitinya, obyektif. Cara pandangnya jauh kedepan. Semua itu, untuk kepentingan, kemajuan dan kaharmonisan tanah leluhur. Buton Utara. Ridwan Zakariah yakin bahwa, pejabat yang tak berpihak kepadanya bukan berarti tak suka, tapi itu adalah performa pejabat yang loyal pada atasannya. Artinya, sekarang ia menjadi pemimpin di Butur maka para loyalis pimpinan itu juga sesungguhnya akan loyal padanya.

Tinggal ditimbang peluang dan tantangannya, ditimbang baik buruknya, ditimbang untung ruginya. Artinya, pejuang tak dikesampingkan, orang-orang yang loyal juga ditimbang matang-matang. Karena itu, dengan karakter Ridwan Zakariah, saya punya keyakinan bahwa 50-60 persen pejabat yang tak seperjuangan dengannya itu, hanya kisaran 30 persen akan terkena mutasi.

Kenapa tidak melakukan sapu bersih? Ya, itu tadi. Karakter Ridwan Zakariah yang bijak dan tak tegaan. Masih ada kata ” tidak tega” dalam pertarungan politik? Ya. Betul. Ridwan Zakariah memang tak mungkin lagi ke periode selanjutnya dan halal-halal saja melakukan sapu bersih mutasi. Tapi, tidakkah memperhitungkan begitu agung dan terhormatnya, kelak seseorang yang mandeg pandito dari jabatan?

Atau mungkin, masih ada peluang lain setelah menjabat nanti. Dan, ketika itu, tanggapan dan kesimpulan yang baik dari masyarakat Buton Utara akan menjadi modal besar, apakah itu untuk sosial kemasyarakatan, atau jenjang pemerintahan yang lebih tinggi, katakanlah: Wagub, misalnya. Ketua partai, misalnya. Tokoh berpengaruh di Butur, misalnya.

Hal lain. Kepentingan kader juga mutlak dipertimbangkan. Jika Ridwan Zakariah ingin kadernya berkibar setelahnya, maka tampilan di periode ini amat sangat menentukan. Karena itu, rawatlah orang-orang atau tokoh berpengaruh di Butur, apakah itu masuk gerbong atau luar gerbong dalam Pilkada barusan.

Kita melangkah di Kolaka Timur (Koltim). Bbboh, di sini ngeri-ngeri sedap. Mau disapu bersih dengan mutasi, akan menjadi lawan abadi. Tidak dimutasi, para pejuang bisa protes. Dimutasi, mungkin tokoh dan berpengaruh, tidak dimutasi biking saki hati. Bro, ini politik.

Cermati dan gantang baik-baik. Koltim itu adalah tempatnya para pendatang baru bertarung. Banyak yang sanggup. Banyak yang kelihatan biasa-biasa saja, tapi setelah tampil di pentas politik: bohamaaa, “gajah-gajah” paleng backingnya. Karena itu, sekali lagi, hitung dan gantang baik-baik. Seperti juga di Butur, bahwa pejabat yang tak seiring dengan perjuangan kita, yakinlah, bahwa mereka sesungguhnya adalah orang-orang loyal. Loyal pada pimpinan. Siapapun pimpinan, di situlah loyalitasnya. Karena itu, sekali lagi, hitung dan gantang baik-baik.

Kita ke Konawe Utara (Konut). Di sini, informasi dari pejabat Konut yang kalau saya ketemu di warung coto, pasti memberikan dua pengorbanan. Pertama, melempar senyum dan sapaan mengagetkan: bbeh, seperti kita janjian. Kedua, dia yang bayar coto. Bahwa, jauh-jauh hari Ruksamin sudah diketahui menang dan ini: pasti. Beh, kayak Tuhan kitaee. Bukan.

Saya ini keliling bahkan tidur di jalan. Saya tanya masyarakat, dan jawabannya, pulangmi Pak, nanti kita yang tidur di jalan. Di mana-mana kampung, begitu. Dalam hatiku: minimal 60 persen. Kalau toh bergeser, yaah, 59 persen. Mendengar ini, spontan saya jawab: Ah, salah-salah bisa 70 persen kemenangannya. Mendengar 70 persen, pejabat itu seketika: ayo tambah satu mangko lagi (cotonya).

Kita ke Muna. Woow, kalau di sini sudah baku tau-tau. Dan, sudah pengalaman. Dan, ketahuan. Biar bersembunyi serapat-rapatnya, pasti ketahuan. Dan, info dari kawan pejabat yang pendiam dan tinggi besar di Muna, disebutkan: ada pejabat yang terang-terangan melawan. Ada yang pasif, dan ada yang terpapar main dua kali.

Kita ke Wakatobi. Infonya, sekarang lagi musim barat. Keras ombak. Jammi dulu dibahas. Kita langsung ke kesimpulan saja. Bahwa dengan fakta Pilkada, terutama bagi para pejabat, apakah itu pihak yang menang maupun yang kalah, pastilah diliputi perasaan senang bagi yang menang dan galau bagi yang kalah. Untuk ini, saya ingatkan. Anda-anda yang mendapatkan undangan pelantikan tentu senang. Anda yang mendapat undangan nonjob, tentu galau.

Undangannya siapa? Undangannya kepala daerah. Agar kamu tegar, bandingkanlah ini. Diinfokan non job karena perbuatanmu oleh kepala daerah, kamu takut. Diinfokan neraka karena perbuatanmu oleh Allah, kamu acuh. Takut siapa, takut Allah atau takut Bupati? Diinfokan jadi pejabat karena perbuatanmu oleh Kepala Daerah, kamu senang. Diinfokan surga karena perbuatanmu oleh Allah, kamu tak sambut dengan riang gembira. Kohargai siapa, Allah atau Bupati. Jangan malas nanti saya nonjob, kamu kemudian rajin. Jangan main judi nanti saya kasi masuk neraka, kamu jusrtu urut kartu dengan serius. Jangan lakukan itu karena dilarang Allah, kamu jawab: masalahnya yoker cari teman bela.
(nebansi@yahoo.com)

Tinggalkan Balasan